The red femi

kemplang

leave a comment »

mari berhitung.

enam tahun silam, bapak pejabat kampung ngemplang keluarga saya. bagaimana bisa? ehm, bisa saja. saat kematian ibu, semua ongkos ini-itu di mark up, plus ada charge disana-sini. yang harusnya hanya Rp 100 ribu, keluarga saya ditarikin dua kali lipatnya. yang harusnya gratis, saya harus membayar Rp 50 ribu. itulah kultur di kampung saya.

dan ini terjadi lagi.

namanya juhartono. lelaki setengah baya, berkelakuan manis dan sopan, membantu saya dalam banyak hal sesaat setelah ayah saya pergi. saya kira, wajar saja dia membantu saya, sebab ayah saya sangat menghargai dia dan kerap memuji kelakuannya sebagai orang katolik.

tetapi tagihan datang kemudian.

sederet nama meminta ongkos masak. di dalamnya, ada nama dia. bah! tercetak di belakangnya, ada F yang artinya full. maksudnya, 3 hari berturut2 membantu memasak, menjerang air dll. nama-nama yang ada kurungan F di belakangnya, adalah nama istri dan anaknya. cuih!

di dunia ini emang ga ada yang gretong. najis. saya baru sadar bahwa kematian adalah sebuah bisnis.

uwh.semoga karma datang belakangan.

Written by femi adi soempeno

June 5, 2006 at 1:26 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: