Archive for April 2008
teman dan buah melon
Friends are like melons; shall I tell you why? To find one good you must one hundred try.
saya mengangguk, dengan sedikit tersenyum. saya tahu, saya telah diberi pengalaman batin yang luar biasa saat ini. tentang teman. pertemanan. jaringan persekawanan. sahabat. dan tetek bengek sejenisnya. pertanyaannya cukup sederhana, tetapi telak: kenapa tak pernah cerita sama saya kalau datang ke rumah? kenapa tidak pernah cerita saya kalau sering keluar bareng buat hangout? siapa yang bayar bills?
dan saya lihat, tenggorokannya tersekat. seperti ada kodok di dalam tenggorokan. seperti ada buah melon yang mengganjal di dalam.
“saya pikir saya sudah cerita sama kamu …” jawabnya. atau, jawaban lain, “saya rasa itu tidak penting buat kamu …” dan diakhiri dengan ujaran, “kamu kecewa dengan hal ini?”
sungguh, alam sudah menyaring semuanya.
teman yang baik. teman yang mengalihkan motif pertemanan untuk sebuah sebuah pemanfaatan. teman yang sudah dari awal berniat buruk.
saya tahu, dan saya sudah menemukan lagi siapa saja teman-teman dalam lingkaran yang seperti itu. ya, perempuan di sebelah sana. iya, kamu. iyaaa … ga usah tengok kanan kiri gitu ah. nah, iya, kamu. juga kamu, laki-laki dengan celana kain itu. iya, kamu! persis! juga kamu, kamu, kamu, kamu dan kamu lain.
sungguh, teman itu seperti buah melon. untuk mendapatkan satu yang terbaik, harus berjejalin dengannya terlebih dahulu.
Tuhan, makasih ya saya sudah Kamu tunjukin teman-teman di sekitar saya. sungguh, ini guyuran berkah yang sangat melimpah buat saya.
bagaimana kalau memulainya dengan blogging?
sumpah, saya merasa malas sekali menulis saat ini.
seharian hanya mempelototi berita dotcom, dan mencoba mencari mood diantara huruf yang berserak di layar monitor. selebihnya, keenganan untuk membuka halaman lay out koran dan mulai menulis. dengan tangan kanan yang ‘cacat’ begini, menulis terasa sulit. bahkan, mencari mood pun selalu gagal.
padahal, meja sudah lebih bersih dari kemarin. artinya, tak ada alasan meja resek untuk tidak menulis. juga, barusaja gajian. apalagi, rasa ‘aman’ ini jauh lebih membuat hati terasa hangat dan bebas dari rasa khawatir. juga, barusaja kembali dari jogja. keinginan untuk pulang kembali baru akan ‘diterbitkan’ ujung minggu nanti. ehm.
tapi mood ini belum juga menyeruak.
bagaimana kalau memulainya dengan blogging? saya rasa ini bukan ide buruk.
harga roti naik
“mbak, rotinya naik, jadi Rp 9000 …” kata yatno.
spontan, saya mendelik. aih, roti gandum yang semula Rp 7500 kini naik jadi Rp 9.000? aih aih … penambahan Rp 1.500 sangatlah terasa. dan menyantap roti gandum kali ini, sepertinya tidak ikhlas. mahal. mahal. mahal.
memang, jika dibandingkan dengan roti gandum ala bakery, ongkos Rp 9.000 masihlah mungil. bila dibandingkan dengan kelebihan pembayaran taksi yang bisa mencapai Rp 2.000, maka kenaikan Rp 1.500 juga masih terbilang kecil.
tapi, kenapa roti gandum ini menjadi terasa sangat mahal!
saya tak bisa menjelaskan pada diri saya sendiri. sungguh.
siapa yang butuh ya?
hanya perkara sepele saja.
yaitu, seorang calon pegawai di pabrik kata-kata ini ingin meminta kontak narasumber yang ada dalam catatan saya.
“ada kontaknya si anu enggak? bagi dong mbak …” katanya. dan saya mulai meraih tiga kotak besar kartu nama, plus mengaduk-aduk tiga buku nomer telepon. “nanti bilang ya kalau udah ada …” katanya.
sontak, saya langsung menghentikan pencarian saya. silit.
“heh, kan kamu yang minta, tungguin bentar kenapa sih?” saya mulai panas. ah, memang anak ini enggak sopan banget. sumpah!
tetap saja butuh etika untuk meminta sesuatu. meski itu hanya sepele: kontak narasumber. berbicara dengan lebih halus, juga penting. dan, yang pasti, tak seperti memberi komando. ah, sejak kapan pabrik kata-kata ini menjadiseperti institusi militer.
shoot. siapa sih yang butuh.
ini sakit, jadi jangan tertawa
matanya sampai berair menahan kegelian. ia tertawa tiada henti.
oops. padahal saya sedang tidak melucu. sebaliknya, saya sedang kesakitan, nyeri. tangan kanan kiri. lutut kanan kiri. sakit semuanya. saya terjerembab usai ditabrak roda dua yang melawan arus, dan dengan arogannya bilang, “kalau nyebrang lihat kanan kiri dong …”
dan, saya masih juga ditertawakan.
rasanya ingin menangis. sungguh. rasanya ingin menangis. sakit sekali. apalagi, alkohol sudah disapukan tommy pada lutut dan lengan saya.
coba deh, lain kali merasai apa yang saya rasakan sekarang. saya akan mengacungkan dua jempol kalau masih bisa tertawa.
(mas-mas security, terima kasih sudah menolong saya. maturnuwun sanget)










