The red femi

Posts Tagged ‘palmerah

membaca buku (lagi)

without comments

weekend di jakarta saya habiskan untuk membaca buku lagi.

beberapa waktu saya mengangkut beberapa judul buku dari gramedia. rasanya kini saatnya mulai membaca buku-buku kembali. ah, kembali? iya! membaca buku lagi.

menghabiskan ujung minggu di jogja membikin saya enggan menyentuh buku. harus mendaraskan doa di rumah ayah dan ibu. harus membersihkan rumah. harus berkebun. saya membongkar isi lemari hanya sesekali saja kalau memang ingin tinggal seharian di rumah dan bermalas-malasan. pilihan lainnya, menghabiskan hari dengan nonton film dari keping dvd.

tapi ujung minggu di jakarta membikin saya bingung.

untung saya membawa buku-buku yang saya angkut dari toko buku. saya membaca satu per satu buku-buku itu.

kursi lipat dengan tema koran saya buka. kaki menyelonjor ke kasur. tak ada musik, hanya ada hening. dingin menyusup dari putaran kipas angin.

saya membaca lagi. iya, saya mulai membaca lagi.

Written by femi adi soempeno

July 6, 2008 at 11:37 am

Posted in Uncategorized

Tagged with ,

sinar medan, kerakusan itu

with 2 comments

seorang teman, eflin, membeberkan salah satu kedai lezat di jakarta.

sinar medan, di cililitan. persisnya, di depan asabri. masakannya bukan sembarang masakan, tapi olahan khas batak karo. oops. sedap? tidak sedap? ehm. bagi saya, jelas saja sedapnya.

kami menyambangi kedai itu pertengahan minggu lalu. janji temu dibikin di kedai sinar medan. saat itu, pesanan saya adalah panggang dan sop. tak kurang dari sepuluh menit, sajian terhidang di meja. waaah … uenak tenan! sementara, eflin pesan bihun goreng dan panggang. sebagai hidangan konsorsium, kami menambah seporsi panggang ukuran jumbo. wah!

dan saya datang lagi semalam.

bersama dengan teman-teman dari rumah sewa. meninggalkan jejak dari rumah sewa di palmerah, kami berbondong-bondong menyurungkan perut lapar di cililitan. panggang, bihun goreng dan babi kecap. sedap? sedap banget!

kami menikmati sajian ini. menggelak. diselingi dengan obrolan ringan. sesekali, mendecakkan kekaguman atas kelezatan olahan babi ini. ah! sedikit penyesalan datang. mestinya bisa mengajak lebih banyak teman ke kedai ini.

dalam perjalanan pulang, kantuk menyandera di bus patas 46.

Written by femi adi soempeno

July 6, 2008 at 10:50 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

tak ada yang bisa menggantikannya

without comments

teman, sahabat, saudara.

dia yang membuat saya selalu ingin pulang ke rumah sewa kami di palmerah 224. sebuah keriangan kecil sembari mendetakkan jarum jam ke kanan dan terus ke kanan. tanpa rasa kantuk, atau bahkan, melawan rasa kantuk.

perbincangan dengan teman, sahabat, saudara. tentang banyak hal. tentang bapak kos yang tak peduli dengan kos-kosannya. tentang pengeras suara yang mengejang saban malam. tentang tingkah teman-teman kos. tentang diet yang selalu gagal. tentang laki-laki dari balik mesin fotokopi. tentang kenakalan kecil semasa melajang. tentang … banyak hal.

mencoba menjadi dewasa, nyatanya tak selalu mudah. tapi kami terus merangkak. menjadi dewasa.

dan saya pun berencana untuk enggan mengantarnya ke pintu gerbang. perpisahan selalu membikin sudut mata ini basah. empat tahun bukan waktu yang pendek untuk memutus jejalin ini. teman, sahabat, saudara.

dan sejak kepindahannya, nyatanya tak ada yang menggantikannya.

tak ada reriungan kecil untuk membincangkan banyak hal. saya memilih menggudangkannya dalam lemari benak. atau, mencelotehkannya di halaman putih ini.

saya tahu saya rindu padanya. pada perbincangan yang hangat. pada epoy.

Written by femi adi soempeno

July 4, 2008 at 7:47 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with ,

ucil lulus sma

without comments

namanya ucil.

semalam kami berpesta untuknya. untuk kelulusannya. untuk kepindahannya. untuk segala kerja kerasnya. untuk jejalin yang tak merapuh. nyatanya dia melalui 3 tahun dari hidupnya di palmerah 224. dengan perempuan-perempuan pekerja.

“terima kasih untuk kakak-kakak semuanya …” katanya. pakaian merah jambunya yang terkesan ’sobek-sobek’ itu lucu, seperti tidak siap untuk dipasangakan dengan celana pendek kotak-kotak hitam nya. :)

dan semuanya bergembira.

bukan hanya mengantarkan ucil menanggalkan seragam abu-abu putihnya, tetapi juga sebentar memecutnya untuk hidup di jakarta. dengan segala keterbatasan. dengan kebutuhan untuk saling tolong-menolong. dengan reriungan yang hangat dengan orang-orang yang usianya bahkan dua kali lipat darinya.

ucil memang berbeda dengan dua teman lainnya yang juga tinggal bersama di rumah sewa ini. semuanya karena situasi yang ‘mepet’, ucil jadi rendah hati dan tak segan bertanya-meminta-meminjam apapun dari kamar tetangga. dan kami menjadi dekat. seperti adik sendiri.

bahkan ucil menjadi ‘manager kamar mandi’. owh!

dua kamar mandi untuk begitu banyak orang. “saat ucil dan teman-temannya datang, aku sampai berpikir, jam berapa aku harus mandi …” kata becca, semalam. gelak membahana. jam masuk kantor dan sekolah yang hampir bersamaan membuat antrian kamar mandi jadi lebih panjang.

tapi ucil mengaturnya menjadi lebih baik. lebih teratur. terima kasih.

rasanya tak pantas lagi memanggil ‘ucil’. namanya sekarang sudah sesuai nama aslinya; yossy.

Written by femi adi soempeno

July 4, 2008 at 4:58 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

kurang regang

with 3 comments

takdir membawa saya berjejalin dengan orang-orang batak.

sejak menghuni palmerah 224, tak lagi bisa dihitung berapa banyaknya orang-orang batak dan jawa yang membikin relasi batak-jawa ini mau tak mau harus menggelak bersama. utuh. tak tercuil. pun di kubikel kantor. jumlah orang-orang bersuku batak ini menggemuk.

perih tak bisa dihindarkan saat kami bertukar tutur. bertukar aksen. kami selalu terbahak kegelian.

seperti semalam, saat saya bilang, “mauliate … ” sontak, mereka terdiam. “aduh femi, bukan begitu bilang ‘mauliate’ … ” ujar rebecca. lalu bagaimana? “mauliate! e-nya kamu ini kurang regang, eeeeee …” katanya. lalu rebecca menuding saya yang keliru menirukan aksen dari ruth yang notabene orang batak-rantau yang lama tinggal di jawa.  

lalu, bagaimana mengatakan ’sama-sama’? katanya, tidak ada. lhah, bagaimana ini?

“bilang saja, ‘olo-olo’ …” ujar rebecca. wah, antik sekali kosakatanya. asing bagi telinga saya.

dan, melafalkan ‘o’ pun saya masih kurang regang.

olala … butet, butet!

 

Written by femi adi soempeno

June 4, 2008 at 2:25 am

Posted in Uncategorized

Tagged with ,