The red femi

gemuruh di pagi itu, 27 mei 2006

leave a comment »

+ be, femi pulang ya

– ya, pulang aja …

Saya bergegas memberesi lemari, meja dan mengangkut beberapa pakaian kotor untuk dibawa pulang ke rumah. Sampah-sampah mulai dari tissue bekas hingga remah-remah makanan, saya masukkan dalam tas kresek hitam bergaris abu-abu. Tak lama, saya mencemplungkan plastik itu ke dalam kotak sampah. Saya lihat, ayah masih tenang menanti pagi tiba. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 6 pagi.

Tiba-tiba …

Lantai yang saya pijak bergoyang. Saya membalikkan badan, di luar, pepohonan juga bergoyang disertai angin yang cukup kencang. Gemuruh menderu. Mirip suara elikopter atau pesawat besar yang mendesing di pinggir kuping. Lampu menari ke kanan dan ke kiri. Isi gelas berhamburan dari wadahnya. Tak lama, saya mendengar semua orang di lantai ini menjerit, menangis dan mulai berlarian keluar gedung. Beberapa bagian saya dengar berguguran, mm, seperti suara bagunan yang mulai menjatuhkan serpihan demi serpihan. Ini adalah gempa.

Saya menarik bantal yang cukup tebal, saya telungkupkan diatas kepala saya dan ayah saya. Butiran 50 rosario dan madah bakti saya pegang. “Tuhan, apa yang terjadi dengan pagi ini. Ampuni kesalahan kami …” pinta saya dalam doa. Saya melanjutkan komat-kamit saya dengan doa salam maria dan bapa kami. Sementara, bumi masih terus bergoncang, seirama degup jantung saya yang juga terus berpacu.

Saya lihat, raut muka ayah saya sangat tenang. Tak tergambar dalam wajahnya rasa panik dan ketakutan yang mencekam. Saat bumi berhenti berguncang, selarik doa saya selipkan. “Terima kasih, masih melindungi kami ..” saya mencoba menulis sms. Begini bunyinya: barusan ada gempa besar. Aku takut …  tetapi sayang, tak satupun bisa terkirim dengan sukses, baik itu pada kakak di jakarta, magelang atau di jogja.

Tak lama, bumi menari kembali. Ah, Tuhan tengah bercanda. Iya, Tuhan mencandai seisi bumi ini. Kembali saya mendekap ayah, dengan sesekali menatap plafon yang diatasnya masih ada lantai tiga dan empat. “Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu …” Semua keluar, tetapi saya tak ingin keluar. Bagaimana ayah kalau saya keluar? Bila harus mati, ya mati saja. Bila harus tertimbun gedung berlantai empat, ya tertimbun saja. Bersama ayah.

Semua menangis. Semua panik. Semua menjerit. Semua bergegas. “Siapa yang mau turun?” ujar seorang suster yang usianya sudah separo baya. “Saya! Saya mau keluar! … Be, keluar dari sini ya!” kata saya, pada suster dan ayah saya. Segera, dua orang perawat menarik infus, dan bergegas mengeluarkan ayah dari gedung lantai dua. Jantung saya masih belum berhenti dengan detak yang terus cepat.

Beberapa barang saya kemasi, masuk dalam ransel merah. Pakaian. Beberapa gelas aqua. Kipas. Minyak

kayu putih. Boneka. Sarung. Radio. Jam tangan. Tissue. Gigi palsu ayah. Nyawa ini rasanya menguap sepertiga saat melihat jembatan bangsal elisabet dan carolus retak cukup parah, dengan beberapa bagian yang sudah jatuh mupruli. Antri lift. Ketakutan terus mendera, jangan-jangan ada gempa yang lebih dahsyat setelah gempa kedua.

+ Mbak, disini saja ya!

– Boleh di sebelah sana, suster? (sambil menunjuk ke tempat yang agak jauh dari himitan gedung tinggi)

+ Boleh …

Ayah diusung mendekati pintu keluar. Saya melihat kepanikan di setiap raut wajah. Takut. Mereka membicarakan gunung merapi yang meletus. Mereka membicarakan gedung tinggi yang mungkin rubuh dalam sekejab. Mereka membicarakan rasa sakit yang mereka rasakan. Mereka membicarakan kepanikan yang tiada terkira dan kekhawatiran gempa lain yang lebih dahsyat ketimbang pagi ini. Saya pun mencari tahu dari abang yang juga wartawan.

+ Mas, ada dimana?

– ada di jalan, dik. Bagaimana?

+ Mas, ini merapi meletus ya?

– sepertinya enggak. Soalnya ada kabar ini datang dari selatan.

+ selatan? Tsunami?

– nggak tahu. Ini aku lagi mau ngecek. Nanti kukabari ya dik …

+ oke. Aku disini lagi dievakuasi, sama ayah. Hati-hati ya.

Saya lihat, ayah berusaha mencari frekuensi radio yang bertahan dari amukan gempa. Tak satupun

mengudara, kecuali radio swaragama. Fuih! Satu per satu suster mulai menguping dari radio SONY milik ayah. Sau per satu pula, keluarga pasien ikut mencuri dengar informasi yang serba terbatas di radio kampus itu. “Eh, eyang … sempat-sempatnya nyahut radio …” celetuk seorang suster.

Rasanya ingin menangis melihat ayah. Terlantar di belakang kapel. Tak ada payung yang bakal meneduhinya pagi itu. Tak ada pakaian hangat yang melindunginya dari angin yang menggiggit. Yang ada adalah catatan angka tekanan darah yang melonjak mencapai 150/90.

Saya mencuri lihat sekitar. Seorang nenek renta yang diasuh oleh anak laki-lakinya. Sepertinya nenek itu kesakitan. Ada juga seorang ibu yang ditemani anaknya yang berseragam stella duce. Juga ada pasien yang tanpa keluarga, berusaha ngereh-reh dirinya sendiri sembari memegangi tongkat yang tergantung infus diatasnya. Ada beberapa perempuan yang saya kenali sebagai suster, masih berseragam preman atau sipil. Tak berseragam putih, mereka tetap menarik pasien demi pasien, membagikan minuman dan makanan. “Be, tenang ya. Femi masih disini. Everything will be ok!” bisik saya pada ayah saya.

Mentari sudah memamerkan sinarnya. Ayah diusung bersama pasien sebangsal. Bersama dengan seorang lelaki berusia 79 tahun yang jatuh dari kamarmandi. Juga dengan lelaki berusia 60-an yang tengah menderita sakit ginjal. Dan seorang lelaki usia 55 yang barusaja operasi empedunya. Bersama dengan pasien yang sakit itu, ada anak dan famili yang menjagai. Bukan hanya seorang saja seperti saya …

Written by femi adi soempeno

May 28, 2006 at 6:42 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: