The red femi

tiga jam

leave a comment »

tiga jam saya bersama seorang teman. namanya adi.

itu bukanlah perjumpaan pertama. sebelumnya, saya bertemu dengannya saat ia melayat swargi bapak di rumah, awal bulan juni ini. tapi pertemuan yang ini sungguh mengesankan saya.

tutur katanya tertata dengan rapi. bahasanya santun. darinya saya tahu bagaimana ia berjumpa dengan belahan jiwanya, dua tahun silam. gelak kami memadati kedai warung makan itu saat ia mengisahkan bendho dan arit yang ia usung di pundaknya saat hendak menelikung sang pujaan hati. “sudah mantep-mantep begitu, ternyata pacarku tetap memilih pacarnya … bukan milih aku!” romansa. warna merah jambu. nostalgia. kenangan. kuncup mawar merah. genggaman hangat. menabung rindu. adi masih membawanya sampai kini, mengenang masa-masa menelikung sang belahan jiwa.

pemikirannya sangat ringkas dan ekonomis. hmmh … pada saya ia mengabarkan soal masa keemasan yang ia raup tahun lalu. dengan aset yang menumpuk. tabungan dengan nominal yang banyak. prestige yang sangat layak dengan berkendara roda empat. sambutan yang hangat dari semua partner bisnisnya. hingga kejatuhannya, akhir tahun lalu. “aku mulai mengatur semuanya. aku merevisi hidupku. aku menghitung setiap sen demi sen yang kukeluarkan,” katanya dengan wajah yang datar. iya, adi pernah berkubang pada rupiah. pada jabatan. pada image. dan dalam satu jentikan jari, ia hidup dari aset yang satu per satu dijualnya.

betapa hangat perbincangan kami. dengan dua capucino. dengan dua ice lemon tea. dengan satu calamari. dengan satu french fries. dengan satu oxtail soup. berbicara tentang bagaimana hidupnya, dan hidup saya. tentang bagaimana sebuah masa mencerabut saya di tahun 1997. tentang bagaimana hidup selama 9 tahun belakangan ini. tentang mantan belahan jiwanya yang sudah 5 tahun dipacarinya. tentang kereta prameks yang membawanya pada akhir pelaminan. “kamu … sudah memikirkan pendamping kamu, fem?” saya terhenyak. saya terdiam.

perasaan alumni dan tidak alumni itu semakin menipiskan jarak diantara kami. yang tersisa adalah rasa bersaudara dan rasa seusia. tetapi tetap saya rasa, sembilan tahun belum sepenuhnya mengembalikan perasaan saya yang luluhlantak karena ketidak-terimaan mereka terhadap saya. iya, saya yang tak bisa menyelesaikan sekolah di sekolah itu hingga tahun ketiga.

tapi sudahlah. ada yang lebih penting ketimbang mengurusi soal reuni, alumni, dan temu angkatan bukan? tahu itu apa? ya seperti bertemu dengan adi. berbagi hidup yang tak pernah terceritakan. sembilan tahun. dan rasanya tak mampu bila diringkas dalam 3 jam itu.

Written by femi adi soempeno

June 24, 2006 at 1:15 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: