The red femi

bodohh

leave a comment »

“Apa hal terbodoh yang pernah kamu lakukan, femi?” tanya seseorang mengejutkanku.

Banyak. Nggak bisa dibilang ‘ter’ karena itu akan menunjuk pada satu hal yang paling bodoh saja. Dalam hidup, toh hal-hal bodoh tak hanya dilakukan sesekali, tapi berulang meskipun dengan kisah yang berbeda-beda.

Satu hal bodoh. Aku nggak pacaran hingga tingkat SMU. Saat itu teman-temanku sudah punya pacar. Bahkan, nggak jarang yang menjemput di sekolah, di depan gerbang sekolah. Sedikit banyak, aku iri pada mereka yang punya jemputan setiap siang, dan punya pasangan di setiap acara sekolah. Aku? Ouw … jangan tanya. Femi nggak pacaran hingga lulus SMU. Yang ada hanyalah nakal, demonstrasi, ikut gerakan bawah tanah, belajar menulis, di DO dari sekolah, dipanggil beberapa kali untuk diberi peringatan kepala sekolah, sering absen di matapelajaran olahraga dan belajar supaya naik kelas.

Satu hal bodoh. Aku melewati masa suram saat SMU. Bukan soal nggak naik kelas. Bukan soal dikeluarkan dari sekolah. Tapi saat mengenalnya dan terjebak olehnya. Mmm, yang ini, aku nggak ingin bercerita. It is so personal.

Satu hal bodoh, aku sering absen di berbagai matakuliah. Meski rentengan nilai di lembar kelulusan banyakan B dan A nya, tapi aku selalu menggampangkan matakuliah. Padahal, proses di kelas itu (ternyata) menarik, dinamis. Sayang, aku melewatkan begitu saja. dasar bodoh.

Satu hal bodoh, aku terlalu banyak mengenal laki-laki dalam hidupku. Si anu lah, si itu lah, si ini lah … mencoba untuk setia, tetapi toh tak selamanya kesetiaan itu dibalas dengan kesetiaan. “Kamu perempuan penuh cinta, bagaimana bisa dia menyakiti kamu?” tanya seseorang yang rela meminjamkan bahunya setiap kali laki-laki membutakan mata dan hati ku.

Satu hal bodoh. Aku nggak bisa mengurangi volume di kamarku. Selalu saja barang baru bertumpuk, dan aku nggak bisa membuang barang yang semestinya kubuang. Dari media massa cetak yang kategorinya koran harian, free magazine, katalog, hingga KONTAN dan FUND, bikin sesak kamar. Dari sandal jepit gocengan, sandal edward forrer, sepatu kets merah hingga etienne aigner, juga memadati rak sepatuku. Dari buku saku tentang wine, hingga ensiklopedi tentang posisi bersenggama, juga ikutan mojok di salah satu sudut kamarku.

Dan satu hal bodoh yang saat ini ingin kuhindari: jatuh cinta dengan orang yang beda agama dan beda baju

Written by femi adi soempeno

September 5, 2005 at 4:00 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: