Posts Tagged ‘keluarga’
masih lama, tapi sudah sebentar lagi
sepertinya masih bulan mei, tahun depan. atau april. tapi, saya harus terus berpacu dengannya.
waktu, bukannya tak pernah mau kompromi? ia tak ingin minggir sebentar. berhenti sejenak. bernapas. tidak, tidak, tidak. jarum jam terus bergerak ke kanan, dan terus ke kanan. saya mencoba menghentikan, mencopot baterenya, tapi jam lain terus bergerak ke kanan.
saya tahu, waktu tak bisa diajak negosiasi.
karenanya, sejak semalaman saya mulai membincangkannya. dengan esti, kakak saya. tentang ayah. tentang 1000 hari. tentang pesta.
makanan. mulai cara menghidangkan. mau prasmanan, atau piring terbang? apa menu makanannya? siapa yang mengurusi makanan? buah, perlu? kalau sudah makan besar, apa perlu makanan kecil? bagaimana piringnya? piring dari lidi saja? piring kertas? sewa catering?
souvenir. “jangan jam dinding dengan potret babe … nanti orang pada takut …” kata esti. agaknya ia tak mau orang-orang ketakutan mengenang ayah. haha … bagaimana kalau payung? bagaimana carinya? payung besar atau kecil? atau, buku inspirasi batin jilid II?
tenda. tenda putih saja, bukan tenda cokelat, oranye atau biru. tenda putih seperti ayah dan ibu lagi mantu. *halah* tapi ini yang punya gawe malah sebaliknya, yaitu dua putri-putrinya. ya olo.
bingkisan untuk tetangga. sembako? kue? sembako, isinya apa saja? kalau tahun depan mahal, mungkin bisa mulai menimbun sekarang.
kue, kue apa ya?
dan banyak.
“tapi USD 2 saja belum habis untuk menelpon kamu ini …” katanya. iya. tapi saya harus segera pulang. gembok putih sudah menanti. dan, hal ini bisa dibincangkan lagi nanti.
ya, memang masih lama. tapi mei 2009 sudah sebentar lagi.
kematian
saya membongkar email lawas dan menemukan surat kiriman teman. isinya tentang kematian.
Seorang pasien berpaling menghadap dokternya, selagi dokter itu bersiap untuk pergi,
“Dokter, Aku takut mati. Ceritakan apa yang ada disebelah sana”
Dengan lembut, dokter itu berkata, “Saya tidak tahu.”
“Anda tidak tahu? Anda, seorang Kristen, tidak tahu apa yang ada disebelah sana ?”
Dokter itu sedang memegang gagang pintu kamar disebelah sana terdengar suara garukan dan keluhan, begitu pintu itu dibukanya, seekor anjing menerobos masuk dan lompat kearahnya dengan antusias dan senang sekali.
Menoleh kearah sang pasien, dokter berkata, “Anda lihat anjing saya? ia belum pernah masuk ruangan ini sebelumnya ia tidak tahu ada apa didalamnya. Ia tidak tahu apa-apa, kecuali bahwa tuannya ada didalam, dan ketika pintu dibuka, ia langsung masuk tanpa takut. Saya hanya tau sedikit tentang ada apa di sebelah kematian tapi saya tahu benar tentang satu hal… saya tahu Tuhan saya ada disana dan itu cukup.”
ya. saya memahaminya.
betapa ada Yang Sudah Menunggu disana. dan keriangan saya bertambah, saat saya tahu, kedua orang tua saya juga sudah menunggu saya disana. seperti ibu yang sangat berlega menghadapi kematiannya karena simbah kakung menjemputnya. atau, seperti ayah yang juga sudah bersiap memasuki alam barunya karena ibu sudah menjemputnya. lebih dari keduanya yang berjalin dalam kehidupan ini, Yang Bikin Hidup sudah menentukan masanya. untuk pulang. untuk kembali meriung bersamanya.
saat ini saya menunggu giliran. entah kapan.
pertanyaan itu muncul lagi
dan pertanyaan itu muncul lagi dari kakak nomor tiga. “sudah punya pacar belum?”
halah.
lima kakak saya selalu mengkawatirkan kesendirian saya. barangkali saya anak paling kecil. mm … tapi tidak juga. empat kakak dan satu adik juga selalu mengkhawatirkan esti. artinya, memang semua saudara mengkhawatirkan mereka-mereka yang belum memiliki pasangan. terima kasih.
dan jawaban yang saya lontarkan selalu sama, “belum.” atau, “baru putus.” aih, betapa jawaban apapun selalu meninggalkan garis bibir yang tertarik ke atas. tak perlu cemas. tak perlu khawatir. hidup ini tetap saja menarik saat dilalui dengan siapapun. baik itu seseorang yang selalu bisa saya andalkan. atau begitu banyak orang yang merubung saya.
humh.
tak banyak yang tahu soal jejalin yang saya jahit dengan lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah di negeri matahari terbit. hanya abang yang paling mengerti bahwa jejalin ini melonggar dan tak lagi bisa rapat. tergunting oleh jarak yang makin jauh dan kesibukan di tanah yang berbeda. tambal sulam nyatanya tak bisa menyelamatkan tautan ini.
tak apa. dan saat besok bertemu lagi dan bertanya pertanyaan yang sama lagi, juga tak apa. pertanyaan itu semakin membuat saya ingin menunggunya. dan menunggunya.
perbincangan pagi
selalu ada yang tertinggal dalam perbincangan kami.
sebuah gelak yang tak habis. dan tawa yang tak henti berderai. kami berbicara banyak hal. tentang rumah. tentang buku. tentang paket kiriman ke indonesia. tentang rencana perjalanan ke US. tentang BB. tentang jogja. tentang … banyak. dan, seperti hutang yak tak bakal bisa ditebus, selalu saja ada ritual ngundhat-undhat, khas esti.
eh, ning pesawate nang amerika dibayari to? nganggo diundat2 ora?
mmmmmm mmmmmmm dibayari tikete
nek nganggo mmmm-e dowo ngono wes ketok diundat2 tujuh turunan
nek diundat2 ki yo…bukannya undat2 kuwi wis termasuk nang tiket?
oo ono klausul ngono ya hahahahahahahahaah
begitulah
lagi ngerti aku nek tiket nang US ki ono klausul undat2
iyo
hahahaahahah –kok kowe sok cool ngono to le ngomong “iyo”
dan begitulah. tak ada perbincangan yang komplit tanpa acara ngundhat-undhat. hutang tak terbalas, ya harus terima bila diundhat-undhat.
tapi, ini bukan hutang sesungguhnya. ini hanya bumbu perbincangan. biar tambah seru. biar tidak wagu. biar membikin gelak. sungguh, saya suka perbincangan seperti ini. meriah. iya, seperti perbincangan pagi ini. sesudahnya, masih disambung bertukar tutur selama dua jam.
kembali terpisah
kami akan berjumpa lagi.
rasanya baru kemarin saya melambaikan tangan dari balik pagar di arrival hall ngurah rai. saya melihatnya berjalan pelan, menggeret trolley dengan ukuran koper yang sangat besar. kini, saya melihatnya serupa. menyurung trolley dan menghilang di balik pintu check in.
esti. ya, dia kakak saya.
tapi kali ini saya tak menangis. mungkin besok. saat saya kembali bekerja dan menyadari bahwa ruang kami terpisah jauh, sangat jauh. betapa jarak kembali menebalkan persinggungan kami. jakarta/jogja-DC, uwh, jauhnya!
as long as I live, I will consider the closeness we share to be one of the most precious gifts I could ever receive.










