The red femi

ayah opname

leave a comment »

  

Ayah sudah masuk rumah sakit.

saya agak stress soalnya kamar di panti rapih penuh. Dua jam nungguin ada pasien yang pulang atau ga. Eh, ga taunya ada. Jam 12 dipastikan ada kaar kosong di panti rapih, tetapi kelas 3. di kepalsaya, kelas 3 itu buruk sekali seperti dulu. Ternyata sebaliknya. Cukup nyaman dan lega juga. Cuman 1 kamar mandi di share untuk ber-4.

Masuk ke panti rapih, ayah sudah lemes2 gitu soalnya ayah kan ga napsu makan sama sekali. Badannya juga agak panas. Tak kasih obat penurun panas, ayah ga mau. Jam 3 berangkat ke rumah sakit. Sampe di sana, saya sendiri harus pontang-panting ngurus ke kassa-bagian persiapan opname-piutang dll bolak balik begitu. Hmmh …

Masuk di kamar, ayah harus cek ini itu segala. Dari darah, rotgen dll. Overall, kata suster sih bagus. Tensinya yang rendah, 110-60. jantung, paru2 semuanya bagus. Ayah sempat gojegan sama suster yang nggledek ayah ke kamar, tsayat nggak menghadapi operasi besok. Ayah bilang, nggak tsayat dan sudah siap. Susternya langsung bilang, “Jangan-jangan itu hanya dimulut saja ayah berani dan siap menghadapi, tetapi hatinya masih agak tsayat … ” ayah hanya ketawa2 aja.

Habis ayah dioper ke kamar, ayah tak tinggal keluar bentar buat beli buah dan minuman. Kalo nunggu dari rumah sakit, minuman baru di drop jam 6-7 an bersama dengan makan malam. Wah, menggeh-menggeh tenan saya bawa satu dus aqua dari parkiran sampai di elisabeth. Jauh banget ‘bo! Sesore itu, ayah ditengok oleh teman2 lingkungan dan pak piyanto. Selelbihny, belo dan pacarnya, reti. Hihi …

Makan malam, makannya bubur, sayur gambas, telur dan sawi ijo. Tak ambilin, ayah minta tambah! Wah, ayah ngajak guyon bener. Dirumah makanannya lebih jelas bumbu dan rasanya, juga makanan kesukaan ayah. Tapi ayah ga mau makan. Giliran di panti rapih, dengan lauk yang ga enak karena rasanya hambar, ayah malah minta nambah …

Abis mberesin semuanya dan ngobrol dengan ayah, saya pulang bentar buat mandi. Baru nyampe rumah, saya ditelepon sama rumah sakit. “hallo, ini dari panti rapih …” atiku langsung rontok. Ternyata, hb ayah itu rendah banget dan harus disuplai darah lagi. Panti rapih minta darah O. Hallah, darahku kan A. Saya cari kemana2 dari nomor telepon yang ada dan kenalan teman yang kupunya. Saya juga nanya mas didik. Ga taunya mas didik lagi rapat manten dan nyaguhi nyari, tetapi nanti malam setelah rapat manten. Hallah … saya langsung ngotot, kalau nyarinya masih nanti ya mendingan ga usah. Wong butuhnya sekarang. Saya sudah putus asa. Sebenernya PMI ada, tapi itu darah yang diambil tanggal 10. katanya, kalau ada yang lebih baru dan segar, itu lebih baik. Saya telepon rumah sakit lagi dan bilang pake darah itu aja soalnya ga ada kerbat yang punya goongan darah itu. Lalu saya ditelepon belo, dia nanyain soal darah. Wah, kebeneran. Wong golongan darahnya belo itu O. Nggak lama, mas didik telepon dia mau cariin sekarang. Hallah …

Saya buru2 kembali ke panti rapih. Soalnya susternya mintanya SEGERA. Hmm … rencana mencuci baju dan beres2 rumah terpaksa ditunda. Saat kembali ke rumah sakit, saya mendapati ayah tengah ngemil pringels. “Fem … kowe ngerti ra, jeruk karo anggur-e nang endi?” ayah nanya gitu. Wah, tadi sih sebelum kutinggal pulang, anggur dan jeruk itu masih ada. “Mboten ngertos …” jawabku. Ayah malah jawab, “Wis tak entekke ….” begitu guyonannya … hahahaha hallah, ngentekke jeruk karo anggur wae pake acara jedhekan.

Di panti rapih, saya ketemu mas didik dengan temennya. Bello juga dateng. Mas ididik nyoba dulu. Katanya, biasanya dia sih nggak bisa. Uratnya susah ditembus untuk diambil darah. Nah, temennya ini yang biasanya bisa. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Darah mas didik bisa diambil dan temennya enggak. Sementara si petugas PMI bilang kalo bello ga usah karena darah mas didik udah cukup.

Malam jam 12, saya harus bawa darah itu ke PMI di kotagede untuk diolah. Saya minta tolong bello untuk anterin saya ke sana. Proses pengolahannya hanya setengah jam. Ga tau tuh diapain darahnya. Darah itu kuberikan si petugas PMI di panti rapih lagi setelah dari PMI kotagede.

Sampe di rumah sakit, saya teler setengah mati, sudah jam 2.30. saya bingung mau tidur atau enggak. Kalau tidur, nanti kalo susah bangun bagaimana saat ayah membutuhakan. Tapi kalau nggak tidur bagaimana wong hari selasa justru membutuhkan tenaga yang lebih banyak. Ayah memaksa tidur. Ya sudah, saya tidur.

Bangun pagi jam 6, ayah sudah mau mandi. Ayah yang terbiasa dandan mbois, lha kok protes saat kuberi kemeja kotak-kotak biru-coklat dan celana coklat tua. Katanya, nggak matching. Hallah … pas kufoto, ayah juga ngarani, lebih baik fotonya pas nggak pake baju jadi keliatan kurusnya. Hmmh … nggak deh …

Written by femi adi soempeno

May 15, 2006 at 6:52 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: