The red femi

tumor itu milik ayah

leave a comment »

  

ayah terkesiap begitu dokter djatmiko mengatakan bahwa ada tumor dalam ususnya.

bukan hanya ayah saja yang terkejut, tetapi juga saya. dari garis mukanya, saya bisa membaca ada rasa takut disana. pada pisau bedah. pada ruang operasi. pada baju berwarna hijau. pada suntikan dokter. pada butir-butir pil. pada apotek. pada rontgen. pada sinar x. pada bunyi roda tempat tidur. pada lorong yang gelap rumah sakit. “ayah shock …” ujarnya sekeluar dari rumah sakit.

ayah, ketahuilah bahwa femi sangat sayang ayah. tak usah cemas dengan pisau bedah dan ruang operasi. nanti setiba di rumah, masih ada ruang baca dan kebun yang menanti ayah. tak usah takut dengan pil dan apotek. soalnya, femi akan menggantinya dengan bola-bola cokelat dan buah2an dari superindo kesukaan ayah. tak usah khawatir pada sinar x dan rontgen. kalau sudah sampai rumah, lampu neon yang putih dah tak menyilaukan siap menanti ayah. yang penting, ayah kembali sehat dan segar.

ayah, tak usah risau dengan penyakit yang hingga kini pun belum ketahuan asal usulnya. anggap saja itu sebagai upil yang lekat pada usus ayah. nanti dokter akan mengambilnya. kalau upil bisa diambil dengan jemari saja, tetapi tidak dengan tumor ini, ayah. harus ada pisau dan gunting, juga suntikan jarum yang akan membantu dokter mengambilkan ‘upil’ itu. bila sudah terambil, nanti pasti ayah akan kembali lega.

ayah, bersemangatlah ke dokter. demi femi, juga demi esti. bukankah ayah sendiri yang mengajarkan pada ibu, enam tahun lalu. bahwa orang datang ke rumah sakit untuk sembuh, bukan untuk yang lainnya. badan boleh sakit, tetapi jiwa tidak boleh sakit. ini hanya kesakitan sementara. nanti sesudahnya akan sembuh. ayah hanya sebentar pindah beristirahat. sementara tidak mengurus kebun. sementara tidak mengajar anak-anak. sementara tidak membeli lauk. sementara tidak sembahyangan. ini hanya sementara, ayah.

ayah sedih? ayah menangis? kesedihan ayah adalah luka bagi femi. air mata ayah adalah pilu bagi femi. jangan sedih, ayah. jangan menangis ya. andai tumor itu bisa dipindahkan ke tubuh femi, dengan senang hati femi akan berangkat ke meja operasi, tidak usah ayah yang menanggungnya. andai tumor itu ada bersarang di tubuh femi, femi lebih senang ketimbang ayah yang harus menderita karenanya.

femi akan pulang, untuk mengantar ayah ke rumah sakit. tunggu anak bungsu ini ya.

(ps: ayah, tahu tidak, setelah saya mencari tiket pulang ke jakarta, saya makan siomay mang mudi di samirono. siomay itu kesukaan saya. sudah lama saya ngiler dengan siomay itu. tapi, makan siomay kemarin rasanya nggak enak banget. makan banyak, rasanya juga nggak enak. rasanya: sepa. tetapi sesungguhnya rasa sepa itu datang dari hati saya. sudah sejak dari rumah sakit sejak ayah bilang, “ayah shock …”, saya ingin menangis. teriris rasanya melihat ayah bersedih dan tak bisa menyembunyikan keterkejutan vonis dokter. berjalan-jalan di malioboro pun rasanya sepi. aih …)

Written by femi adi soempeno

May 6, 2006 at 6:57 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: