Archive for May 2008
I’m home
hijau.
kanan dan kiri saya hijau, selepas cikampek. selamat datang pada alam nan indah. kian ke timur, kian indah. jogja membikin saya tersenyum pagi ini.
kereta fajar yang saya tumpangi melaju pesat. ah, rasanya seperti terbang. membelah hijaunya ladang padi dan kebon tebu. jalanan begini selalu mengingatkan pada rumah ayah dan ibu yang baru. I miss u soo much dad, mom …
saya pulang.
mata ingin mengatup sementara terik semakin menyengat. kotak yang bergerak-gerak ini seperti menyediakan tempat tidur yang sangat nyaman: kolong kursi, dengan beralaskan koran. dan saya menggeletak.
penjual pecel membikin saya sabar menanti. sementara sekotak getuk sokaraja dan sekarung lanthing harus saya bungkus lantaran mimik muka si penjual yang kerutannya tebal, tanda sudah cukup tua. seperti mengingatkan saya, betapa saya sangat bersyukur, ayah saya tak harus bekerja ekstra keras hingga ujung usianya.
dad, mom, I’m home.
jatuh cinta, dan rasa itu
beberapa waktu belakangan ini saya kok membayangkan rasanya jatuh cinta.
lama rasanya ‘tidak jatuh cinta’. jadi, butuh waktu yang tidak sebentar juga untuk mengingat-ingat bagaimana rasanya jatuh cinta.
rasanya seperti deru si ular besi yang meliuk dan menderap pasti. berjalan maju. terus. sesekali, peluit dibunyikan masinis dan asap hitam yang mengepul dari lokomotif adalah sebuah penanda tinggalan jejak.
rasanya juga seperti gebukan harmonis pada seperangkat gamelan. kendang. bonang. saron. peking. kenong-kethuk. kempul. gendher. gong. gambang. slenthem. menyumbangkan suara indah.
rasanya seperti jemari yang terketuk pada papan kunci (meminjam istilah kadal basi). pijatan pada papan K, muncul di layar monitor adalah K.
selaras.
lama tidak jatuh cinta. dan kini, rasa itu menjadi abstrak.
atau bisa jadi, saya sedang menunggu giliran?
tidak. tidak. saya masih menggudangkan rasa yang sama dan belum memberi cukup ruang untuk rasa yang baru.
ada yang mau cokelat hangat? —lebih baik saya menyibukkan diri dengan adukan irish cream chocolate cream. .
paranoid
ketakutan itu datang pagi-pagi.
kyle mengatakan ingin segera kembali ke california. “the stomachache killing me … ” katanya. owh! apakah ada ujaran lain selain mengiyakan? rasanya tidak. meski, rasanya tak begitu lega melihat dia seperti tidak felling home di jogja.
mungkin hanya kekhawatiran. mungkin hanya ketakutan. atau, mungkin itu adalah ketakutan yang berlebihan. tetapi semuanya tidak bisa diukur hanya dengan kata ‘hanya’ kan? toh, itu memecutnya untuk pulang ke california, segera.
saya tak bisa menahan, jika itu memang yang terbaik untuknya.
“just go home …” kata saya. tidak mengusir. hanya memberi dukungan: semoga segala yang terbaik datang pada mu.
sedih rasanya tahu perutnya tak cukup nyaman bersanding dengan makanan indonesia. sedih rasanya indonesia tak cukup bersahabat dengannya.
anytime you wanna go, just let me know, bro.
siap bersepeda lagi
tangan saya sudah kuat menggenggam handle bar sepeda lipat. saya siap bersepeda kembali.
lihat, mengusung sepeda dari parkiran sepeda, tangan kanan ini sudah cukup kokoh. ah, 10 kilogram ini. Tapi, boro-boro mengusung 10 kilogram. mengusung kardus isi sepertiganya pun tangan kanan ini terasa cacat. mati.
ini adalah pecutan dari mikrolet 09 yang sedang mogok beredar dua hari terakhir ini. mengandalkan beberapa teman baik untuk menjemput di kos dan mengantar ke kantor, agaknya terlalu berlebihan. dus, tak ada pilihan lain selain bersepeda.
dan, teman di pojok kubikel mengusung pompa mungilnya untuk csl saya. lebih dari sekadar membawakan pompa, malah juga mempompakan sekalian. ah, baik hati nian si empunya centrum ini. superthanks!
jadilah sepeda ini siap dikayuh dari kebayoran lama hingga palmerah utara II.
saya mulai menghitung, berapa lama saya menggudangkan sepeda ini. hmpf. sudah lama. lama sekali. sebulan lebih. mungkin sejak maret. ah, lamanya!
awalnya hanya menggudang di sisi koridor pabrik kata-kata ini. kemudian berpindah di kolong meja di kubikel. dan, menjajal mengisi angin pada akhir bulan lalu. dan sepeda harus terkadang di pelataran lobby. shoot.
sekarang, sepeda ini bisa mulai dijejak lagi. ada yang mau bonceng?
nothing to loose…
“saya nothing to loose kok … saya justru berterima kasih … ” katanya.
mata saya nanar. menatapnya. butiran bening meluruh dari sudut mata saya. laki-laki sopan itu harus pergi dari balik kubikel ini. minggir dari barisan buruh-buruh yang bekerja di pabrik kata-kata.
bahkan, memajang harapan terlalu tinggi pun tidak. pendeknya: pasrah.
ia pasti mencoretkan hidup dengan pensil tumpul. memulas lembaran putih kehidupannya dengan gurat yang tak tajam, tetapi tetap meninggalkan jejak. seandainya hidup bisa dibikin sesimpel itu.
tetapi itu nyata. ada padanya.
“saya ingin menjadi pastor. tapi saya ingin melihat ‘dunia’ dulu sebelum menjadi pastor. makanya setelah lulus kuliah, saya tak langsung mendaftarkan diri ke seminari tinggi. saya ingin melihat ‘dunia’. dan menjadi wartawan setahun sudah cukup bagi saya untuk melihat ‘dunia’,” katanya.
jantung ini terasa berhenti. sebentar.
ah. kamu harusnya menyadari. no matter how good you get, you can always get better and that’s the exciting part.
“keluarga sudah mengijinkan. makanya mereka sering nagih, kapan jadi pastor, masih mau jadi pastor, bagaimana ke seminari … tapi saya tidak tahu bagaimana berhenti dari sini. makanya. saya justru berterima kasih …”
dwin gideon sitohang.
semoga tidak lalai dengan apa yang anatole france bilang: to acomplish great things, we must not only act, but also dream; not only plan but also believe.
(ps: hey, Si Pendesain Rencana Hidup pasti sudah punya rencana indah buatmu. thanks for all, bro!)










