The red femi

kecele

leave a comment »

sore kemarin saya sudah duduk dengan sangat nyaman. ya, sangat nyaman.

saya berangkat ke Jakarta dengan kereta ekonomi. seperti biasanya, saya pulang bersama dengan teman-teman.  nyaris tak ada rasa risih duduk di sebelah lelaki muda bercelana jeans sobek dan mengusung ayam jago di kolong. “Ini biasa buat pertandingan,” pamernya, sambil merokok.

saya hanya merasa geli bagaimana kalau pagi nanti ayam itu berkokok dan membangunkan seisi gerbong ini. atau, bagaimana kalau si ayam tiba-tiba lepas dari kandangnya dan menginjak-injak orang-orang yang tidur di koridor? hiyyy!

stasiun tugu.

stasiun sentolo.

stasiun wates.

stasiun jenar.

nah, ini dia. rasanya telinga menjadi seribu kali lebih peka. rasanya seperti ada kupu-kupu yang berjoged di dalam perut. rasanya seperti ada jarum yang menusuk-nusuk urat nadi. sayup-sayup telinga saya menangkap suara dari ujung bordes, “alon-alon … nomere plencar-plencar … 15 D, 15 E, 17 C, 9 A … piye yo … simbah digandeng … maju sik … sing penting mlebu … iki tikete nang nggonku …”

sontak, kepala saya menengadah ke arah nomer kursi. mati gue. kursi yang saya duduki ada yang punya. gue kecele. soedhar, teman saya, langsung mengacungkan segepok koran yang dibwanya. “tenang, ada koran …”

benar. saya harus menyingkir. begitu jug soedhar.

saya menggelar koran. tebal. berharap, koran ini cukup hangat mengalasi badan saya yang juga tebal. saya merebahkan badan di koridor diantara kursi-kursi. tidur. selonjor. soedhar kemudian menyodorkan satu lembar lagi. katanya, untuk tutup wajah. ehm. bener juga. kalau nggak ditutupin, bisa-bisa ada tungkak, jempol atau tai kucing yang nyangkut di pipi atau hidung. tapi itu sudah untung lo, ketimbang yang keinjek kacamata gue???

jes jes jes …

malam mengantarkan kami pada sang fajar. deru kereta menggertak dingin yang menyelusup ke tulang.

saya memukuli pemilik betis besar atau sandal kotor yang menginjak rambut saya atau yang memarkirkan kakinya tepat di depan wajah saya. bila ada kesempatan, saya menendangnya. yah, mereka pedagang cirebon yang nakal dan nekat.

pagi hari.

saya menemukan selembar koran yang sedianya menutupi wajah saya, tinggal berbentuk segitiga kecil. kecil sekali. hanya sobekan kecil. sialan. injakan pedagang semalaman dahsyat juga. saya bangun. bergegas untuk keluar gerbong. sudah sampai bekasi. sebentar lagi jatinegara, lalu senen. saatnya turun.

Written by femi adi soempeno

September 25, 2006 at 7:48 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: