The red femi

Archive for May 27th, 2008

siap bersepeda lagi

with 2 comments

tangan saya sudah kuat menggenggam handle bar sepeda lipat. saya siap bersepeda kembali.

lihat, mengusung sepeda dari parkiran sepeda, tangan kanan ini sudah cukup kokoh. ah, 10 kilogram ini. Tapi, boro-boro mengusung 10 kilogram. mengusung kardus isi sepertiganya pun tangan kanan ini terasa cacat. mati.

ini adalah pecutan dari mikrolet 09 yang sedang mogok beredar dua hari terakhir ini. mengandalkan beberapa teman baik untuk menjemput di kos dan mengantar ke kantor, agaknya terlalu berlebihan. dus, tak ada pilihan lain selain bersepeda.

dan, teman di pojok kubikel mengusung pompa mungilnya untuk csl saya. lebih dari sekadar membawakan pompa, malah juga mempompakan sekalian. ah, baik hati nian si empunya centrum ini. superthanks!

jadilah sepeda ini siap dikayuh dari kebayoran lama hingga palmerah utara II.

saya mulai menghitung, berapa lama saya menggudangkan sepeda ini. hmpf. sudah lama. lama sekali. sebulan lebih. mungkin sejak maret. ah, lamanya!

awalnya hanya menggudang di sisi koridor pabrik kata-kata ini. kemudian berpindah di kolong meja di kubikel. dan, menjajal mengisi angin pada akhir bulan lalu. dan sepeda harus terkadang di pelataran lobby. shoot.

sekarang, sepeda ini bisa mulai dijejak lagi. ada yang mau bonceng?

 

Written by femi adi soempeno

May 27, 2008 at 3:21 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

nothing to loose…

with 3 comments

“saya nothing to loose kok … saya justru berterima kasih … ” katanya.

mata saya nanar. menatapnya. butiran bening meluruh dari sudut mata saya. laki-laki sopan itu harus pergi dari balik kubikel ini. minggir dari barisan buruh-buruh yang bekerja di pabrik kata-kata.

bahkan, memajang harapan terlalu tinggi pun tidak. pendeknya: pasrah.

ia pasti mencoretkan hidup dengan pensil tumpul. memulas lembaran putih kehidupannya dengan gurat yang tak tajam, tetapi tetap meninggalkan jejak. seandainya hidup bisa dibikin sesimpel itu.

tetapi itu nyata. ada padanya.

“saya ingin menjadi pastor. tapi saya ingin melihat ‘dunia’ dulu sebelum menjadi pastor. makanya setelah lulus kuliah, saya tak langsung mendaftarkan diri ke seminari tinggi. saya ingin melihat ‘dunia’. dan menjadi wartawan setahun sudah cukup bagi saya untuk melihat ‘dunia’,” katanya.

jantung ini terasa berhenti. sebentar.

ah. kamu harusnya menyadari. no matter how good you get, you can always get better and that’s the exciting part.

“keluarga sudah mengijinkan. makanya mereka sering nagih, kapan jadi pastor, masih mau jadi pastor, bagaimana ke seminari … tapi saya tidak tahu bagaimana berhenti dari sini. makanya. saya justru berterima kasih …”

dwin gideon sitohang.

semoga tidak lalai dengan apa yang anatole france bilang: to acomplish great things, we must not only act, but also dream; not only plan but also believe.

(ps: hey, Si Pendesain Rencana Hidup pasti sudah punya rencana indah buatmu. thanks for all, bro!)

Written by femi adi soempeno

May 27, 2008 at 2:33 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with ,