Archive for January 2008
eloprogo
tempat ini seperti surga di dunia.
eeh, saya sih belum pernah mengintip surga yang tidak ada di dunia. tetapi mencuri dengar tentang keindahannya, bisa jadi sama dengan yang ada di sini. eloprogo.
ini adalah rumah seni milik seniman Soni Santoso. patung batu di bagian depan menjadi penanda pintu masuk ke kawasan seluah satu hektar ini. “itu Beti, istri saya yang sudah meninggal,” katanya sambil menunjuk patung batu dengan bentuk wajah manusia. cantik. patung itu dibuatnya dengan berkongsi bersama perupa lain. “itu belum selesai, maunya masih ada patung lain yang lebih kecil nanti,” imbuhnya.
selebihnya, rumah-rumah yang didesain sendiri oleh soni. jejeran batu bata yang rapi. tanpa plester. tanpa cat. telanjang begitu saja. lantai semen. lantai bebatuan. lantai kayu. adakah yang lebih menarik ketimbang rumah seniman? saya rasa tak ada. ini adalah salah satu diantaranya. rumah seniman yang nyentrik. hunian yang dekat dengan alam. rumah tinggal seperti surga.
tak ada satu ruang tamu. dimanapun bisa menjadi ruang tamu. lihat, ada ‘meja dan kursi’ dari batu alami yang dionggokkan begitu saja. dari sini, bisa melihat aliran kali elo dengan bebunyian aliran sungai. di sekitarnya tak ada pajangan guci atau kembang. yang ada, ilalang dan rumput yang tumbuh meliar.
memijak lantai semen, diatasnya adalah kamar soni. “ini kamar saya …” pamernya. sederhana. sebuah ranjang kayu tua berwarna dominasi hijau, dengan selimut merah menyala. lampu menguning membuat ruangan terasa lebih hangat. lihat, ada begitu banyak kerang. sebagai pembatas ruangan. sebagai pajangan. ada juga yang berbaris rapi di anak jendela.
bathub dan wc marmer agaknya melengkapi rumah seni ini menjadi kian nyeni. “nggak usah dihidupin lampunya, nanti dari sini keliatan …” selorohnya, dengan sedikit mengingatkan. aih. benar juga. tidak ada pintu kayu, besi maupun plastik. hanya selembar kain saja sebagai penghalang penglihatan ke kamar mandi ini. apalagi, jendela transparan akan membuat siapapun yang berada di dalam toilet menjadi tak tersamarkan.
sebuah jembatan kayu menghubungkan antara kamar soni dengan teras samping. ayunan jejaring tali dengan pengait di setiap ujungnya. bersantai di ayunan sembari menunggu gagasan yang muncul dari balik manggar buah pisang, sepertinya menarik juga. iya, manggar yang agaknya sudah sulit dijumpai di pohon-pohon pisang di kota besar, di eloprogo masih berbiak dengan suburnya. merah. berdaging. enak dibikin gudeg.
batik-batik lawas maupun baru menggantung sempurna di sebagian dinding ruangan. terjalin rapi. berbaris. berderet. tertib. ada di kamar mandi. ada di ruang tengah. ada di bagian depan kamar soni. duh.
dan kami terus berbincang. membaca tarot. teh-jahe-serai menemani obrolan kami. ditambah, red label yang tinggal separo. juga dua kantong pothil, sisa criping talas dan dodol picnic. kami membincangkan keluarga, kliklik dan klukluk, made joni dan made mini, kalkun romeo-juliet, puluhan kucing, pekerjaan, queen of south, putri-putri yang menemani eloprogo, dan mimpi-mimpi masa depan.
hommy. saya makin hommy dengan eloprogo. dengan tanah. berkerikil. berbatu. tetumbuhan liar. galeri lukisan. panggung seni.
senang rasanya bertelanjang kaki di eloprogo. saya tak ingat, kapan terakhir bertelanjang kaki di tanah. halaman rumah di jogja sudah berkonblok, kecuali kebun ayah. kos dan kantor, juga tak menyisakan tanah secuilpun untuk berlarian. dibawah belasan pohon kelengkeng dan rambutan, saya berlarian. riang.
saya berlarian menuju pinggir sungai. dari atas, saya bisa menelan indahnya sungai yang berjalan menderas. pagar halaman dengan belasan pohon kelengkeng dan rambutan ini adalah tetumbuhan singkong, ilalang liar, pohon pisang, jati kecil dan pohon salak. tapi, saya masih bisa mengintip keruhnya sungai Elo.
keriangan ini menjadi berlipat saat lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah memecah celengan rindu selama seminggu. dan tiga jam menjadi cuilan waktu yang menyenangkan. di halaman tanah berkerikil dengan tetumbuhan liar, dengan gemericik aliran sungai Elo, kami memecah rindu. tiga jam.
terima kasih, sudah boleh menyegarkan jiwa di surga dunia ini.
telepon cinta
rasanya lama sekali menunggu jam 7 malam. sabtu, 19 januari 2007.
langit biru kian menggelap. jarum jam yang panjang juga sudah berputar terus ke kanan, dan terus ke kanan. tetapi jarum jam yang pendek tak juga menuju pada angka tujuh. perbincangan dengan teman-teman juga kian adem. earphone iPod sudah dipasang. michael bubble, lee ryan, keith martin, james blunt bahkan sudah menemani saya menghabiskan sore. tapi jam 7 tak kunjung datang. huwks.
si batang rambutan.
aih, sejak kemarin siang dengan gurauan soal sekeranjang rambutan cinta membuat saya ingin segera berbincang dengannya. tentang rasa rindu. tentang tabungan kangen hingga bulan sembilan. tentang eloprogo. tentang energi yang tak ada habisnya. tentang … banyak hal!
saya melayangkan sapaan cinta untuknya. saya memejamkan mata. berharap jam 7 segera datang.
mandi! aha … tak berjumpa dengannya tak apa. menyingsingkan anak rambut sejenak. mendengarkan suaranya. mungkin nanti butuh satu atau dua jam. rasanya, perlu juga mandi. menyiramkan butiran bening air eloprogo. wangi! segar! dia tak membaui tak apa. tapi angin akan mengabarkan bau wangi tubuh ini hingga ribuan mil jauhnya. iya, lewat angan. lewat rasa. lewat cinta.
aih. kegemaran berkecipak dengan air nyatanya membuat saya betah berlama-lama di kamar mandi.
hingga saya tahu saya terlambat menelponnya. saya menjumpai sapaan cinta darinya. “lagi ngapain hun?” duh, maaf. lagi mandi. sibuk berdandan. sibuk berkemas. agar cantik. agar segar. agar wangi.
“moshi-moshi, bisa bicara dengan batang rambutan?” sapa saya. dan di seberang sana, si pemilik pjamas kotak-kotak merah tertawa renyah. perdebatan dan ‘pertengkaran kecil’ soal rambutan cinta pun muncul kembali.
saya senang mendengar suaranya. saya jadi lebih mudah tertawa. saya jadi lebih mudah riang. saya jadi lebih menjadi diri saya sendiri. sampai-sampai si pemilik pjamas kotak-kotak merah itu bertanya, “kamu ada apa sih, kok ceria banget?” humh. haduh. tak tahukah kamu bahwa tabungan kangen selama seminggu ini terpecah sudah. hutang ungkapan, “aku kangen!” lunas sudah. tapi hanya seminggu. iya, hanya seminggu. besok, bikin tabungan kangen lagi. bikin hutang ungkapan kangen lagi.
keceriaan saban hari ini menjadi kian berlipat saat mendengar suaranya. iya, mendengar suaranya sepertinya jarak ribuan kilometer menjadi tak berarti. teknologi dan kemajuan jaman memangkas segala sesuatu yang berjarak ini (terimakasih, teknologi!) dan energi untuk ceria ini menjadi terlihat semakin ‘keterlaluan’: ceria bangeeeeetttt … keith martin bilang dalam lagunya because of you. “”…you bring life to everything I do … “
dan kami berbincang. bertukar tutur.
tentang rambutan yang menjejali perut saya. tentang asupan energi darinya. tentang ‘perkawinan’ saya dengan steve. tentang chris dan kisah cintanya yang serupa. tentang cinta anak SMP. tentang bekas pacar. tentang mimpi besok pagi. tentang kegombalan-kegombalan yang tak ada habisnya. tentang keinginan bermanja terus menerus padanya. tentang sandaran harap. tentang lagu dandgut. tentang manis-manja group. tentang aneka ria safari. tentang semesta yang mendukung kami. tentang cinta yang katanya buta. tentang buku secret. tentang buku anak-anak dengan tokoh yang bernama yuki. tentang skenario perjumpaan tempo hari. juga, tentang muntahan yang tak ada hentinya, “aku sayang sama kamu hun …”
tahu tidak rasanya seperti apa? seperti jatuh cinta yang tak ada habisnya!
saya berdiri persis di pinggir sungai elo. sembari memulas malam yang gelap. dengan nyamuk dan goyangan ilalang yang mencandai kaki saya yang telanjang. saya menyimak setiap getaran suaranya. semoga rasa jatuh-cinta-yang-tak-ada-habisnya ini sungguh-sungguh tak akan pernah habis. biar saja seperti ini. jatuh cinta dengannya. setiap saat. setiap hari. pada laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah. pada sosoknya yang hangat.
sindrom batuk-batuk di udara malam yang dingin tak lagi saya hiraukan. saya bahagia. gelitikan batuk-batuk ini tak boleh mengganggu kebahagiaan saya. maaf batuk, minggir sebentar ya. biarkan saya menikmati gigitan gelap dengan buncah bahagia yang amat sangat.
rasanya dia tidak berada di ribuan kilometer jauhnya. sepertinya dia hanya ada di seberang sungai elo saja. iya. dia menjadi dekat, dan sangat dekat. dengan tawanya yang kemripik. dengan suara seriusnya yang bersahaja. dalam hitungan detik, secuil pertanyaan muncul. mengagetkan. mengejutkan. “masih mau jadi istriku?”
44:12. terputus. 52:40. terputus. 1:00. terputus. 37:19. terputus. total telepon cinta kami 3 jam 27 menit. tak bisa ya waktu berhenti sebentar. sebentar saja. membiarkan kami mengumbar rindu. tidak, tidak, kami tidak membuang waktu selama 3 jam 27 menit. kami justru membuat waktu hampir tiga setengah jam itu menjadi sangat berharga. sangat berharga.
episode telepon cinta masih akan berlanjut. besok sabtu. sabtu depan. sabtu depannya. sabtu depannya … dan terus.
“because of you my life has changed, thank you for the love and the joy you bring … because of you I feel no same i’ll tell the world just because of you ” kata keith martin.
(ps: i love you hun)
sekeranjang rambutan cinta
“ini, rambutan dari kebon sendiri,” kata kunto.
haduh. pas! pas banget! rambutan tak lagi langka saat ini. hanya saja, harganya masih tinggi. ada rambutan dari kebon sendiri, siapa yang tega menolak? saya tidak. kemudian saya dan kunto berbincang tentang banyak hal. pekerjaan, mimpi, dan juga hati. kami berbincang sembari terus mempekerjakan rahang kami untuk menguliti rambutan dari bijinya.
manis. sungguh, rambutan dari kebon kunto ini manis. saya pun menjejalkan deretan kata, memamerkan pada lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah melalui email pendek dari BB. dan kami berbincang bersahutan.
“aku lagi maem rambutan hasil kebun di belakang rumah teman. ueeennnnaaaakkkkkk banget hun! manis! tapi sama aku sih masih manis aku hun. sumpah! :p …” kata saya.
“ya pasti lebih manis rambutannya, … tapi dibanding siapa ya? dibanding batangnya,” selorohnya.
saya tidak terima. masa dibilang manis rambutannya ketimbang saya. atau, ketimbang batangnya? lontaran protes pun saya serukan. “enak ajaaa! manisan aku ketimbang rambutanya dong! kamu ini gimana sih! huwh!
…”
“ya ya ya manisan kamu dari batangnya …” jawabnya singkat. hah? @-) cilaka!
dahi saya berkerut. saya jadi manyun. tetapi tetap kok, sambil terus mengunyah rambutan. “lho, kok ngebandingin aku sama batangnya siiiiiiih????? Huuuuhuhuuuuuuhuuuuuuuuu …
dasar paman gembul!”
yang ada di seberang sana hanya terbahak kecil. sialan.
“awas kamu ya, kalo ketemu nanti kucubitin sampai kamu menyerah kalah! huh! huuuuh !!!” dan saya yang biasa mengumbar cium untuknya, kali ini menyatakan mogok mencium.
lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah mencoba merajuk. aih. “lebih manis kamu dari rambutannya …” nggak mempan ah! terlambat. sudah kadung manyun.
tapi, siapa yang bisa menjamin kemanyunan saya akan konsisten? bahkan saya sendiri pun tidak bisa. mencoba ngambek dan berbagi tanda seru dengannya, rasanya sulit. mustahil. apalagi, hanya karena rambutan, batang rambutan dan saya. toh, manyun ini mendadak bisa lumer dengan hamburan ciuman darinya.
hah. dasar batang rambutan.
(ps: sini. harusnya kamu ada disini, menikmati sekeranjang rambutan cinta yang dibawa oleh kunto dari kebonnya.)
kancut saya hilang
semalam saya hanya menemukan dua hanger saja. dimana kancut saya?
pierre cardin. iya, mereknya pierre cardin. dua lembar kancut. iya, celana dalam. warnanya hitam licin. nyaman sekali menadah bokong saya. sialan. kenapa tak tercantol dalam hanger mungil itu?
saya sudah mencoba mengitari jemuran kecil, jemuran yang lebih kecil dan jemuran besar. gantungan di depan kamar-kamar saya telisik satu persatu. tumpukan pakaian di ruang tengah. hasilnya nihil. kancut saya hilang. dua lembar. pierre cardin. saya bongkar keranjang baju kotor, siapa tahu saya lupa tak mencucinya. aih, tidak ada. berarti, saya cuci. dan hilang.
sialan.
terima kasih, kalian adalah energi
huruf yang terangkai dalam kalimat itu menghambur begitu saja. muntah tak karuan di 106 lembar halaman putih.
saya membereskannya sendirian. mulai dari mengendus sudut yang paling nyaman untuk memuntahkan sebongkah kekesalan, sekaligus harap. hingga saya mendapatkan tong sampah yang paling besar untuk membuang kotoran muntahan itu. iya, satu buku selesai lagi. tentang sebuah luapan emosi. tentang sebuah pertanyaan. tentang sebuah kegelisahan. tentang sebuah rasa penasaran. persisnya, tentang soeharto dan juga (masih) tentang menantunya, prabowo.
coba pegang punggung saya. panas. rasanya semua energi memusat di punggung ini. berendam air hangat, pasti nyaman sekali. coba raba jemari saya. kriting. sebagian jemari saya meliuk sejak dua malam lalu. menari. berjoget. tuts hitam dell ini menjadi panggungnya.
meja saya berantakan. mm … memang sih, biasanya juga berantakan. tetapi, kali ini lebih berantakan. saya harus mensyukuri, teknologi memangkas keruwetan di meja saya. tidak ada selembar kertas pun yang saya cetak. semuanya masih menggeloyor di halaman putih yang bisa saya terawang dengan si tikus hitam di sisi kanan keyboard. ratusan, bahkan ribuan halaman hasil pencarian di gudang kliping tertanam di balik kehebatan teknologi ini.
lupa makan. lupa mandi. lupa minum. alih-alih beranjak. rasanya pantat sudah terpaku, dan tak bisa beranjak. mengambil segelas air putih, menjadi malas. menggeret handuk dan sabun leivy 1150 ml dari meja, juga malas. menggoweskan sepeda lipat untuk membungkus sate ayam permata, juga malas. sungguh, seperti ada mur dan baut yang membikin saya tak beranjak dari kursi hijau nan lusuh ini.
rabu, membongkar gudang kliping. kamis, mulai menulis. jumat, menulis lagi. sabtu, selesai menulis.
menulis, dan terus menulis. energi menulis ini datang dari segala penjuru. ayah dan ibu yang menunggui kubikel. rasa gembira dan kesenangan menulis. listrik, AC, air minum hangat dan dingin, telepon di kantor. meja berantakan yang dibiarkan tetap berantakan. sekelebatan senyum dari teman-teman yang datang berkunjung ke kubikel. turun sejenak ke lobby, dan memberi makan toto. guyuran air hangat dari shower di kamar mandi. pecutan telepon dari kota seberang. detikcom yang tak putus-putusnya mengabari dari selatan Jakarta. kesibukan membikin halaman depan. dan juga, laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah yang bolak-balik terus meyakinkan, “aku tidak sedang menggombal kok …”
terima kasih. kalian adalah energi buat saya. terima kasih. kalian membikin saya berkarya lagi.










