The red femi

saat penyakit menggerogoti tubuh

leave a comment »

sakit?

rasanya tak ada istilah itu di dalam kamus hidup milik saya. suer! yang ada adalah sehat, makan enak, minum air putih sebanyak mungkin, tidur nyenyak, dan bekerja keras. kira-kira ini definisinya:

sehat: nggak penyakitan, bisa kesana-kemari dengan leluasa dan tanpa beban. hidup tanpa sebutir obat.

minum air putih sebanyak mungkin: ini hukumnya wajib. konon, biar metabolisme tubuh lancar. wah, ini sih nggak bisa ditawar!

tidur nyenyak: tidur. dimanapun. beralas apapun. bergaya apapun. yang pokok, besok pagi bangun dengan segar dan berseri.

makan enak: tak harus mahal, yang penting nggak bikin perut mual dan ‘nyaman’ saat di kunyah di dalam mulut.

bekerja keras: work. work work. what else?

selebihnya, kalau memang harus sakit, rekam medik nomer 039148 atas nama F.Femi Adiningsih juga menunjukkan sakit yang sepele saja. misalnya, panas, batuk, mens tak berhenti, ada klip nyangkut di tenggorokan, rasa mual yang berlebihan, dan sakit gigi.

riwayat keluarga?

puji Tuhan, ayah sehat hingga pucuk hidupnya. meski sesaat sebelum meninggal, ayah ternyata diketahui mengidap penyakit gula. beliau meninggal karena sepsis atau infeksi yang ada di usus yang barusan dioperasi. sedangkan ibu, sejak tahun 80-an harus bergantung pada obat karena sakit gula. maut menjemputnya karena mengalami pembengkakan di jantung dan paru-paru, dan ginjalnya mulai tak berfungsi. namun, keduanya meninggal dalam kondisi yang utuh dan bersih.

saya workaholic.

saya tahu persis itu. bangun, bekerja, jalan-jalan mencari inspirasi, menautkan temuan pada tulisan. tak pernah berhenti belajar menulis. berusaha menjadi yang terbaik, meski tak selalu menjadi yang terdepan. pulang ke jogja, langsung berkebun (dulu bercengkerama dengan ayah!), keliling kota, menjumpai sahabt-sahabat lama, ke gereja, menjumpai ayah dan ibu di rumahnya. tidur kadang hanya 3-4 jam saja sehari. tak bisa lepas dari komputer dan internet. berpikir keras. saya tak ingin ada tanggal merah. inilah nikmat hidup yang tiada terkira!

takut rumah sakit. takut dokter.

itu faktanya. membaui rumah sakit seperti membaui kesakitan yang amat dalam. merongrong tubuh. menumpuk kengerian. saya pernah menulis ketakutan itu di sini. ketakutan terhadpa rumah sakit itu semakin menjadi kini. rasanya, hati saya ini habis setiap masuk rumah sakit. ingat ayah dan ibu yang memilih untuk meninggal di rumah sakit. sungguh, saya tak ingin sakit karena saya takut dnegan rumah sakit.

“periksa dokter ya. check up. kamu nggak pernah istirahat …”

atau ujaran lain yang bunyinya seperti ini.

“mbok cek dokter, fem. lebih baik tahu sebelumnya, kalau memang misalnya ada apa-apa. nanti aku kirim duit.”

kakak-kakak-kakak meminta (tepatnya: memaksa) saya untuk ke dokter. ke rumah sakit. mau tak mau, saya mencatatkan diri. nomor satu, di dokter lucia wahyu hartati. hari ini. 15 item pengecekan darah. hematologi. hitung jenis lekosit. indeks eritrosit. fungsi hati. fungsi ginjal. diabetes. lemak. imuno-serologi. amilase-lipase. USG.

hati-hati, diabetes.

iya. hasil laborat memang begitu. banyak hati-hatinya. banyak yang terlalu rendah. banyak yang terlalu tinggi. “gulanya tinggi sekali, 222!” seru dokter lucia. whooosssssshhhhhh … seperti ada godam yang memukul rongga dada. sakit. saya diabetes? masih muda sudah berpotensi sakit gula? “Enzim hati, juga diatas batas normal,” imbuh dokter lucia. katanya, mestinya tak boleh lebih dari ambang batas. angka-angka di lembaran hasil laborat, hasil pemeriksaan darah saya, sungguh membuat saya tercengang.

iya,  a k h i r n y a   saya sakit!

“nggak boleh stress. nggak boleh tergesa-gesa, itu memicu depresi dan stress. nggak boleh kecapekan. banyak olah raga. gula dikurangi. ganti makanan serba-gula dengan yang tidak mengandung gula. mumpung masih muda, semoga bisa hilang …” pesan dokter lucia. iya, iya. masa muda tak akan berulang. masa muda tak akan menghampiri kembali saat angka umur semakin bertambah banyak setiap tahunnya. kecuali, bila saya ingin mati muda.

agaknya, saya harus memasukkan satu istilah ini dalam kamus hidup saya. apa ya baiknya? sakit? atau gula? atau nggak sehat? ah, sama saja. intinya: saya murung.

(ps: “jaga diri, fem. we are getting older!” begitu bunyi pesan pendek dari kakak saya. iya, saya akan jaga diri. lebih-lebih, saya sebatang kara saat ini di Indonesia)

Written by femi adi soempeno

August 11, 2006 at 9:24 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: