Archive for December 12th, 2007
siulan yang tidak mutu
pernah mendengar siulan yang tidak mutu?
saya pernah. bahkan, hampir saban hari saya mendengarnya. siulan itu muncul dari bibir seorang teman. tak indah. tak merdu. tak enak di dengarkan. saya sangat ingin mencubit bibirnya saat sedang bersiul. uwh. saya jahat sekali ya? tidak, tidak. saya hanya gemas saja kok.
sepertinya, teman saya ini sedang belajar bersiul. tapi entah, empat tahun ini, siulannya tetap sama saja. begitu-begitu saja. tak membentuk sebuah tiruan lagu tertentu atau genre musik tertentu. sepertinya asal bunyi saja. ketidakmerduan itu muncul dari jepitan bibir dan giginya. entah, kenapa suaranya jadi jelek begitu.
siulan itu diperdengarkan pada pagi hari, tapi kadang juga siang atau malam hari. selepas dari kamar mandi. hendak menuju ruang makan. saat akan pulang. humh. terus saja bersiul, seperti menyiulkan tabuhan gendang dari negeri antah berantah. siulannya adalah suara tersumbang yang pernah saya dengar. bisa jadi, kentut saya jauh lebih merdu ketimbang siulan yang muncul dari mulutnya.
barangkali, di rumah ia tak terbiasa memelihara burung. dus, tak ada sarana latihan bersiul sambil metheti burung. tapi, teman-teman yang lain tak memiliki burung pun tetap bisa bersiul dengan suara indah. jadi, kalau ada burung, bisa-bisa burungnya terbang terbirit-birit karena siulan yang tak merdu itu otomatis membuat sayapnya terkepak … ngacir.
tapi tak ada aturan yang melarang orang lain bersiul, bukan? jadinya, saya kini memilih memasang earphone di kuping saya. ditanggung, jauuuuhhh lebih merdu ketimbang bibir manyunnya yang gagal mengeluarkan siulan indah.
dani was here
daniwuzheer. dani was here. dwh!!!
dani sunngguh-sungguh pernah ada di sini. meninggalkan jejak. meninggalkan bayang. sekelebat saja. laki-laki ceking dengan celana pendek, kaos oblong, jumper, dan sneakers berkauskaki pendek. sesekali kepalanya terangguk-angguk, seperti ada band musik yang sedang konser di dalam kepalanya. padahal, tidak ada kabel yang melilit kupingnya. mengerenyitkan dahu, terangguk-angguk, kemudian tersenyum kecil.
ia tak banyak bicara. hanya kalau ditanya. atau, kalau memang sungguh menarik buatnya. “ganti ban, kenapa?” tanyanya pendek. “memangnya ban sepedamu kenapa kok harus diganti?” sambungnya. perbincangan ini terjadi malam hari, sekitar tiga minggu lalu, saat chris, abang saya, datang untuk menggantikan ban sepeda saya. dani nimbrung.
ban sepeda kami sama. 20″, maxxis. chris membungkuskan sepasang untuk saya. “tadinya gue mau beliin yang kayak ban-nya dani itu, yang ada kembangan, tapi ini aja deh,” kata chris sambil menunjuk sepeda BMX punya dani. beberapa hari sebelumnya, saya dan dani juga sempat berbincang soal ban maxxis. soal harga, motif, ukuran, dan kenyamanan.
“kamu beli berapa? pasarannya sih Rp 70-80 ribu,” katanya, saat saya menyambangi kubikelnya. dani memamerkan beberapa ban sepedanya pada saya. stoknya banyak. juga, beberapa perkakas sepeda BMX yang masih pretelan. kok nggak dirangkai? “nanti, masih ada yang kurang, masih nunggu barang,” jelasnya. dan kami masih berbincang soal sepeda.
beberapa minggu sebelumnya, dani menawarkan sadel selle royal pada saya. “pakai aja, aku masih ada kok, itu kelebihan,” katanya, sambil menyodorkan sadel gel tipis pada saya. dani menawarkan untuk memasangkan pada sepeda lipat saya. malam-malam, malas ah. huwh. sadel tipis. meski empuk, agaknya tak cukup nyaman untuk pantat saya. seminggu sesudahnya, saya mengembalikannya. “dan, ga cukup buat pantat gue!” seru saya. dia ketawa saja. sialan.
saya sempat bercerita padanya soal sepeda BMX kuning yang mejeng di Kota, saat ada car free day, beberapa waktu lalu. ia tak berkomentar, bahkan tak bergumam sedikitpun. ia malah balas mencermati sepeda BMX silver yang terparkir persis di depan ruang bicara kami.
wajahnya tirus. wajahnya tak pernah manyun, setidaknya pada saya. dani selalu membawa pensil, penghapus dan kertas yang dialasi dengan buku tebal atau papan. menggambar di lobby kantor, halaman samping, kamar mandi, ruang makan. “kenapa penghapusnya dibikin runcing?” tanya saya, beberapa waktu lalu, di halaman samping. ia menghentikan coretannya di kertas putih, dan menjelaskan penghapus yang dibikin runcing itu. “Ini biar menghapusnya enak, makanya harus runcing. tapi ya harus diserut terus.”
saya bangun dari kolong kubikel, sering mendapati laki-laki 29 tahun ini sudah mondar-mandir persis di depan kubikel saya. membawa kertas dan pensil, atau malah tidak membawa apapun. kadang mukanya kucel. kadang dengan kantuk yang amat sangat. kadang biasa saja. kadang bugar. malam hari, saat saya masih terjaga ngoprek tulisan, ia juga masih membawa kertas dan pensil. malam-malam di ruang makan, saya sering mencuwil roti bakar keju dengan meisjes miliknya. gurauan yang tidak mutu sampai yang saru, menemani obrolan kami. sampai larut. sampai kelopak saya menyerah. sampai saya memilih masuk kolong. dan dani masih asik dengan gambarannya.
tapi dani memilih mati muda.
semalam, di rumah sakit marzuki mahdi, bogor. instalasi napza di rumah sakit nan singup itu sudah mengantarnya pulang pada Si Pemilik Hidup. 18.55, 11 Desember 2007.
dwh!!! dani was here. laki-laki. 29 tahun. ilustrator. sepeda BMX. lakon komik. es jus.
(ps: dani, saat gue nulis ini, barangkali raga lo lagi ditimbun dengan tanah. selamat kembali ke tanah. semoga jiwa lo tetap bisa mengayuh sepeda di surga.)










