The red femi

tangan saya punya mata

leave a comment »

sudah empat belas tahun saya menarikan jemari saya di atas keyboard.

iya, ternyata sudah se-lama itu saya menulis. awalnya, hanya dimulai dari ke-iri-an saya terhadap kakak saya yang gemar menulis. kemudian, saya nggak mau kalah. saya juga harus bisa menulis. dan, saya mencoba untuk menulis. di usia 12 tahun, saya sudah memajang nama saya dikoran.

tak berhenti sampai disitu, tangan ini terus terasah untuk mengeperkan tuts keyboard. di sekolah, di kampus. di harian BERNAS, di penerbit KANISIUS. satu dua tulisan terbukukan. inilah potret diri saya. tangan saya, bak punya mata. terus menari dan tak bisa berhenti. langgam suara keyboard terdengar merdu di telinga saya.

malam ini, separuh hati saya bilang, saya ingin sejenak berhenti menulis. saya bosan. menulis begitu-begitu aja. saban minggu menulis bisnis, otomotif, makan-makan. saya ingin libur. tapi tak bisa. saya bekerja dengan menulis. saya hidup dengan menulis. bukan, bukan bayaran persoalannya. melainkan, saya sedang jenuh-jenuhnya.

sedangkan separuh hati saya yang lain bilang, selesaikan tulisan dan rangkai menjadi sebuah buku. terlalu banyak bermimpi. sudah, tulis saja. jangan takut untuk mencapat cibiran orang atas tulisan yang belum pernah saya buat sebelumnya. tapi susah untuk memulainya. bayangkan saja kalau kamu biasa memasak masakan jawa, kemudian kamu harus memasak masakan italia. salah-salah, bukan lasagna yang terhidang di meja, tetapi mi goreng.

saya bosan dengan gaya saya menulis yang begitu begitu saja. rasanya kok lurus lurus saja. nggak ada sensasinya. barangkali, ini saatnya mimpi harus diwujudkan: menorehkan secuil mimpi diatas kertas, membikin buku. bukan, bukan untuk royalti. hanya untuk penyegaran saja.

saya masih ingat betul bagaimana saya menangis terisak saat pak mardjuki dipecat dari sekolah saya dulu. saya juga masih ingat bagaimana saya dikeluarkan dari sekolah setelah membuat sederet tulisan yang memprotes sekolah dan saya pajang di hari ulang tahun sekolah. saya juga masih ingat bagaimana saya mencuri dengar soal tulisan yang menarik dan tidak menarik dari mas-mas wartawan di BERNAS.

keep the spirit. saya harus menjaga semangat menulis ini. saya harus membuat mata ini terjaga. terus menari diatas keyboard.

   

Written by femi adi soempeno

April 25, 2006 at 7:05 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: