The red femi

Meriung di Riung Tenda

leave a comment »

BUKA PUASA dengan seorang karib, seorang teman, seorang sahabat, yang lama sudah tidak ditemui, rasanya membuat seluruh rindu tertumpahkan. Berbincang mengenai SBY hingga kancing baju yang sobek, berbagi mengenai setumpuk pekerjaan yang tak kunjung selesai, hingga gaji yang tak cukup besar.
Buka puasa dengan makan diluar memang bukan ritual yang saya jalani saban hari. Maklum, saya bukan seorang muslim. Tetapi satu-dua kali di bulan ramadhan ini, saya meluangkan waktu untuk menemui kerabat dan karib untuk buka puasa bersama.

26.10.2004 12.56 0815XXXXXXX Sore ada agenda kemana? Kalo kosong aku mau diajakin buka brng. Gimana?

Begitu bunyi pesan pendek yang mampir di handphone bapuk saya, dari seseorang di masa lalu yang saya panggil dengan sebutan ‘hun’. Biasanya kami keluar untuk makan pizza di pizzeria. Menghabiskan satu pan piza medium, ngobrol ngalor ngidul, lalu pulang. Tapi menu kali ini bukan pizza, melainkan makanan apa saja yang sesuai untuk buka puasa. Maka melajulah roda ke arah Rawamangun.

Meskipun terlewat beberapa meter, laju roda berbalik arah ke Riung Tenda, sebuah kedai dengan core makananya adalah ayam kampung, seperti ayam goreng dan sate ayam. “Hahahahaha … ayam kamu kecil sekali, hun!” Teriaknya sedikit surprise ketika satu piring ayam bagian dada itu datang ke meja kami. Tentu saja, karena ayamnya aym kampung, maka ukurannya pun mini. Dia memesan sate ayam, satu porsinya berisi 10 tusuk yang lumayan besar potongan dagingnya. Pesanan lainnya adalah cah kangkung yang rasa menteganya kental sekali, lalapan yang berisi dedaunan yang tidak saya kenal, sambal cobek dan dua iris tempe. Dan kami pun makan dengan lahap.

Riung, katanya, adalah kumpul. Jadi Riung Tenda adalah ‘ngumpul di tenda’. Tentu saja, yang dimaksud tenda disini ialah kedai ini. Arsitekturnya sungguh nanggung, bergaya sunda bukan, bergaya jawa juga bukan. Tapi agaknya si empunya tenda ini ingin menghadirkan suasana sunda meski tidak sepenuhnya ‘nyunda’. Lampion berjajar menggantung di langit-langit tenda. Bentuk bohlamnya tidak sama meski warnanya berbeda. Ini yang memberi kontribusi ketidakselarasan dalam desain interior tenda itu.

Mejanya saling berhimpitan satu dengan yang lainnya. Pun meja penuh dengan piring, sendok, tissue dan cobek melamin. Di salah satu bagian ruangan, ada yang khusus untuk lesehan, makan sambil duduk santai dengan meja pendek yang saling berhimpitan pula. “Masakannya biasa. Ga spesial banget. Ruangannya berasa penuh dan sumpek,” kata saya mengomentari tenda ini. “Iya hun … Sempit,” jawabnya menimpali. Lalu pembicaraan pun berubah ke sup kaki kambing di kawasan roxy, kedai ayam goreng di melawai, ikan bakar di yogyakarta …

Saya pun mengintip bakul nasi yang terbuat dari bambu yang disuguhkan di tenda ini. Entah karena memang porsinya sedemikian kecil, tidak ingin makan, lagi diet atau 1001 alasan lainnya, beberapa sendok nasi masih tertinggal di bakul bambunya. Padahal, porsi nasinya lumayan kecil. Hmmh .. Diet nih yeee …

Written by femi adi soempeno

October 26, 2004 at 7:13 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: