The red femi

Yu Mul

leave a comment »

Ibu dan kakak saya punya langganan kerokan dengan tetangga. Namanya Yu Mul. 

Tak tahu persis, siapa nama lengkapnya dan bagaimana asal usulnya. Yah, saya memang agak tak mempedulikan hal itu. Lha wong saya juga jarng banget kerokan dengan Yu Mul. Yang saya tahu, dia punya dua anak laki-laki. Setiap hari, ia mengenakan kebaya, dengan jariknya yang sangat ‘jawa’. Tubuhnya bungkuk, dan ia berjalan tertatih dengan padangan yang berkurang satiap harinya. Yah, tua sudah menggerogotinya. 

Di keluarga saya, yang paling sering langganan kerokan pada beliau adalah kakak dan ibu saya. Saya hanya sesekali saja, kalau bener-bener masuk angin. Tenaganya Yu Mul sungguh dahsyat, dan mampu membikin kami nggak berkutik karena Yu Mul selalu menahan badan kami agar nggak lari dari benggol dan balsem nya. Makanya, penyakit-penyakit yang terlihat sepele namun berbahaya seperti masuk angin akan ngacir begitu badan dikerok oleh Yu Mul. 

Beberapa hari lalu, saya ngiler dengan masakan di kedai Pak Cip yang menggelar dagangannya di setiap menjelang buka puasa. Pak Cip menjual aneka masakan, lauk, bahkan minuman yang segar-segar. Saya pun mengangkut beberapa jenis masakan dan cocktail. Termasuk, saya membungkuskan tiga telur dan tiga cocktail untuk Yu Mul sekeluarga. 

“Matur sembah nuwun … matur sembah nuwun … wah, jan, anake Pak Peno ki lho …(Terima kasih, terima kasih … wah, anaknya Pak Peno ini lho)” cetusnya begitu saya mengulurkan makanan yang bisa disantap di saat buka puasa. Seperti biasa, ia mengatakan hal tersebut sambil memijit-mijit lengan dan tangan saya. Dua hari kemudian, saya membungkus satu kaleng roti dan sirup untuk Yu Mul dari Mirota Kampus. 

Ya, saya berhutang banyak pada beliau, pada Yu Mul. Ia adalah potret orang cilik yang lapang hatinya, yang tak pernah mengeluh dan ringan tangan membantu siapapun. Cuciannya yang segepok bahkan bisa ia tinggalkan demi mengeroki kakak atau ibu saya yang sedang menahan sakit karena masuk angin.  

Telur, cocktail, roti kaleng dan sirup bukanlah apa-apa. itu muraaaah sekali dibanding dengan kesehatan yang Yu Mul pernah ‘piutang’ kan pada keluarga saya. Terima kasih ya Yu Mul.

Written by femi adi soempeno

November 1, 2005 at 3:43 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: