The red femi

hari ayah operasi

leave a comment »

ini adalah hari yang paling mendebarkan.

bagaimana tidak. saya jarang melihat ayah sakit. sekalinya sakit kok begini. sesampainya di kamar sepulang dari rumah, saya liat ayah sudah nggak bisa nggaya. badannya sudah terkulai dengan selang ada di hidung. konon, selang itu langsung masuk ke lambung. ini adalah persiapan operasi. juga, kateter sudah doipasang di alat pipis ayah. ayah juga sudah memakai baju hijau. wah, jadi geli sendiri kalau ingat paginya sesaat setelah mandi. ayah sempat protes karena warna celana pedek dan kemejanya menurutnya nggak match, makanya beliau ingin ganti kemeja warna oranye. hallah … ;))

sambil menunggu persiapan yang lain, saya mengajak ayah berdoa. ayah kelihatan pasrah banget. ayah sudah mantep operasi demi kesembuhannya sendiri. spirit of life nya tinggi sekali. saya jadi lebih percaya, bagaimana dulu bappak bisa bertahan saat di 9 tahun penjara dengan semangat yang serupa. nggak lama, mbak eni dan bunga datang. nggak lama setelahnya, bu gino, mbak sarju dan bu didin datang. niatnya mereka mau berdoa buat ayah sebelum operasi, tapi keburu digledek sama suster.

rasane atiku sedut-senut lihat ayah digeret masuk ke ruang operasi. saya sempat mencium pipinya, dan membisikkan pada ayah bahwa ayah akan baik-baik saja selama di ruang operasi. saat itu saya juga bilang sama suster bahwa saya akan ketemu doktrnya sebekum ayah operasi. saya hanya ingin memantepkan hatiku aja bahwa dokter akan kasih operasio yang terbaik buat babe.

sata ketemu dengan dokter, saya bilang bahwa kalau bisa tumornya diangkat, dan dibikin duburnya jangan permanen. tetapi dokter bilang begini, “nanti kalau bisa saya angkat, akan saya angkat. tetapi soal dubur yang permanan itu, kelak bisa dipindahkan lagi kalau memang duburnya tidak dipotong/dibuntu,” begitu.

diluar, kerabat sudah berdatangan. dari lik ban, om yanto, bulik rini, pak wuryanto, pak pianto, om joko, lingkungan florentina, dan masih banyak lagi. mereka memenuhi ruang tunggu operasi di samping ruang operasi yang mestinya di share untuk beberapa keluarga. haha … bala-ne ayah akeh tenan. atiku agak legaan. mereka semua mendukung ayah dengan doa.

saat tengah operasi, ada panggilan dari ruang operasi. “keluarga ayah soempeno …” sontak jantungku terasa berhenti. saya langsung njenggirat dan lari ke ruang dalam. di dalam, ada satu pasien. kupikir itu ayah. matsaya jelalatan kemana2. ternyata bukan. tapi pikiranku langsung kemana2 saat melihat dokter masih pake seragam operasi, dan dengan kedua tangannya penuh darah. wakssss … “saya dokter hendro yang mengoperasi pak soempeno. tumornya ayah bisa diangkat. nanti saya akan bikinkan ayah dubur buatan tetapi lain waktu tidak bisa dioperasi untuk dikembalikan ke dubur semula. jadi ayah seumur hidup akan menggunakan dubur buatan ini … Bagaimana?” saya langsung mengiyakan. lalu saya keluar.

belum lama keluar, saya sudah diundang lagi, “keluarga ayah soempeno …” hallah … jantungku mandek lagi. saya langsung lari ke dalam. “putrinya pak soempeno?” tanya suster. saya mengiyakan. “ini ayah harus masuk ICU mengingat usianya yang sudah sepuh. hanya 2 hari saja di ICU untuk survey atau observasi melihat kondisinya. bagaimana?” Dengan pertimbangan usia dan stamina ayah, saya pikir bagus bila ayah masuk ke ICU. saya langsung mengiyakan. “tapi suster, ayah nanti sadar apa enggak di ICU?” tanysaya. suster bilang, “ya tergantung kekuatan ayah. kalau ayah kuat dan staminanya bagus, maka ayah bisa sadar. tetapi kalau tidak, ya … saya tidak brani menjanjikan sadar atau tidak. nanti kalau saya bilang sadar dan ternyata stamina ayah nggak bagus sehingga tidak sadar, bagaimana?” akhirnya saya langsung mengiyakan ayah untuk masuk ICU. saya tahu betul kondisi ayah. apalagi ini operasi besar. lalu saya keluar.

nggak lama, panggilan itu datang lagi. “keluarga ayah soempeno …” ampunnn … jantungku serasa dicabutin. saya le tap2an ra karuan. mana saya masuk ruang operasi itu sendirian. “mbak, ayah butuh golongan darah O 3 kolf lagi. mau cross dari PMI atau mencari darah sendiri? kalau cross dari PMI Rp 350 ribu per kolf, dan tetap harus mengganti darah nanti. kalau mau mencari sendiri ya monggo …” dengan pertimbangan nanti kalau2 butuh darah tiba2 dan darah belum siap, kan gawat. maka saya memutuskan untuk  ambil darah dari PMI saja. “suster, saya itu kalau dipanggil begini, rasanya tap2an je. mbok kalau manggil itu yang gimanaaaa gitu lho sus, biar saya nggak deg2an …” saya protes begitu sama susternya. dia hanya ketawa aja. “makanya masuk kesini sama kakaknya, atau sama pacarnya biar bebannya itu dibagi …” haiyah … saya pun memaksa suster agar menulis kesanggupan dan saya tandatangani saat itu juga. buar nanti saya nggak dipanggil lagi untuk sekadar tandatangan. wah, bisa2 saya jantungan beneran nanti.

operasi berjalan sangat lama. diluar, banyak kerabat yang datang dan pergi. memberi dukungan dan semangat padsaya. thanks gosh.

dokter sendiri memperkirakan operasi akan berlangsung 2,5 jam (terhitung sejak dia keluar dengan tangan bersimbah darah). maka kuhitung2, ayah akan selesai sekitar jam 1.30 siang. menjelang jam 3, panggoilan datang silih berganti agar kerabat menjemput pasien di pintu keluar. “keluarga ayah … ”  “keluarga ayah … ”  “keluarga ayah … ”  “keluarga ayah … ”  “keluarga ayah … ”  … nama ayah ga disebut2. setiap ada panggilan “keluarga ayah … ” , maka saya lalu diam dan berharap itu adalah nama ayah. dan finnally, jam 3 sore ayah keluar. “keluarga ayah soempeno …” lucunya, ayah keluar dari pintu masuk, sedangkan pasien lain keluar dari pintu keluar.

ayah langsung dibawa ke ICU. sepertinya ayah sudah melek, tapi masih belum sadar. sampai di ICU, ayah dapat kamar yang secuil ketimbang yang lain. mungkin, itu karena ayah dari kelas 3. ;)) tapi itu sudah lebih baik karena ayah ada di dalam kamar sendiri, dengan didning tembok di kanan kiri. sedangkan ada yang lain yang bersekat korden aja antara satu pasien dengan lainnya.

badan ayah menggigil. kedinginan. sama suster lalu dikrukupi bantal, dan kepalanya dikudungi handuk. pemandangan ini bikin saya kaget setengah mati. soalnya, saya ra weruh suster le ngudungi anduk putih! asem tenan kok suster ki. saya kaget liat ayah yang dikemuuli tebel sampe se leher, lalu di hidungnya masih banyak selang. dan kepala rapat ditutup handuk puutih! mak njenggirat je saya. suhu ruangan dipanaskan. konon, itu efek dari perbedaan suhu ruangan di kamar operasi dan diluar, plus reaksi berkurangnya bius.

setelah redaan dan normal, ayah boleh ditengok keluarga, tapi nggak boleh lama2. ayah harus istirahat karena tensinya tinggi. mbak wik dan saya datang untuk memberi support ayah.

pak, pokoke ayah kudu sehat, soale tasih ngijabke anak-anake wedok!
iya …
mangkeh nek nyuwun nopo2 pareng, ning ampun nyuwun rabi …
woh, ra oleh njaluk rabi yo?
nek pun sehat, mangke nodong anake mangan sing enak-enak … sakniki kan ilate iso nyeleksi panganan sing enak kalih mboten enak, sing larang kaling mboten larang to …
iya … oh iya fem, sesuk omongo om harto, soale dheweke meh nganggo mobile nggo suk nek ayah mulih. kowe telpuno om harto ..
nggih be … kancane femi nggih akeh sing nawari mobil nek ayah kersa.
nek ngono, kabeh tawaran ditolak …
lho?
ayah golekke randha sing nduwe mobil wae …
bla bla bla …

itu hanya secuil guyonan ayah saja. sebelum akhirnya diusir suster, ayah ngajak gojek nganti aduh2 soale perutnya sakit kalo dipake buat ketawa.

malam berjalan seperti biasa. ayah ga boleh banyak diganggu.
 

Written by femi adi soempeno

May 16, 2006 at 6:49 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: