The red femi

Bola 9 atau bola 15?

with one comment

Setiap hari, saya nyaris tak punya waktu buat senang-senang. Kadang kok ya eman-eman gitu lowh membuang waktu percuma. Kalau toh ada waktu yang rada senggang, saya memilih menge-charge tenaga saya dengan tidur. satu-dua kali, saya membuah jenuh dengan jalan-jalan ke mall. Maklum, rasanya tak banyak hiburan di jakarta yang menyenangkan seperti di jogja.

Di sebuah sore yang melelahkan, seorang teman mengajak ketemuan. Yah, lama banget nggak ketemu dia. Namanya Rian, dia wartawan radio berita 68-H. saya mengenalnya beberapa bulan yang lalu dalam sebuah liputan di pengadilan negeri jakarta pusat.

Di citraland, abis makan sore, (uwh, mana ada yah aturan makan sore) kok masih ada meja 9 feet berwarna merah yang kosong. Karena beliau bersedia saya tantang … maka satu meja pun kami pesan.

Bola 9 atau bola 15? Saya sih benernya lebih suka bola 9. sebaliknya, Rian agaknya lebih suka main bola 15. dodol. Ya sudah, maka  main di bola 15. si embak yang jaga rada cantik juga, putih dan menyenangkan walau agak budek. Gimana ga budek, lha wong saya panggil berulang-ulang agar bolanya ditata lagi, nggak juga denger. Sayang banget siyy … cantik kok budek.

 Nggak ada hitungan apapun, satu-dua permainan di bola 15 usai. Sebagian sodokan saya masuk tanpa perhitungan saya. Maklum, saya kadang nyodoknya sembarangan, tapi nggak sedikit juga yang kena. Coba kalo mabuk, pasti sodokan saya lebih jitu! Wakakakaka … tapi sodokan Rian lebih banyak yang masuk ketimbang saya. Uwh … bahkan di satu permainan, dia masukin semua bola!

 Saya jadi rindu Paimun. Kami biasa main bola sodok ini kalo saya pas lagi di Jogja. Nggak henti-hentiya dia mencela saya setiap saya ambil posisi mau nyodok. Yang cara berdirinya salah lah, yang kurang nunduk lah, yang belahan bajunya kurang kebawah lah. Selain celaan fisik, dia juga suka mencela kemampuan saya menyodok. Setiap kali bola masuk, dia pasti akan bilan, “Itu kebetulan aja masukkk …” atau dia akan dengan childish berjingkrak-jingkrak sambil bertepuk tangan girang. Asu.

Well, permainan ini memang bukan dominasi laki-laki. Bukan pula dominasi Rian maupun Paimun yang jadi tendem nyodok saya. Tapi apa jangan-jangan kemampuan nyodok di meja 9 feet ini memang representasi dari keampuhan mereka nyodok di kasur 1 x 2 meter? Hahahahaha … wah, maab, untuk yang satu ini saya nnggak bisa komentar. Abisnya saya nggak pernah jadi teman tendem mereka untuk urusan yang satu ini. hihihi …

Written by femi adi soempeno

September 17, 2005 at 3:57 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. kalo jadee temen tandem aku mau ga….lol
    btw…pengen dunk maen sodol ma kamu…

    dejavu

    April 30, 2008 at 6:48 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: