The red femi

hanya berempat

leave a comment »

ruangan itu hanya berisi kami berempat.

padahal ruangannya cukup lebar dengan kaca di kanan kiri yang membuat ruangan tampak menjadi seperti lorong ajaib. banyak dan berlengkung cokelat. bukan, bukan, namanya bukan aula. juga bukan hall. aduh … sebutannya bukan tempat nongkrong meski fungsinya adalah untuk nongkrong. bukan balai. hhhh … yah, ketemu: namanya wine lounge. saya duduk di kursi sebelah paling pojok, bersama seorang teman yang kemarin datang, seorang perempuan berkebaya matahari. ia hanya singgah untuk beberapa malam saja. besok ia pulang. dan ia hanya singgah beberapa jam saja dengan saya, dan beberapa botol wine, tentunya!

ya, hanya kami berempat di wine lounge itu. saya, perempuan berkebaya matahari, sahabat yang bersorban gulita, dan lelaki yang menelikung senja. tak lelah saya menggoda. “wah, sudah siap-siap potong rambut niyh!” atau, “tumben sudah wangi dan pake kaos rapi!” atau, “biasanya pake sandal jepit, ini pake sepatu sandal!” atau, “tumben kerjaannya sudah kelar,” atau … banyak!

ada kisah disana. asa. rindu. persahabatan. profesionalisme. cemburu. harap. sedih. bahagia. letih. saling menggoda. cinta. dan tentu saja: ‘gumbira’. bagaimana tidak. musik jazz mengantar kami pada pembicaraan yang serius, hingga tidak bermutu. saat berada di puncak gumbira, justru tembang ‘teman tapi mesra’ itu terlantun. perempuan yang berkebaya matahari, dengan lelaki yang menelikung senja saling bertatapan, dan tergelak memecah kelam.

seteguk. dua teguk. tiga teguk. satu botol. dua botol. empat botol. saya membayangkan perasan air jeruk berpindah ke perut dan kepala saya. pasti rasanya adem. pasti membikin kepala tidak pening. pasti membikin saya bisa berdiri dengan tegak. saya juga memindahkan kentang goreng, onion ring, chicken wing ke pikiran saya. sepertinya enak juga. saya lihat, lelaki yang menelikung senja mencoba berdiri, dan menjajal untuk menapak. melangkah. berjalan. uwh! masih sehat!

kami meracik nostalgi. saya melihat, ada cinta dari mata lelaki yang menelikung senja itu, pada perempuan berkebaya matahari. mengingat, apa yang pernah tertoreh. berharap, apa yang ingin terjadi.

terima kasih untuk pertemuan yang sejenak. kecil. sepele. namun berarti. seperti teman lama. seperti sebuah keluarga. saya berharap, duduk disana kembali, bersama lelaki yang bersorban gulita, perempuan berkebaya matahari dan lelaki yang menelikung senja. semoga.

Written by femi adi soempeno

January 21, 2005 at 1:39 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: