Archive for December 2007
2007: kubangan-kubangan kegembiraan
Tuhan, terima kasih. tahun 2007 sungguh meninggalkan kubangan yang bekasnya sangat berarti buat saya.
iya, tahun ini Dia membikinkan banyak kubangan kebahagiaan buat saya. tahun ini dibuka dengan munculnya buku yang saya bikin bersama kunto. ini bukan debut pertama membikin buku. sejumlah buku lainnya, melambai pelan pada buku yang ini: mengucapkan selamat datang pada buku ketujuh. lihat, poster besar terpasang di pinggir-pinggir jalan. potret wiranto dan prabowo ikut melambai ke arah saya.
terima kasih, kalian membikin saya menjadi lebih berarti. mas julius, kunto, fitri, ika, ijub, pras, andong, niken, mbak ida, mas nug, … masih banyak lagi. reriungan di pojokan kawasan tarumartani di jogja membikin tangan-tangan ini bekerja sesuai peruntukannya. menulis. menarikan jemari di keyboard komputer. menjejerkan aksara menjadi sebuah kata. sebuah kalimat pun meluruh perlahan. “ayah, ibu, buku ini buat kalian!” bisik saya pada ayah dan ibu, usai mendaraskan doa untuk mereka.
kubangan kebahagiaan lain juga datang di pertengahan tahun. perjumpaan dengan teman-teman baru dari belahan benua lain tak urung menambah daftar panjang sunggingan senyum di sepanjang 2007. kendati, saya harus membatalkan rencana untuk plesiran mengunjungi esti. tak apalah. kegelian, kemarahan, pelukan hangat, senyum ceria, tawa gembira, rasa sebal, muncul dari iranische strasse di berlin.
terima kasih, rasa penyesalan ini tak akan pernah muncul dari perjumpaan yang singkat itu. kunjungan singkat ke pabrik vw di hannover, mengintip frankfurt bourse, taruhan makan kaki babi di koln, mandi matahari di berlin … bahkan, potret kalian masih saya pajang di meja kubikel, di ipod, di komputer, di … saya berharap, bisa menjumpai kalian lagi kelak. olu, doris, jeevan, khan, judy, samuel, marian, dorah, angela, faraja, ibrahim, hans, holger, carsten, melanie, elke … dan masih banyak lagi.
kubangan kebahagiaan lain datang dari kubikel saya. humh. apa ya namanya. lulus magang. iya, lulus magang menjadi penulis. aih. menjadi penulis mah sudah dari dulu! tapi yang ini, penulis di pabrik kata-kata ini. kubikelnya sih masih sama. masih penuh dengan kertas dan penugasan, juga notes dan pulpen yang berserakan. bedanya, … mm … bedanya apa ya? ah, tak ada bedanya kok! saya tetap menulis. saya tetap menjadi buruh di pabrik kata-kata ini. tapi jelasnya, kartu tarot milik shanty sudah menegaskan status ini. horeee!
kubangan-kubangan lain dibikin Dia untuk saya. orang begitu banyak yang datang dan pergi. ada yang menggali kubangan, ada juga yang menutupnya. tak apa. saya sudah siap dengan orang yang datang dan pergi begitu saja dalam kehidupan saya.
kehilangan ayah dan ibu, pernah saya lalui. tak ada rasa kehilangan yang melebihi kehilangan orang tua, bukan? dus, kehilangan teman terdekat yang menjadi pasangan meriung bertahun-tahun, bukanlah hal yang terlalu sulit. hendra, novi, deon. memang, saya tetap harus melaluinya dengan proses. rasa kesal yang bertumpuk. merasa dibohongi. ditelikung. humh. apa lagi ya?
tapi bukan femi kan kalau menyerah begitu saja? kubangan kesedihan ini Dia sulap menjadi kubangan-kubangan kegembiraan yang berlipat-lipat. orang-orang baru. teman-teman baru. reriungan baru. Dia mengambil satu teman baik saya, tapi Dia juga menggantinya dengan puluhan, bahkan ratusan teman yang baru. thomas, shanty, mario, teman-teman sepeda lipat id-foldingbike … dan masih banyak lagi.
terima kasih ya, atas jejalin yang tak putus-putusnya yang Kamu berikan untuk saya. saya harus mensyukurinya.
kubangan kegembiraan juga datang di ujung tahun. lelaki berpjamas kotak-kotak datang kembali. membungkus hatinya yang sudah lumer terpanggang rasa rindu yang menahun. kami berharap bisa beringsut pelan, berbarengan (kembali) memulas birunya awan dengan kelopak tawa dan butiran bening bahagia.
tahun depan?
semoga ada begitu banyak kubangan yang Dia tinggalkan untuk saya. apapun itu.
merencanakan perjumpaan
sejak kemarin jakarta basah. hati saya juga basah.
bukan, bukan. saya tak sedang sedih. sebaliknya, saya sedang bergembira. tak bisa manyun, kecuali sedang serius merampungkan tulisan sebelum deadline tiba. tak bisa mrengut, kecuali saat tali putih pucat sleeping bag terlilit di roda kursi di kubikel ini. tak bisa mengerenyitkan dahi, kecuali saat mengetahui narasumber sudah kabur untuk plesiran. saya tak sedang sedih. saya sedang bergembira.
kalau hujan tahu, tentu ia akan semakin rapat mengucurkan airnya dari langit. membasahi hari saya. mencoba menghitung hari. membasahi hati saya. menghitung mundur sebuah perjumpaan kecil. hujan akan membiarkan hari dan hati saya adem. meski pucat di langit, tapi dingin. barangkali, sedikit lembab.
saya memeluki setiap orang yang saya temui. saya menarik bibir saya keatas. ceria. iya, saya gembira. seminggu lagi. ummmm … sepuluh hari lagi, reriungan itu terjadi. semoga. saya bercerita pada beberapa orang. saya mengurus surat cuti. saya menjelajah ke ruang maya untuk mencari kursi agar bisa terbang dengan si burung besi. saya memeluki setiap orang yang saya temui.
saya gembira. lebih dari sekadar gembira, saya bahagia.
“kamu tanggal 3-4 januari ada dimana? kalau ada waktu, mau main ke padang? aku mungkin sudah ada di padang,” katanya dalam surat elektronik yang ia kirimkan, saat butiran air merintik membasahi dedaunan di halaman depan. haiyh. dia pulang! lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah itu akan datang.
saya nyaris tak pernah mengharapkannya pulang. putus asa. iya, capek berharap. letih menyandarkan keinginan untuk berjumpa. ah, nanti juga pulang. “aku nggak berani janji bisa pulang. nanti aku bilang mau pulang, tapi ternyata nggak bisa pulang lagi seperti dulu,” katanya, beberapa waktu lalu. iya, iya. januari yang basah, agaknya ia memenuhi janjinya untuk pulang.
januari nanti, tabungan rindu empat tahun ini akan kami pecah.
saya bingung menyiapkan perjumpaan kecil nanti. merapikan cuilan-cuilan hati yang berserak di dalam koper di atas lemari. belakangan, saya rajin menyiraminya. dengan gelak tawa. dengan sunggingan senyum. dengan harap-harap cemas. dengan kerenyit di dahi. dengan sesak tangis. dengan kerinduan yang kian membuncah. hujan juga membantu saya menyirami cuilan hati ini. BB membantu saya menyuburkan tanaman cinta ini.
sejak semalam, saya menjumput hati yang tersimpan di koper selama empat tahun. segepok surat, kartu pos, kado ulang tahun, hadiah tahun baru, cerita-cerita kangen, bualan tak penting, cerita remeh-temeh. mereka masih utuh. sebagian lain saya temukan di kotak yang saya titipkan pada epoy. sebagian lain saya simpan di kotak hitam di locker kantor. ah, ada dia dimana-mana.
saya mencoba memasukkan csl dalam koper merah. saya menghitung pakaian yang akan saya kenakan. cardigan oranye. cardigan hitam. tank top abu-abu. kalung batu. gelang cokelat. mengepaskan sandal yang akan saya pakai. teva. etienne aigner. memilih celana yang akan saya angkut. celana pendek krem. celana panjang hitam. celana tujuh per delapan hitam. menghitung perkakas yang akan saya bawa. csl. ipod. laptop. tape recorder-notes-pulpen-kartu nama. aih. femi kecentilan!
tetep. saya tak akan me-mark up saya. saya mau berjumpa apa adanya saya.
femi yang menyimpan segepok kenangan. femi yang mengangkut sekardus tabungan rindu. femi yang tak takut tersesat di halaman cinta yang baru. femi yang bersedia menggotong koper besar untuk perjumpaan yang sebentar. femi yang mengayuh sepeda dengan segenap keriangan. femi yang agak bawel dan sering memunculkan pertanyaan tolol. femi yang tak pernah bermimpi untuk langsing. femi yang takut tak bahagia. femi yang menjadi cuek dengan surat-surat elektronik di BB, musik di kuping dan buku di tangan. femi yang mudah menangis. femi yang tak takut saat bola raksasa melarut dalam gelap. femi yang senang menarikan jemari diatas keyboard. femi yang senang melibas rerintikan hujan.
dan femi yang menabung rindu dan menunggu empat tahun untuk perjumpaan kecil ini. lihat, celengan ini sungguh-sungguh sudah penuh. matahari juga sudah menyembul, kemudian bersembunyi sebentar, lalu berganti dengan hujan, dan langit menggelap untuk menunggu fajar yang basah. waktu sudah berputar. empat tahun.
Semoga cinta bisa dipahami dengan sebuah reriungan kecil, meski singkat. saling berbagi hati. berbagi mimpi. berbagi harapan. berbagi rencana hidup.
Tuhan, jadikan perjumpaan kecil ini nyata.
perpisahan jam 9.12
jam di handheld BB saya menunjukkan jam 9.12 saat saya masuk kamar lagi, usai mengantar epoy pindahan. kamar sebelah sudah kosong. epoy sudah pindah.
hiks.
sedih banget ada temen pindah kos. eh, bukan pindah kos sebenernya, tapi pindah ke rumah baru karena mau menikah. sejak dulu saya enggan mengantar kepindahan teman. bahkan, untuk epoy, saya sudah bilang padanya untuk tidak akan melihat dia pergi dari kos di hari terakhir. “aku tanggal 20 sudah enggak disini lagi, bablas langsung sampai tahun baru 2008,” katanya pada saya, suatu hari.
saya benci perpisahan. meski tak bisa menolak, tapi sungguh, saya tak ingin melihat orang memunggungi saya untuk pergi, sembari melambaikan tangan. saya tak ingin melihat orang mengatakan, “bye, see you later!” saya justru ingin dilimpekke, saya tak ingin melihat kepergiannya untuk yang terakhir. saya hanya ingin melihat dia sudah tidak ada. itu saja.
saya ingat betul bagaimana mengantarkan esti, kakak saya, ke bandara. saya akan melihatnya lagi tiga tahun yang akan datang. melihatnya memasuki pintu screening di bandara, uwh, butiran bening ini tak bisa berhenti mengalir. saya tahu dia harus pergi sebentar. tapi, saya sungguh tak ingin melihatnya punggungnya pergi menjauhi saya.
juga oluyinka, seorang teman dari Nigeria, yang lebih dulu terbang di pagi hari ketimbang saya. pagi-pagi, saya sengaja tak bangun lebih awal untuk mengatakan goodbye padanya. saya memilih meringkuk di kasur. eh, oluyinka justru mengetuk pintu kamar untuk memberi pelukan terakhir. mau tak mau, saya harus mengantarnya sampai depan, memberi pelukan hangat, melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. lagi-lagi, mata ini basah.
frank, seorang teman dari australia, harus pergi pagi-pagi buta. saya tak ingin mengantarnya ke bandara. saya ingin tinggal di kamar saja. “antar aku …” katanya. uwh. iya, saya antar. dan benar. rasanya sulit untuk mengangkat tangan, melambaikannya dan bilang goodbye. yang ada, sudut mata sudah membanjir, dan napas menjadi sesak tiba-tiba.
begitu juga pagi ini.
semula, saya mengira hari ini dia bakal sudah raib dari kamar sebelah. itu sebabnya, kepulangan saya ke jogja untuk merayakan natal saya bikin tanggal 21 desember dari Jakarta. tapi apa yang saya dapati semalam? tapi, ternyata tidak. pulang ke rumah, barang-barang epoy masih berserakan. keranjang sampah, alat mandi, sepatu, sandal jepit. duh. bahkan, tanggal 19 desember adalah malam terakhir dia menginap di kos. spreinya pun sudah ia gulung. tidur hanya beralas kain batik. aduh. saat mencuci belasan kaos di ruang cuci, epoy muncul. uwh.
“jam berapa besok pergi?” tanya saya pada epoy, semalam. “jam 8 pagi,” jawabnya singkat. maka pagi ini saya sengaja tak buru-buru bangun. udara pagi jakarta yang lebih adem dari biasanya, membikin saya agak betah di kamar. dan, saya ‘ingin lupa’ bahwa semalam adalah perbincangan terakhir di kos dengan epoy. saya juga ‘ingin tidak melihat’ kendaraan menculiknya dari kos ini. saya berharap saat bangun dia sudah pergi. tapi … ternyata jam baru menunjukkan pukul 7.53. asem.
saya bangun. menghampiri kamarnya. membantunya packing. “kenapa gue malah ngebantuin lo packing, poy?” seru saya dalam hati. sungguh, saya sedih. bukannya emoh membantu mengepak perkakasnya. tapi saya tak ingin menjadi orang yang melihat langkah kaki terakhirnya di kos ini!
“orang kan harus meninggalkan, fem. nanti, kamu juga seperti ini,” katanya, semalam. meski bijak, tapi terdengar klise. bisa jadi tulus. tapi, saya malah melihat dia hanya ingin menghibur saya saja. dia tahu, saya orang yang paling bersedih saat ini.
“ternyata orang hidup itu ada alurnya ya … bertemu dengan orang-orang, bersama-sama, kemudian pergi …” katanya lagi. dalam hati saya, ah basi. memang benar. tapi, jangan mencoba menghibur hati saya ah. mendadak frozen nih.
juni 2003, saya menjadi penghuni rumah sewa di palmerah utara II/224. kedatangan saya hanya selisih satu hari dengan epoy. sama-sama dari jogja. sama-sama di sekolah perempuan saat usia belasan. sama-sama menjadi penghuni baru di kos ini. saya tahu betul daerah boro, rumah asalnya. kedekatan emosional ini yang membikin saya dekat dengannya, lebih dari empat tahun belakangan ini.
kami gemar merumpi.
membincangkan tetangga kamar sebelah. membincangkan laki-laki nakal di rumah maya. membincangkan model pakaian yang harganya bisa bikin puasa sebulan. membincangkan makanan tradisional. membincangkan jogja. membincangkan santa maria, stella duce dan de britto. membincangkan atmajaya dan sanata dharma. membincangkan tas ratusan ribu dengan model berbeda.
kami gemar mencuci bersama.
malam, kami meriung di ruang cuci. jongkok berdua. berbagi air dan ember. juga, berbagi tawa. sambil merumpi tentang rumah kos dan fasilitas yang serba terbatas. tentang ember pecah dan berlubang. tentang jemuran yang tak kering-kering. tentang keran air yang susah dibuka dan ditutup.
kami gemar mojok di kamar uthe, kamar epoy, kamar saya, bahkan ruang tengah.
membagi gelak dengan teman-teman, sembari berbisik-bisik soal si anu dan si anu. menutup dengan cepat channel televisi yang menayangkan adegan mengerikan. berbagi makanan dan memutarkan ‘piala kedodolan’. menyimak cerita lucu ucil yang bikin berkerut (berarti nggak lucu ya?). mencari perbedaan kosakata jawa dan batak. duh.
besok tidak lagi. iya. besok tidak lagi. bisa jadi, malam nanti saya salah tingkah. sendirian di rumah sewa, tanpa epoy.
tapi, hidup harus jalan terus kan?
saya tahu betul, kelak saya juga menjadi seperti epoy. keluar dari rumah sewa. pindah ke rumah karena menikah. (amin, amin, amiiiiiiiinnnnnnn …) hanya saja sekarang harus mulai menyusun rencana: kapan bisa ketemu epoy ya? mungkin makan siang. mungkin belanja bareng. mungkin chat saja. mungkin berkirim email dan pesan pendek.
pagi tadi, saya emoh bersalaman dan ciuman dengan epoy. lihat tidak, kelopak mata ini ditahan agar tak mengedip. sekali mengedip, lapisan tipis air di atasnya akan meleleh. sambil menggeret gerbang, toh, kucuran butiran bening ini tak bisa ditahan. saya menangis.
teman. sahabat. kakak. “love you, sist. wish you luck!” tulis saya di pesan pendek yang saya kirimkan untuknya.
csl @ bandung
matahari sudah tepat diatas kepala saat gerobak gagah yang saya tunggangi turun dari lembang. sudah jam 11.30 siang.
jalanan mulus membikin gerobak ini menggelinding sangat cepat. kelokan tajam dilibas. sempurna. artinya, janjian dengan pak asep, si empunya serabi enhaii di bilangan setiabudi, bakal terpenuhi on time. catatan, pulpen, tape recorder. sementara, sejumlah pertanyaan sudah paten di kepala.
oops. serabi enhaii masih sepi. “bablas, bablas, ke FO dulu dah!” seru saya pada teman-teman, yang bakal membuang saya di pinggir jalan. saya turun persis di depan FO lafayette. tas saya cantolkan di punggung. saya menjinjing helm dan kaus tangan di tangan kiri, sementara sepeda lipat csl di tangan kanan. saya menyeberang dan memarkirkan csl di pintu masuk.
jadi ingat waktu lafayette homme and gourmet, dan juga lafayette maison di paris dulu, saat seorang parisian memamerkan bangunan yang konon dibangun tahun 1893 itu. ”ini multiple store untuk semua barang-barang branded, dan ini jadi trendsetter dunia lo!” serunya. halah. tapi lafayette di bandung ini jauh dari les galeries lafayette di paris! uwh, please deh.
putar-putar sebentar, rasanya cukup untuk membuang 15 menit di kedai baju ini. saya kemudian membuka lipatan sepeda. beberapa puluh pasang mata menatap saya. duh, kok saya jadi kepedean begini ya. saya genjot pelan, naik ke atas ke arah lembang.
uwh. speed 4 saya naikkan. speed 3 saya naikkan. speed 2 saya naikkan. masih saja berat. jalanan tak cukup datar untuk ban mungil 16″ milik saya. roda sepertinya enggan beranjak dari putaran terakhir. hmh. sementara, kedai serabi enhaii masih jauh. tolong!
saya terus mengayuh. wajah sudah mulai memerah. saya berhenti di sebuah kios kecil untuk membungkus aqua botol. mm … sebenernya sih tak butuh air. hanya ingin sebentar bernapas. baru berjalan sekitar 300 meter dari lafayette. perjalanan masih sekitar 800 meter lagi dari terakhir saya mengistirahatkan si csl.
lima puluh meter dari kios terakhir, saya berhenti, mengamati mikrolet hijau ke arah ledeng. kok banyak yang sepi penumpang. baguslah. origami sepeda dimulai. saya melipat sepeda lipat. hasilnya, saya mengayunkan tangan pada sebuah mikrolet hijau, saya naikkan csl ke dalam mikrolet. tentu saja, beserta saya di dalamnya. horeeee! napas saya batal habis.
saya melewati serabi enhaii. hmm. sudah ada orang! tu, pak asep juga sudah kelihatan dari kejauhan. “pinggir-pinggir ya a’ …” seru saya pada si supir mikrolet. saya turun persis di depan terminal ledeng. rasanya cukup untuk menggelindingkan si roda mungil.
whuszzz … csl melaju kencang. dari terminal ledeng ke serabi enhaii.
“dari mana teh?” tanya seorang bujang priangan. saya menjawab kalem dengan jawaban yang (tentu saja) tidak salah, “dari lembang …” jelas kok. saya menginap di lembang. lembang-nya pun lembang pucuk. si bujang pun mengedip takjub. *ah, kena kamu!*
satu jam saja cukup untuk mengulik-ulik serabi enhaii yang menghabiskan 50 kg adonan dalam sehari, atau setara dengan 2500 porsi serabi. kalau sebanyak ini dibikin serabi coklat keju spesial dan dilepas dengan harga Rp 5.000 seporsi, wah … sesungguhnya pak asep saban hari sudah bisa beli dahon JS XP tuh! wakaka …
sepanjang wawancara, sepeda lipat yang saya letakkan di pinggir pintu, ditakjubi oleh begitu banyak pengunjung yang datang. ada yang memperhatikan bentuknya. ada yang lewat sembari tersenyum. ada yang kemudian duduk dan mencermati sepeda itu dari dekat. ada yang pegang-pegang. ada yang ngrasani. waduh. agaknya nggak tahu kalau si empunya sepeda ada di belakangnya persis.
saya jadi ingat semalam sebelumnya, saat saya bertandang ke suis butcher, juga di kawasan setiabudi. pas bergegas menjinjing sepeda lipat masuk ke dalam kedai, beberapa pelayan kedai berbaris di bagian dalam untuk menyambut tamu yang datang. eh, tapi kok saya bukannya diberi senyum selamat datang, malah mereka memperhatikan barang yang saya angkut di tangan kanan. malah, ada yang ketawa-ketawa kecil melihat ban mungilnya. cilaka.
humh.
percobaan di dua kedai di serabi enhaii dan suis butcher tersebut membikin saya makin pede menggenjot csl. asik asik asik! gowesan berlanjut ke rumah mode. *thanks god, jalanan menurun!*
rasanya ingin melambaikan tangan pada antrian kendaraan pelat B yang melintasi setiabudi. mereka mandek di jalanan menjelang rumah mode. yee, makanya pakai sepeda dong. bila perlu, pakai sepeda lipat! untungnya, saya bisa nyempil diantara kendaraan satu dengan yang lain, nyebrang ke rumah mode. tinggal di jinjing saja untuk nyebrang, dan disebrangkan dengan satpam. ah, seru juga rupanya.
“excuse me! excuse me!” seru suara laki-laki, dari arah belakang saya, saat memasuki pelataran rumah mode. saya udah siap mental jika diteriaki satpam. maklum, sudah menjajal di beberapa gedung di jakarta. tapi, apa iya sih saya punya tampang bule sampai ada satpam neriaki dengan bahasa inggris begitu. atau jangan-jangan satpamnya satpam bule? duh.
saya menghentikan gowesan saya. eh, dari kejauhan, seorang laki-laki jepang berlarian dengan membawa bungkusan belanjaannya. “dahon! dahon! dahon!” begitu menyebut-nyebut begitu sepanjang dia berlari. waduh. nama saya bukan dahon om, dahon ini merek sepeda lipat saya. nama saya femi.
“dahon di indonesia?” tanyanya dengan napas setengah terengah-engah. saya mengiyakan. dia kemudian ingin berbicara dengan bahasa indonesia, tapi kelipat-lipat mirip sepeda lipat tuh lidahnya. akhirnya kami berbincang dengan bahasa inggris.
dia tidak bisa menyembunyikan ketakjubannya ada sepeda lipat di bandung, persisnya di indonesia. dia pikir, sepeda lipat hanya ada di jepang saja. dia sangat mengenal baik merek dahon. konon, di negara matahari terbit, dia juga punya sepeda lipat dahon, yaitu speed P8. wah! “anti karat!” katanya. nah, doi ingin mencari speed P8 juga untuk digowes disini. maklum, dia bekerja dan tinggal di bandung.
dia juga semakin takjub saat ada stiker tempelan berbahasa jepang di bagian handlebar post. bahkan, ngeliatnya sampai jongkok-jongkok. juga, sambil mengelus csl saya. duh, untung bukan saya yang dielus ya. lebih lagi, dia makin terkejut-kejut saat saya cerita komunitas sepeda lipat di indonesia. “ada komunitasnya?” tanyanya. waduh pakde, ya ada dong. kemudian, berbusa-busa saya menceritakan komunitas sepeda lipat di indonesia. saya meninggalkan kartu nama saya untuknya. kalau-kalau ada orang jepang yang mau bergabung di komunitas id-foldingbike.
gowesan lanjutan ke vilour di bilangan dipati ukur. saya berkejaran dengan dua bocah yang mengendarai BMX dan MTB kecil. mereka justru mentertawakan ban mungil csl. sialan. kami bertiga beriringan menggelindingkan sepeda di tanjakan pannjang di kawasan siliwangi. huwmh. sampai di vilour, saya membungkus kaos anyar lantaran kaos yang saya kenakan basah.
pagi tadi, sarapan wajib adalah nasi bakar 15 yang cukup kondang itu. persisnya, ada di belakang gedung sate. menunggu bakaran nasi, tak urung saya mengeluarkan sepeda lipat dari gerobak dan nggenjot muter-muter gedung sate. syur banget menjelajahi kawasan superpadat cimandiri di minggu pagi. untung pakai csl. angkot mandek di lapangan gasibu, eh, jinjing saja untuk nyempil di area parkir. selebihnya, gowes lagi dong!
weits. tidak menyesal beli sepeda lipat. tidak menyesal bawa csl ke bandung. tidak menyesal gowes csl di kota kembang ini.
besok, ke mana lagi ya?
seni origami sepeda
saya melipat sepeda (lagi).
seni origami memang tidak bisa dibayangkan saja. harus dipraktekkan. melipat di satu sisi, menjumput bagian sisi yang lain. menekan perlahan di sisi sudut, dan memutar dengan cepat di sebelah pojok. coraknya tertata sempurna. tidak belepotan. ragamnya terpicing di sebelah sudut. sementara, ekornya menyisakan rupa yang luar biasa.
kali ini, saya memilih bikin lengkungan. tekukannya ada di tengah dan di bagian atas. lipatannya sederhana saja. dan, hasil lipatannya juga luar biasa indahnya. dominasi warnanya abu-abu gelap. garis lengkungan sedikit menonjol. jelas, hasil akhirnya juga sebuah lengkungan. lempitan satu di bagian tengah, mematahkan lengkungan. lempitan dua di bagian atas. hap. selesai.
sempurna.
iya, sepeda lipat Dahon Curve SL (CSL) ini sungguh sempurna. sesempurna lempitan sepeda lipat yang lain. memang, saya tengah melipat sepeda (lagi) usai si biru Dahon ROO D7. keduanya sama-sama melengkung. cantik. tepatnya: sempurna.
dalam situsnya, CSL ini disebut begini:
ultralight, only 9,9 kgs. the CSL does everything you’d expect it to as the top of the line Dahon commuter bike: fold in seconds, weigh next to nothing, and fold small enough to fit into a shopping bag. but where it really shines is how well it rides. revised frame geometry is reassuring stable. a custom SL version of the sturmey-archer 5 speed hub provides all the gears you’re likely to need on a commute. and schwalbe big apple tires are fast rolling, yet so smooth that you’ll be spoiled for life. slip a curve SL into an el bolso and you’ll be instantly mobile, anytime, anywhere.
boy membongkarkan bagasi kendaraannya. ini, CSL nya hendak dibuang. sayang ah. lipatannya masih bagus. batangannya masih kokoh. sini-sini, saya pungut.
barteran sepucuk amplop cokelat dengan sepeda lipat ini di warung kopi daily bread, kuningan. seru juga. selorohan datang silih berganti saat sepeda lipat ini digelar di koridor depan. “you ride it or just display it?” jawil teman boy, yang kebeneran lewat. aih.
seorang perempuan muda agaknya ingin diratjoen. “lucu ya sepedanya, bannya kecil. bisa dilipat lagi. bagus buat olahraga ya. anda yang jual? boleh minta kartu nama?” sedap banget.
dua jam sesudahnya, CSL saya gowes. ban kecil. menggelinding pelan. kuningan-kebayoran lama via gatot subroto dan pasar palmerah, lumayan lah. gerah. lihat, wajah saya mulai memerah. sesekali, celana abu-abu yang kedodoran ini nyangkut di wadah minum. *aduh boy, kenapa wadah minumnya ada di tengah sih?*
saya terus menggowes. di kantor, langsung saya usung ke lantai dua dan saya lipat. saya letakkan persis di sebelah jendela bagian luar. seni origami sepeda dimulai kembali. sepeda lipat. folding bike. csl. 16″.
(ps: terima kasih boy untuk boleh melipat csl ini. ngomong-ngomong, udah banyak yang sirik nih! )










