The red femi

Archive for June 2008

nonton bola gantian

without comments

kentang goreng dan ayam panggang yang saya bikin mengantarkan kami pada rasa kantuk yang amat sangat.

rasanya mata ingin mengatup.

tetapi, bukan karena masakan saya. karena hari ini adalah hari yang panjang. pernikahan kunto. perjalanan membelah solo. dan, janji kecil untuk mengadu olahan babi, minggu depan.

“mau ke teras cafe enggak? kita nonton final euro 2008 yuk,” ajak arun.

wah, maturnuwun, mboten kemawon. saya memilih meringkuk dibawah selimut di rumah. atau, menonton dari layar cilik televisi di rumah. badan ini terlalu ringkih untuk begadang bersama angin malam dan tegukan bir dingin. wine yang dibuka di rumah sembari menonton bola yang dibikin rebutan, rasanya lebih hangat.

dan, telepon yang menyesaki telinga paimun membuatnya batal beranjak ke teras cafe. hasilnya, ya nonton bola di rumah saja.

dan kami terpekur takjub menikmati final jerman dan spanyol pada euro 2008 ini. “aku pegang jerman. taruhan empal di pasar bringharjo ya!” tantang saya pada arun.

tapi … olala … arun tidur duluan. dan, saya menyusul di bangku ini. kemudian saya bangun sejenak, dan paimun tidur. dan begitu seterusnya. kami bergantian melihat final sepak bola ini.

sho*t.

sinting bener. kami gantian nonton bola. siapa yang lihat di awal, siapa yang lihat saat gol spanyol membobol gawang jerman, siapa yang lihat penutupan.

Written by femi adi soempeno

June 30, 2008 at 6:29 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

dahon

without comments

freedom comes in smal packages.

tak sengaja, saya menemukan situs sepeda lipat dahon dengan settingan lain: warna hijau rumput yang menyejukkan mata.

saya berpikir, dimana mendapatkan pemandangan seperti itu di sini?

 

Written by femi adi soempeno

June 26, 2008 at 7:25 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

matahari

without comments

hangat.

ya, saya tahu dia sangat hangat. tutur katanya. sapanya, “halo hun …” dan selalu saja saya terngiang gelaknya. hangat. tawanya yang renyah mampu menghangatkan sepasang kaki saya yang dingin di rerumputan pelataran eloprogo.

tak ada yang bisa menggantikannya.

hangatnya tetap tinggal. sesekali menelusup, menggoda jemari untuk menari di papan kunci. menuliskan tetang kerinduan padanya. pada selarik jingga yang kami habiskan bersama. sesekali mengetuk, hangatnya mengingatkan dia pernah ada. ya, pernah.

dia mencuil hari saya. sejak bola raksasa muncul dari garis bumi. hingga muncul kembali keesokan harinya.

tokiko onose. seperti matahari.

 

Written by femi adi soempeno

June 26, 2008 at 4:29 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

rumput tetangga memang lebih hijau

without comments

perbincangan kami selalu hangat.

saya dan chris, seorang teman dari australia. obrolan kami tak jauh dari hidup yang remeh temeh. tentang senja yang ia bungkus di sydney, atau debu jakarta yang menebalkan kotoran hidung. tentang hati yang hancur karena lutut itu tak lagi bersimpuh seraya memberi kembang mawar berwarna putih, atau keinginan nakal untuk menyirami rumput tetangga yang ternyata lebih hijau.

ah, chris.

mendandani kebun. membikin kebun senantiasa hijau. mengembanginya. memberi pupuk … dan itu yang tengah kami bincangkan saat ini.

“di indonesia, kami selalu menyebutnya dengan; rumput tetangga memang lebih hijau … menarik bukan?” kata saya. dan ia pun tergelak. saya dengar, tawanya sempurna. 

reriungan keluarga muda mengantarkannya pada rumput yang menghijau itu. sayang, rumput itu tertanam di halaman tetangganya. ”kamu punya ide bagaimana meninggalkan rumput hijau yang selalu disirami cahaya hangat si bola raksasa ini?” tanyanya.

duh, basa-basi sekali pertanyaannya.

karena, setiap ide saya terus ditolaknya. sampai saya menyerah dan bilang, “sudah ah, nanti kalau dia bosan menghijau, dia akan mengering sendiri kok …”  

humh. chris, kamu membuat saya takut dengan laki-laki.

Written by femi adi soempeno

June 26, 2008 at 11:44 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

ngiler pizza

with 5 comments

nyidam pizza.

sebenernya ingin ke pizza tipis seperti izzi pizza atau pizza marziano. tapi … tetap saja pilihannya jatuh ke plaza semanggi. jadinya, ya mau tidak mau harus membungkus seloyang pizza di pizza hut.

bersama soedar, saya menghabiskan seloyang ukuran medium, plus chicken wings isi 6. hasilnya ya mantap: kekenyangan. tapi tidak ah. setidaknya sudah lunas terbayar keinginan makan pizza. pizza tebal. pizza amerika. entah, bagaimana rasa pizza amerika di amerika.

seiris pizza italia saya angkut di sebuah pizzeria —gerai pizza— di venezia. tebal, bahkan lebih tebal dari pizza bikinan pizza hut. bentuknya kotak. saya dan judy berambisi sekali dengan irisan pizza ini. mereka, para pizzaioli/koki pizza memanggang pizza di tungku terbuka yang terbuat dari batuan vulkanik.

entah, dari mana asal muasal pizza ini sesungguhnya. italia mengklaim, sementara amerika juga. yang jelas saya tahu, pizza dengan beragam topping ini memang evolusi olahan roti yang dimulai sejak jaman purba. bahkan orang Mesir, Libanon, Turki, Yunani, Romawi, Yahudi sampai sekarang pun masih makan roti yang rasanya flat, tawar banget. sebutannya adalah pita bread.

mencoba menelisik sejarah pizza (halah, sok tau lo fem), asal muasal pizza ini dari lauk yang ditebarkan diatas roti. dari sinilah pizza berawal. hanya, namanya picea, dipanggang dalam tungku tanah liat hingga sedikit gosong di sisi-sisinya. generasi pizza selanjutnya adalah taburan irisan keju mozzarella. keju yang dibikin dari susu kerbau ini ada di atas roti gandum pizza. lebih sempurna lagi, tomat mengisi sejarah panjang per-pizza-an.

dus, keju dan tomat selalu ada dalam olahan pizza.

Written by femi adi soempeno

June 22, 2008 at 1:04 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with ,