The red femi

weekend yang sempurna

leave a comment »

minggu lalu, saya ngeri membayangkan akan menghabiskan weekend di Jakarta.

hitungan saya, saya pasti akan menghabiskan sepanjang hari mengetik di kantor, atau di kos. kemudian mencuci pakaian dalam. bercengkerama dengan teman-teman satu kos. kesusahan mencari makan siang. kegerahan di kamar kos. dna mulai kesepian karena satu per satu menghilang untuk pacaran. ujung-ujungnya, saya menghabiskan hari diatas kasur. sibuk membaca, menyeterika baju, tiduran sambil mendengarkan musik. pokoknya, membunuh hari yang panjang.

harusnya kami camping di jogja. atau jadual cadangan kami adalah jalan-jalan ke Bandung. tapi, pekerjaan membatalkan semuanya. saya harus nelangsa berakhir pekan di Jakarta.

eh, tetapi tidak lo. coba lihat apa yang sudah saya lakukan di jakarta selama weekend kemarin.

saya menjumpai seorang teman. kami bercengkerama hingga larut malam. dua gelas black tea plus susu, dan beberapa gelas air mineral. kami membincangkan senja yang pernah kami lantunkan di pojok jogja. juga, tentang segelas kopi hitam ice blended di starbucks tebet. dan, tentang desain esok hari yang harus kami untai. kami yakin, kami hanya duduk bersisian saja di beranda hati kami. tak lebih dari mengguncangkan bahu kami saat tawa pecah berderai, atau saat gelak terurai dengan sempurna dan bulir bahagia menetes dari sudut mata. saat itu saya berharap pagi tidak segera tiba. tapi itu hanya kembang harap saja. bagaimana seorang femi bisa menghentikan pergerakan malam?

paginya, saya membungkus sebelas film di glodok, dan beberapa keping audio. sesungguhnya saya sangat menyukai sabtu. dia hangat, bersahabat, dan membebaskan pikiran untuk sejenak bersantai. hmmh … tapi sabtu pagi saya masih membopong kekhawatiran, saya akan kesepian di Jakarta. eh, saya ingat, saya masih punya sederet acara yang mestinya tak bisa dibatalkan, yaitu menuju radio dalam. aan, febi, deon, dan dodid sudah menanti di sana. juga, beberapa masakan B2 dan B1 nan lezat. yummy. siapa yang tega meninggalkan santap siang ini? coba, tunjuk tangan? uwh, ternyata tak ada. bahkan, bimo pun akan buru-buru meluncur.

tapi sore sangat sepi.

deon liputan.

bimo tak kunjung datang.

dodid di lebak bulus

aan dan febi pacaran.

femi? femi kemana? terkurung di ruangan yang hangat di sebuah kos-kosan asing? uwh …

saya takut.

saya takut sepi.

saya takut sendiri.

maka, tak ada salahnya berburu senja dan mengurai tawa dari tikungan bulungan, sembari menemani mas heru berbuka puasa. tapi surprise buat saya. saya kira, mas heru hanya mau makan sepiring-dua piring saja. ternyata, masih ada acara lihat-lihat cd —yang kemudian bikin saya belanja cd-nya tompi— dan mencecap legitnya gelato ala kafe pisa dan sepiring pizza ukuran reguler di tempat yang sama. duh! aduh mas, bukannya saya jaim. tapi perut saya masih agak penuh dengan B2 bekal makan siang tadi. dus, saya hanya bisa menyantap setengah piring gultik yang legendaris itu, dan satu iris pizza.

entah kenapa. malam itu ketakutan saya lenyap seketika. seiris pizza rasanya bak satu pan pizza. air mineral pun rasanya lebih nikmat dari biasanya. (eh, apa air mineral itu ada rasanya? nggak kan? tapi aneh, malam itu sepertinya air mineral itu berasa!). ya, ya. ini adalah nikmatnya punya teman untuk berbagi. melemparkan lelucon. melayangkan gugatan, mencandai nasib. mengamitkan jemari.

harusnya saya tak usah khawatir, saya punya banyak teman disini.

kembali ke radio dalam setelah penolakan satu taksi ekspress, saya melepaskan gundah yang bersarang di benak. mengguraui aksi orang jerman dan amerika yang berebut resep bir, sekaligus menjadikan saya sebagai objek gurauan(uwh …!!!), berbagi dengan sahabat yang seolah membisiki saya, “jangan khawatir, weekend kamu akan menyenangkan di jakarta. kan ada kami …”

meski saya menjadi anggota pasukan yang terlewatkan untuk kongko di circle K, tapi buncah bahagia malam itu tak bisa saya sembunyikan. catatan ingatan saya sudah merangkum semuanya: saya masih punya teman untuk berweekend di Jakarta.

ps: special thanks to thusara, aan, deon, febi, dodid, bimo, mas heru.

Written by femi adi soempeno

October 8, 2006 at 7:35 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: