The red femi

hanger

leave a comment »

Di sebuah toko baju, mal kelapa gading, jakarta.

 Saya sendirian. Habis wawancara dengan seorang narasumber. Susanto, namanya. Ia ketua umum AP3MI. tapi, saya nggak ingin cerita soal Susanto. Saya ingin cerita tentang seorang perempuan muda yang menjatuhkan gantungan pakaian atau hanger.

 Tak jelas siapa yang melekatkan kata ‘hanger’ untuk sebuah gantungan pakaian. Yang jelas, sejak kecil saya memanggilnya dengan hanger. Ya, saya memanggilnya hanger walau badannya berwarna putih, kuning, hijau, biru, hitam. Ehm, maksutnya, cat yang melekat di hange itu memang berwarna-warni. Hanger ada yang terbuat dari kayu, plastik maupun besi. Bentuknya juga beragam, tak melulu besar, ada pula yang masih bayi alias kecil.

 Tak selamanya hanger digunakan untuk menggantung aneka pakaian. Memamg, lazimnya, hanger dipakai untuk menggantung kutang, kancut, kemeja, rok hingga celana panjang. Pun, namanya tetap saja hanger. Bahkan, di kamar mandi di rumah saya, saya menggunakan hanger untuk menggantungkan busa sabun mandi dan tutup plastik kepala. Di gudang di rumah saya, ayah menggantungkan plastik di sebuah hanger, isinya paku, mur, baut dan sejenisnya. Di dapur, ada juga plastik yang digantung pada sebuah hanger. Isinya? Lombok, kentang, sawi, buncis, kacang panjang dan bayam.

 Uwh, lalu bagaimana bentuk hanger itu? Ah, biasa aja kok, mirip banget dengan potongan bahu. Iya, iya, yang kerap kita lihat di toko itu. Memang, ada yang bentuknya bulat dengan jepitan banyak banget. Biasanya ini hanya digunakan khusus untuk menggantung baju dalam atau pakaian adik bayi. Nah, maksut saya disini ialah hanger yang biasa untuk menggantung pakaian orang dewasa.

 Nah, siang itu saya sedang membiakkan deretan hanger di sebuah gantungan. Ada lah kalau isinya itu lebih dari sepuluh hanger. Disana, menggantung pakaian yang berenda-renda ala trend 2006. sayang, tak satu pun yang rasanya muat di badan saya. Semuanya all size. Aih …

 Hingga akhirnya saya mendengar suara sebuah hanger jatuh, prlaaaak … spontan, mata saya langsung mencari sumber suara. Ada hanger yang jatuh. Tapi tak ada pakaiannya. Iya, hanger kosong, gitu lo. Rupanya hanger itu dijatuhkan oleh seorang perempuan muda menggunakan baju bergaris horisontal berwarna ungu, dan jeans sepanjang lutut. Ia tak begitu gemuk. Hmmmh, langsing tepatnya! Yah, saya menangkap mata, ia menjatuhkan hanger itu. Ia tampak mengabaikan hanger yang sudah ia jatuhkan. Ia malah berusaha menyeret ibunya untuk melihat pakaian yang menarik di gantungan baju yang lain.

 Ibu terlihat tidak mau mengikuti ajakan sang anak, kecuali si anak yang bodoh itu mengambil hangernya dulu. Membaca gerak mulut si ibu, saya melihat si ibu berkata, “Ambil dulu gantungannya … ambil … ambil nggak… ambil dulu, baru beli baju … ambil … “

 Si anak yang langsing dan bodoh itu tetap tak bergeming. Ia semakin erat menyeret sang ibu menuju gantungan baju. Ia berusaha membutakan diri dengan apa yang ada di lantai, ia berusaha tidak melihat dan tidak sadar dengan apa yang sudah ia lakukan: menjatuhkan hanger. Ia malah melompati hange yang jatuh itu dan terus menarik tangan sang ibu.

 Eh, si ibu tahu bahwa saya melihat ulah mereka sedari tadi. Mungkin malu. Mungkin memang ia ibu yang baik. Ia pun menarik tangannya dari genggaman anaknya, dan membungkuk mengambil hanger yang jatuh itu.

 Saya geleng-geleng kepala. Kok ada ya anak yang seperti itu. Kok ada ya perempuan langsing-bodoh-tidak bertanggung jawab-konsumtif seperti itu.

 Thanks god, im not that fucking girl!

Written by femi adi soempeno

February 3, 2006 at 1:15 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: