The red femi

Archive for March 2008

menyimpan kenangan

with 4 comments

saya termasuk orang yang suka nyampah.

uhm. tidak bermaksud nyampah. saya hanya ingin menyimpan kenangan saja. dari orang-orang terdekat. meski hanya secuil kertas kecil. invoice jamuan makan. tiket perjalanan. bungkus cokelat. pita kecil.

semuanya punya cerita. semuanya meninggalkan jejak.

di atas trolley supermini di kubikel saya, masih ada bungkus cokelat green & black’s organics, raisin & hazelnut. cokelat ini kado kecil dari si kadal basi yang saya jumpai pertengahan bulan maret ini. saya masih ingat betul, saat ia menggeledah tasnya dan menyodorkan cokelat. iya, cokelat kesukaan saya.

di monitor saya, masih tertempel stiker luggage fragile. stiker ini dulu tertempel di tas folding bike saya, dalam perjalanan dari padang ke jakarta, awal tahun ini. harusnya saya tahu, stiker yang tak juga saya buang itu menjadi penanda bahwa perjalanan ini bakal usai.

ada kotak cokelat daim di pojok kubikel saya. cokelat ini saya kenal dari holger, lelaki jerman yang senyumnya seringan kapas. tawarannya pernah saya tampik. “aku nggak makan permen …” kata saya. tapi, dia masih tetap memaksa dengan aksen jermannya yang sangat kental. “tapi kamu harus mencoba ini. enak!” dan … enak! daim selalu mengingatkan saya padanya.

di pinggir kubikel, saya ada sekeranjang mungil tiket kereta api jogja-jakarta. saya intip sebentar, sejak tahun 2004! saya harus menyadari perjalanan jakarta-jogja-jakarta ini sudah hampir empat tahun.

saya juga masih menyimpan tiket bayang-bayang retak, pertunjukan teater dalam rangka ulang tahun gonzaga, 10 februari 2007. saya menonton bersama bli komang. dua tiket ini saya dapat dari chris. gonzaga, mempunyai ruangan tersendiri dalam benak saya. kegilaan anak-anak jakarta. makan malam di pizza hut saat minggu pertama di jakarta dengan nanang. jejalin yang menyenangkan bersama dengan bello. sabtu yang tak pernah sepi karena ada adin.

secarik kertas kecil dari yayasan vihara dharma jaya toasebio di jalan kemenangan, jakarta barat. tiga tahun lalu, saya menjumput senja bersama dengan hendra, teman saya. make a wish ala tionghoa, kertas itu saya pilih. bunyinya: cahaya bulan menyoroti empat penjuru lautan. masa depan akan makmur sentosa. sapu bersih awan-awan yang berambang-ambang. akan terhindar dari segala bahaya. artinya: pekerjaan ada untungnya, berdagang ada hasilnya, keluarga menggirangkan, jodoh cocok, sakit segera sembuh, perkara harus berhati-hati.

dan, masih banyak lagi kenangan yang tetap berserak, bukan hanya di benak. terima kasih buat kalian yang sudah mengisi hari-hari saya.  

Written by femi adi soempeno

March 31, 2008 at 1:20 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

membeli waktu

without comments

waktu rasanya cepat sekali berputar di Jakarta.

kota besar. penguasa srengenge dan bintang gemintang. dialah yang selalu menghabiskan waktu. barangkali, dengan menggerogotinya sedikit-sedikit, namun sangat cepat. seperti rayap yang menghabiskan kayu. tahu-tahu, keropos. seperti banjir yang mendesak ketinggian sungai. tahu-tahu, meluap.

dan juga: waktu.

rasanya baru pagi ini saya datang dari jogja. nanti, sebentar lagi, sudah hari jumat dan itu menjadi penanda untuk pulang kembali ke jogja. bola raksasa dan miliaran bintang menyeret jarum panjang ke kanan, dan terus ke kanan. tidak berhenti. dan saya selalu merasa saya kehabisan waktu.

24 jam dalam sehari agaknya terasa kurang. tapi, semua yang ada di dunia ini sudah disetel untuk 24 jam sehari. mesin pabrik. kendaraan. pepohonan. bahkan, tubuh manusia. dus, saya yang harus menawar waktu dengan saya sendiri. yaitu, dengan remeh-temeh yang kadang saya lakukan yang membikin waktu menjadi berantakan.

saya berusaha mengakalinya. yaitu, dengan membeli waktu.

saya tetap menikmati menulis sepanjang hari. temu janji yang dibikin saat gelap menggantikan terang, tak saya abaikan. saya tetap menulis, dan membeli waktu dari tukang ojek.

iya, saya rasa, dialah pemilik waktu ekstra di kota Jakarta. si empunya tetap saja Si Pemilik Hidup. tapi, Dia menggudangkan beberapa diantaranya lewat kecepatan menembus kemacetan yang bisa terabas oleh tukang ojek.

whuzzz … whuzz … temu janji ini terpenuhi. tukang ojek menerbangkan saya diantara belantara kendaraan yang mandeg di jalanan ibukota.

saya tak lagi bisa mengandalkan mikrolet, metromini, bus patas, bahkan taksi! dan saya menukarnya dengan beberapa lembar pecahan lima ribuan dan sepuluh ribuan.

Written by femi adi soempeno

March 30, 2008 at 4:01 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

sangat berantakan!

with one comment

pagi ini, meja saya sangat berantakan.

alih-alih meja, hati saya juga berantakan kok. *halah* uhm … tapi sungguh, pagi ini meja saya sangat berantakan. berbanding lurus dengan pikiran saya yang carut-marut dengan perjalanan kyle ke lampung, tulisan reguler, rencana membereskan edisi khusus, acara ulang tahun, toto yang kehabisan dog food nya, buku yang tak kunjung bisa dimulai, sepeda yang gembos … uuuh!

rasanya saya ingin membuang semua yang ada di atas meja ini. menyingkirkannya sejenak? uhm. rasanya tak mungkin. siapa yang mau dititipi jam strawberry, dua kotak kartu nama, trolley mini carrefour, hand body dan sabun mandi leivy, setumpuk notes wawancara, segepok tiket perjalanan, helm sepeda dan tetek bengek lainnya? rasanya tak ada. kubikel tetangga juga sudah penuh.

maka jalan lainnya adalah menatanya.

saya mencoba. menatanya. membuatnya lebih rapi. membuatnya teratur. tetapi, tetap saja. dalam hitungan puluhan menit, kembali seperti semula. koran yang digelar, mencoba mencari catatan wartawan yang meliput sebuah event perbankan. mengiris apel dari ucrit, tetangga kubikel. merenteng earphone demi mencuri dengar suara esti, kakak saya, dari kejauhan.

semoga, kubikel saya yang berantakan ini tak berlangsung lama. esok deadline sudah usai.

Written by femi adi soempeno

March 25, 2008 at 12:13 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

dicari: laki-laki yang mampu merawat hati

with 2 comments

perempuan 28 tahun, apa kabar?

saya membongkar beberapa catatan harian yang saya temukan beberapa waktu lalu. catatan harian di usia belasan, hingga saya menemukan halaman putih ini untuk menggantikannya. sekotak kenangan itu saya beri tag ‘yesterday’. aih. sungguh-sungguh sudah berlalu. tak salah kan menjulukinya dengan ‘kemarin’?

ada kisah masa smp maupun sma yang menyenangkan dan tak menyenangkan. juga, ceceran kemarahan dan luapan emosi atas ketidakberdayaan menjadi anak ingusan. juga, mimpi-mimpi kecil membikin sebuah rumah di pucuk gunung nan adem bersama dengan lelaki yang senyumnya seringan kapas. dan, deretan cerita cinta yang selalu patah-tumbuh-hilang-berganti.

saya tahu, saya membutuhkan laki-laki yang mampu merawat hati. ada yang bisa?

Written by femi adi soempeno

March 23, 2008 at 12:03 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

fragile

without comments

stiker itu bahkan masih tertempel di sisi kanan layar komputer saya: Fragile, Mudah Pecah, Garuda Indonesia.

seperti hati saya yang mudah berserak berkeping. habis. fragile. iya, hati saya juga mudah pecah. dan, kini masih pecah. saya berusaha mencari perekatnya. supaya utuh kembali. saya tahu, waktu akan membantu saya untuk membuatnya kembali utuh dan membuat saya menjadi tersenyum kembali.

fragile.jpgsaya belum membereskan perkakasnya. masih utuh pada tempatnya. kotak cokelat. tiket perjalanan. beberapa jejak meriung untuk makan siang bersama. juga, stiker yang masih terpajang manis di pinggir komputer di kubikel ini. tiba-tiba saja saya terusik untuk menengok stiker ini kembali.

mestinya, sejak saya tempelkan disitu, saya tahu bahwa cerita cinta ini akan cepat melapuk. humh.

saya harus bergerak. menggudangkan jejaknya. meski tak mudah, toh, saya harus melakukannya. layar gmail di komputer saya tak lagi berlabel merah miliknya. tapi kuning, milik esti, kakak saya. terima kasih esti!

iya, hati saya masih merapuh.

Written by femi adi soempeno

March 23, 2008 at 11:17 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,