label. sebuah penanda.
entah, saya suka sekali membikin label. membikin tanda. dan, tanda itu hanya satu. seperti meninggalkan jejak atas ingatan kecil.
mm … seperti label yang saya tempelkan pada bumbu masak. blackpepper. garam. lada. pala. garam. kunyit bubuk. cengkeh. tujuannya, supaya tidak keliru, maunya membubuhi masakan dengan blackpepper eeeh, kok jadi membubuhi dengan kunyit bubuk.
tapi kali ini bukan tentang masakan. tetapi, tentangnya.

seperti pada tokiko onose. iya, ‘lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah itu’. begitu saya melabelinya. atau, ‘lelaki dengan senyum seringan kapas’. ya, ya, ya. saya begitu mencintainya. amat sangat.
sebuah rasa penasaran muncul. pada seseorang yang entah namanya siapa.
seorang wartawan yang saya jumpai dalam sebuah perjalanan singkat di jogja. pada seorang kawan, saya bercerita tentang ‘laki-laki dengan senyum sehangat senja jakarta sore itu’. atau, ‘laki-laki yang senyumnya mampu mengerek kereta bima hingga ke jogja’. dan, teman saya mual mendengarnya.
saya juga pernah melabeli seseorang dengan: ‘laki-laki dengan mata menggaris’. hahahahaha …
dan saya kebingungan melabeli satu laki-laki ini. laki-laki yang meninggalkan gurat sejak kami berseragam abu-abu putih. saya kebingungan menjejerkan kata yang tepat untuk melabelinya. bahkan, perjumpaan yang sering belakangan ini, semakin membingungkan saya untuk membubuhinya dengan label spesial.
ada yang punya ide?
Categories: Uncategorized
Tagged: jepang, jogja, label, renanda, teman, tokiko onose
mungkin ini hanya perasaan perempuan yang tak ada artinya. tetapi mungkin juga tidak.
“aku mau nganterin dia sampai depan gang saja, biar dia masuk sendiri lah ke rumah … males ketemu orang tuanya …” katanya. seorang teman laki-laki nggabur pasangannya di pinggir jalan. di jakarta.
ah, bagaimana hal ini bisa terjadi. seorang laki-laki yang mengharapkan pasangannya bersanding hidup kelak, tetapi malas berjejalin dengan kedua orang tuanya. harusnya bersyukur, masih ada orang tua yang bisa diajak berbincang. berbagi sore dengan menyeruput teh hangat. sembari mencuri perhatian dan penilaian baik. bukannya malah memungkirinya.
saya jadi ingat cerita lain yang membikin saya takjub saat itu.
belakangan, seorang teman mengantarkan saya pulang. seorang laki-laki, seorang teman baik. di jogja. ”aku anterin sampai dalam ya?” tawarnya. aih! jantung saya rasanya berhenti. saat teman lain menolak mengantarkan perempuan pasangannya masuk ke rumah, yang ini justru menawarkan saya untuk mengantarkan masuk ke rumah.
“thanks, tidak ada yang harus dipamiti, jadi tidak usah diantar masuk,” jawab saya.
dan, saya menyesal setelah menolaknya.
mestinya bisa mampir ke dalam rumah, dan menambal rasa capai usai berkendara jauh dengan secangkir cokelat hangat. bertukar tutur tentang bola sembilan dalam permainan biliar. atau, tentang sepeda.
hmm. mungkin lain kali.
tapi saya tahu persis, laki-laki satu ini care banget.
Categories: Uncategorized
Tagged: jogja, teman
kamar mandi paling jorok yang jamak saya jumpai adalah di stasiun kereta api tanah abang.

bukan hanya sampah yang berserakan di ujung kubikel kecil toilet, tetapi juga air yang tak lagi bening. sesudahnya, masih harus dipungut Rp 1000 untuk sekali masuk toilet. padahal jelas-jelas ada papan bertuliskan: toilet gratis.
saya beruntung mendapatkan toilet yang sangat nyaman di kantor. bersih. setiap beberapa jam sekali, ada mas-mas yang membersihkannya. membuatnya tidak becek. membuatnya wangi. *terima kasih*
hanya saja, satu dua pengguna toilet kantor agaknya belum terbiasa dengan kenyamanan ini.
bukan hanya satu dua sobekan kecil tisue putih yang berserakan, tetapi juga air yang ngecembeng becek di sudut toilet. padahal, ini toilet kering. juga, bekas tanda sepatu yang masih melekat pada dudukan toilet. juga, cipratan air yang belum dilap oleh pengguna terakhir. owh. shoot.
entah, bagaimana ini semua bisa terjadi. pengalaman dan kebiasaan, barangkali yang membentuknya.
Categories: Uncategorized
Tagged: jakarta, kantor
namanya ucil.
semalam kami berpesta untuknya. untuk kelulusannya. untuk kepindahannya. untuk segala kerja kerasnya. untuk jejalin yang tak merapuh. nyatanya dia melalui 3 tahun dari hidupnya di palmerah 224. dengan perempuan-perempuan pekerja.
“terima kasih untuk kakak-kakak semuanya …” katanya. pakaian merah jambunya yang terkesan ’sobek-sobek’ itu lucu, seperti tidak siap untuk dipasangakan dengan celana pendek kotak-kotak hitam nya.
dan semuanya bergembira.
bukan hanya mengantarkan ucil menanggalkan seragam abu-abu putihnya, tetapi juga sebentar memecutnya untuk hidup di jakarta. dengan segala keterbatasan. dengan kebutuhan untuk saling tolong-menolong. dengan reriungan yang hangat dengan orang-orang yang usianya bahkan dua kali lipat darinya.
ucil memang berbeda dengan dua teman lainnya yang juga tinggal bersama di rumah sewa ini. semuanya karena situasi yang ‘mepet’, ucil jadi rendah hati dan tak segan bertanya-meminta-meminjam apapun dari kamar tetangga. dan kami menjadi dekat. seperti adik sendiri.
bahkan ucil menjadi ‘manager kamar mandi’. owh!
dua kamar mandi untuk begitu banyak orang. “saat ucil dan teman-temannya datang, aku sampai berpikir, jam berapa aku harus mandi …” kata becca, semalam. gelak membahana. jam masuk kantor dan sekolah yang hampir bersamaan membuat antrian kamar mandi jadi lebih panjang.
tapi ucil mengaturnya menjadi lebih baik. lebih teratur. terima kasih.
rasanya tak pantas lagi memanggil ‘ucil’. namanya sekarang sudah sesuai nama aslinya; yossy.
Categories: Uncategorized
Tagged: jakarta, kos, palmerah, teman
“sudah selesai DL nya?” tanya abang.
“belum … males banget …” jawab saya.
“lha bagaimana nggak males, senin saja masih di perjalanan …” sahutnya, cepat. sialan.
rasa malas muncul tiba-tiba. ehm. sebenernya sudah seminggu belakangan. tapi biar sajalah. ada setumpuk alasan yang membikin saya malas. mulai dari tulisan yang editannya keliru, rasa capek usai edisi khusus, dan menjelang perputaran desk.
jadi, komplitlah.
tapi saya tahu, tulisan ini harus digarap. harus selesai. harus dibaca pembaca mulai jumat pagi nanti. jadi, saya harus bertahan ditengah rasa malas yang menumpuk ini.
Categories: Uncategorized
Tagged: wartawan