The red femi

Archive for April 7th, 2008

saya lelah berteman dengannya

without comments

kelelahan ini sudah teramat sangat.

seperti habis lari jarak jauh. bermil-mil jauhnya. ngos-ngosan. kaki seperti bersayap, tak lagi menginjak bumi. sementara, tulang mulai melayu. letih. hanya leher yang terkulai. badan teronggok di sudut ruangan. hampir mati.

setengah tahun rasanya cukup untuk mengenalnya. kebohongan kecil. cerita yang disembunyikan. ketidakjujuran. rasanya sudah cukup. kepura-puraan.

 

 

(hey, kamu yang ada di situ. iya, kamu yang pakai celana pendek! terima kasih ya, kamu sudah membikin saya mengenalnya. jauh mengenalnya. saya jadi tahu siapa dia. terima kasih banyak. danke well. arigato.)

 

Written by femi adi soempeno

April 7, 2008 at 7:46 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

mendefinisikan ‘teman’

without comments

saya tahu persis kemana saya harus bertanya: pada kadal basi.

jes jes jes jes … kereta yang mengusung saya ke jakarta, menyisakan sinyal kecil di bebekberry saya. padanya saya bertanya: kalau ada bekas pacar, ada nggak sih bekas teman?

saya memang galau. saya sedang gelisah. satu tahun belakangan ini orang-orang datang dan pergi. bisa jadi juga, saya menjadi bagian orang yang datang dan pergi dalam kehidupan seseorang. tapi sungguh. saya galau dengan kemunculan mereka yang tiba-tiba. meriung bersama. berteman. mengaku best friend. mengambil keuntungan. menelikung. menusuk dari belakang. sesudahnya, pergi.

teman.

saya tak bisa menjelaskan pada diri saya sendiri tentang jejaring ini. kadal basi membantu saya untuk mengolor benang ruwet yang belakangan membelit saya.

tentang bekas teman? ada banyak bekas teman. bahkan tak bisa dibilang teman lagi.  ada kenangan baik. tapi juga memori buruk yang tak termaafkan dan bikin trauma. tentang teman dan berteman dan pertemanan. ah, seharusnya kita tak naif dan menafikan bahwa relasi dijalin dari adanya kepentingan dan motif. tanpa motif, justru tak ada alasan menjalin sebuah relasi = ga beda jauh dengan tanaman. hanya, motifnya baik atau tidak. itu yang penting. motif pun bisa berubah di tengah jalan. dulu baik, besok kayak kucing garong.

aha. saya tahu. seperti sepeda. pada awalnya, ada sebuah kerjasama yang baik antara pantat yang dibebankan pada sadel. kayuhan yang stabil. jalanan aspal yang mulus rata. kring kring … sesekali, bel dijentikkan. tapi, kerjasama yang baik antara betis yang terus menggenjot, sepeda yang bagus dan jalanan yang mulus, harus terhadang oleh kerikil, bahkan cipratan air usai hujan yang menderas.

pun pertemanan.

dan seperti kadal basi bilang, motif pertemanan pun bisa berubah di tengah jalan. dulu baik, besok kayak kucing garong.

pertemanan, bebas kepentingan? hmm… punya teman banyak gunanya. untuk curhat. untuk tambah ilmu. untuk menikmati malam bersama. untuk berbagi hidup. untuk kerjasama bisnis. banyak motifnya. ga ada sesuatu yang murni seperti itu. justru aneh bila tak ada pikiran apa pun. tapi aku salut, jeng femi mudah bergaul dan membuka diri cukup ramah. menurutku, terlalu terbuka sehingga mudah untuk dimanfaatkan.

si kadal basi agaknya pengen bilang sama saya, jangan terlalu terbuka agar tidak mudah untuk dimanfaatkan. uhm. catatan kecil yang baik untuk mengawali usia 28 tahun. hati-hati. hati-hati. hati-hati. atau, apa perlu saya menderetkan nama teman-teman saya untuk memilah mana yang memanfaatkan dan mana yang tidak memanfaatkan? mmm. rasanya terlalu berlebihan.

tapi, ada penggalan si kadal basi yang membikin saya kian berlega hati.

tentang motif…. motif selalu ada. selalu ada yang baik dan tidak baik. bekas teman? ah… selalu datang dan pergi… biarkan saja mewarnai hari2 yang datang. koyo ngono wae kok repot. immortality itu kan ga ada. selamanya teman? ah… mendingan dinikmati selagi bisa.

ya. pagi-pagi dalam perjalanan ke jakarta, si kadal ini mengajari saya tentang pertemanan itu sendiri. benar katanya: biarkan saja mewarnai hari-hari yang datang.

sungguh, saya lega. terima kasih kadal basi!

 

(ps: dal, kadal … saya rasa saya kini cukup lega untuk membubuhkan label ‘teman’ ataupun ‘bekas teman’. terima kasih ya membikin saya lebih berani menentukan mana yang senyatanya teman dan bukan teman)

Written by femi adi soempeno

April 7, 2008 at 2:41 am

ternyata sudah 10 tahun

without comments

saya mengangkat gagang telepon, dan mencari seseorang di seberang sana. yani.

iya, namanya yani. dia adalah sahabat saya. she is my truly best friend. pengalaman batin tentang pertemanan belakangan, membuat saya harus berucap terima kasih padanya. ” … ternyata sudah 10 tahun ya, menyadarkan kita bahwa kita berteman sudah begitu lamanya …”

sebulan silam, saya menemukan potret kami saat masih duduk di bangku SMU. di Santa Maria, Jogja. rok abu-abu dan kemeja batik. kami duduk bersisian lagi di ruang tengah di rumahnya. di lantai, mainan anak-anak berserak riuh. menandakan ada kesibukan yang mengisi aktivitas setelah 10 tahun masa itu berlalu. kami berbincang. kami mencoba menelisik ruang ingatan kami. tentang kelas 3 bahasa yang ugal-ugalan. gaya preman ala anak SMU. keriaan di usia belasan. kami membadut, menghibur dan dihibur.

aih … nostalgia yang membikin kami selalu merasa ‘pernah ada’. sepuluh kalender tahunan teronggok malas di sudut ruangan. dan kami mulai menua.

yani menjadi ibu satu anak, dan istri seorang arsitek muda. menikah sesegera mungkin usai kuliah, adalah pilihan yang diambilnya. dua tahun silam, kabar bahagia itu mampir di telinga saya. kini tawa paolo, anak semata wayangnya, membuatnya semakin betah di rumah.

sementara saya, lajang, mencoba meninggalkan jejak di koran mingguan dan mencoretkan hari di halaman putih ini. dan, menggelisahkan sebuah pertemanan.

dan ternyata sudah 10 tahun.

“nggak terasa ya …” katanya. kami seperti mengulang nostalgia yang kami lakukan sebulan lalu. dan, kami masih terus mengaguminya betapa pertemanan ini terawat dengan begitu baiknya. kami memupuknya dengan pengertian. kami menyiraminya dengan keriaan. daun-daun yang menguning karena kesebalan dan protes yang tak tertahankan, nyatanya tetap saja tak membikin tanaman persahabatan ini melayu.

“terima kasih ya, kamu sudah ada dalam hidupku sepuluh tahun ini. mengenalmu dan memiliki sahabat sepertimu, adalah hadiah terindah yang aku punya,” kata saya.

dan butiran bening ini mengalir pelan dari sudut mata saya.

 

 

Written by femi adi soempeno

April 7, 2008 at 12:29 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,