The red femi

saya kaya

leave a comment »

saya rasa, saya adalah orang yang cukup kaya.

dulu, saya membelanjakan honorarium saya untuk buku. buku apaaa saja. tapi umumnya buku referensi sosial-politik. maklum, inilah ‘nyamikan’ yang biasanya paling saya gemari. honor berapapun, baik itu dari menulis atau mengajar, biasanya saya investasikan di buku-buku yang saya boyong dari gerai buku diskon di jogja.

entah, tapi saya merasa kaya dengan memiliki buku-buku seperti itu. membacanya perlahan, membuat saya menjadi orang yang berpengetahuan. bekal ini yang senantiasa saya yakini bahwa saya adalah orang yang cukup kaya. tapi toh rasa kaya ini membuat saya tidak cepat puas, tetapi sebaliknya, merasa kurang kaya melulu.

“ayah nggak bisa mewarisi kamu dengan uang, emas-emasan, tanah maupun tabungan, tapi buku,” begitu ayah saya selalu berujar. dan memang itulah kenyataannya. di rumah, kami sampai kehabisan space untuk menyimpan buku-buku kami. buku ayah saya, buku kakak saya dan buku saya. kakak saya maupun saya, selalu merasa bahwa kekayaan terbesar kami adalah buku.

kakak saya mengeposkan buku-bukunya banyak sekali dari chicago. sampai saya kerepotan membawanya pulang ke rumah, dan memilih menumpuknya untuk sementara di kos-kosan saya. sementara itu, saya masih menyimpan satu kardus buku hasil belanjaan saya beberapa waktu lalu, dan masih juga saya gudangkan di kamar kos-kosan. pagi tadi saya belanja tak kurang dari 25 buku dari gramedia. saya pusing, dimana lagi saya bisa menyimpan harta terbesar saya ini.

saya memang tak hendak menjadi pramoedya ananta toer yang menggemari buku. pun menjadi pak timbul, teman ayah saya, yang juga selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli buku. tapi ya beginilah saya. membeli buku dan membacanya adalah kebutuhan sekaligus kesenangan yang semakin hari membuat saya semakin kaya, dan terus kaya, dan selalu merasa kurang kaya.

saya jadi ingat bu nani sutoyo, anak jendral sutoyo yang tewas pada malam 30 september 1965. pada saya, beliau bercerita bahwa setiap 2 kopor besar yang dibawanya bepergian, 1,5 space nya selalu ia siapkan untuk buku-buku yang ia beli.

atau, saya selalu saling bertanya dengan kakak saya, “besok kalau kita masing-masing menikah, barang apa yang kita bawa keluar dari rumah ini ya?” dan jawabannya sama, dan selalu sama: buku-buku.

adakah yang lebih berharga ketimbang buku?

Written by femi adi soempeno

May 25, 2005 at 12:26 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: