The red femi

saya menyesal tidak menjadi saksi

leave a comment »

sore sudah menjemput. saya harus kembali ke jakarta kembali.

memastikan mengunci semua pintu dan menutup semua jendela adalah kewajiban baru saya, kini. sembari menyelipkan doa kecil, semoga rumah ini aman dan terjaga selalu. berpamitan dengan swargi bapak dan ibu, juga menjadi kebiasaan baru saya. iya, mereka tahu si bungsu ini kembali ke jakarta, untuk kembali ke jogja lagi minggu depan.

semalaman, saya bersatu-gerbong dengan majelis mujahidin. serombongan orang bersorban. mengenakan pakaian serba tertutup. berjenggot panjang. mengumandangkan adzan maghrib di dalam gerbong. berkelakuan sangat manusiawi. iya, meski mereka sangat islami, etap saja mereka manusia kan.

saya juga punya kenalan baru, tami namanya. perempuan yang bekerja di sekneg bagian kerumahtanggaan ini kini harus membiasakan dirinya untuk pulang ke jogja. setidaknya dua minggu sekali. sebab, rumah orang tuanya di bantul tak lagi kokoh berdiri seperti dulu. semata-mata, tami ingin menemani kedua orang tuanya. kebetulan, ia pulang dengan abangnya, tomo.

pagi tadi, bajaj mengusung saya dari stasiun senen ke tanah abang. ongkosnya murah, hanya Rp 12 ribu berdua, dengan mas anton. ditengah deru bajaj yang tercekik oleh beban kami, lelaki satu anak ini pun mengisahkan perjalanan jumat kemarin.

+ ingat perawat itu?
– iya, yang turun di kutoarjo dulu kan. yang sempat kamu pangku kan?
+ hahahaha … kemarin dia nebeng pulang lagi.
– hah? aduh, aku menyesal kenapa nggak pulang sama kamu
+ wah, dia itu sudah kusebelahkan dengan pak gendut, pak kiman itu. tapi pak yadi langsung menarik pak kiman agar jatah kursinya dipake aku.
– hahahahaha … sudah sewajarnya begitu kan?
+ weh … bojon polisi … celakanya, dia sendiri bilang, kok lampunya nggak mati. soalnya susah tidur kalau lampunya hidup begini. kojur tenan …
– hahahaha …

saya bisa membayangkan malam itu. malam saat perempuan yang sehari-harinya mengenakan pakaian serba putih, bersanding dengan mas anton. hanya di kereta. hanya duduk sebelah menyebelah saja. tak lebih. ibu perawat itu turun di kutoarjo untuk menjumpai suaminya yang seorang polisi.

yang membuatnya menjadi lebih istimewa adalah saat mas anton memangkunya, dari cirebon hingga kutoarjo, beberapa bulan lalu. tak lama, keduanya menjadi buah bibir yang sangat seru di setiap perjalanan. memang, keduanya tak nakal dan berusaha mencari kesempatan. hanya menggunakan kesempatan yang ada saja.

aduh, saya jadi menyesal. kenapa saya tak pulang bersamanya saat itu. menjadi saksi hidup saat keduanya memerah kupingnya, dengan hidung yang kembang-kempis menahan sipu. konon, si perawat hendak bercerai dengan suaminya lantaran si lelaki nikah siri dengan perempuan lain. hmmh … uwh, tak penting sebenarnya mau apa si perawat itu dengan suaminyaa. yang lebih penting adalah, kenapa saya tak ikut bersama dengan mas anton malam itu.

Written by femi adi soempeno

June 26, 2006 at 11:24 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: