The red femi

Archive for October 14th, 2006

my popeye will move to france

leave a comment »

pagi ini saya mendapat kabar dari abang saya soal kepindahannya akhir tahun ini. saya sedih. 

+ aku pindah ke france akhir tahun ini.

– kapan? nggak jadi ke bangladesh?

+ nggak. aku harus ke headoffice di france. nanti nggak tahu dilempar kemana. tapi aku sesungguhnya ingin ke bangladesh saja.

– kpan berangkat? (suara saya sudah serak … sedih!)

+ hmm … tanggal 10 nanti, mau ke USA dulu, pulang, dan kemudian ke france.

speechless. saya sedih. dasar pelaut!

beberapa masa saya habiskan bersamanya. sejenak. ditengah kesibukan. mencuri weekend. meletakkan letih. duduk-duduk di beranda hati. bercanda dengan senja. piknik 512 km ke arah timur jakarta. menggemericikkan bath tub. menawarkan odol. mendendangkan don williams. meminggirkan pekerjaan, mengkonsentrasi pada suara di seberang telepon. memetik bintang. berbagi harum. secangkir dilmah black tea plus susu dancow. berkisah soal black label dan wine. impian melaut kembali di usia 40.

– I will miss u …

+ me too … tapi aku harus pergi. aku orang yang tak berumah ..

iya, iya. jelas kamu tahu bang, saya akan patah hati. hah!! iya, saya enggak bohong. bagaimana saya bisa melupakan perbincangan pertama di telepon seluler, dengan aksenmu yang tak jelas. atau, bagaimana saya bisa menyembunyikan keterkejutan saya saat abang ingin ikut ke Jogja bersama saya di ujung minggu, saat itu. atau, bagaimana saya bisa menawan tawa saat teringat abang menawar busur panah dan topeng indian. atau, bagaimana saya bisa mengabaikan abang yang masuk ke starbucks dengan kemeja rapi, berdasi merah, celana biru donker, sementara di ujung minggu abang hanya menggunakan celana kolor, tanpa sandal, berkaos lusuh, dan menjemput saya di rumah.

You placed gold on my finger you brought love like I’ve never known
You gave life to our children and to me a reason to go on
You’re my bread when I’m hungry you’re my shelter from troubled winds
You’re my anchor in life’s ocean but most of all you’re my best friend

When I need hope and inspiration you’re always strong when I’m tired and weak
I could (search this whole world over you’d still be everything that I need)
You’re my bread (when I’m hungry you’re my shelter from troubled winds
You’re my anchor in life’s ocean but most of all you’re my best friend)
You’re my bread (when I’m hungry you’re my shelter from troubled winds
You’re my anchor in life’s ocean) but most of all you’re my best friend

saya tahu persis bagaimana rasanya kehilangan. dan saya akan menjelang itu, nanti, pada 10 desember 2006. ya, ya. saya akan kehilangan satu abang.  

(ps: bang, saya ingat betul bagaimana kamu tertawa terbahak saat saya menyebutmu sebagai popeye. kemudian kamu mencari, siapa olive dan brutus nya. dan kamu tergelak. popeye … popeye … I will miss u, popeye!)

Written by femi adi soempeno

October 14, 2006 at 7:30 pm

Posted in Uncategorized

beli bekal

with one comment

pagi tadi saya menyiapkan bekal untuk libur panjang lebaran nanti: wine.

saya membungkus dua botol wine merah kesukaan saya: shiraz dan cabernet franc shiraz. saya masih menebak-nebak nih bagaimana rasanya nanti. mm … tapi itu jenis full bodied yang rasanya gentle. hmmh … kayaknya bakal oke nih libur lebaran nanti.

pasangannya apa ya?

mungkin saya akan memasak rendang. (memasak? aih, nggak salah fem??) atau, bisa jadi rawon. yang jelas kalau disandingkan dengan opor ayam … kayaknya nggak cocok deh. saya sudah membayang-bayangkan, pasti seru sekali nanti makan di rumah bersama teman-teman, memulas malam dengan tawa dan sebuncah cerita-cerita seru. wah! 

ada yang mau bergabung?

Written by femi adi soempeno

October 14, 2006 at 6:33 pm

Posted in Uncategorized

Dilmah tea

with 2 comments

p1070065.JPG

 saya gelinjangan keranjingan dengan dilmah tea.

saya sudah mengenal teh ini jauh jauh jauh hari. mmm … hanya saja, saya nggak begitu ngeh dengan teh ini. yang saya tahu pasti, banderol segelas dilmah tea ini cukup mahal di pizza hut. wah … hingga saya bertemu dengan abang, dan dia bercerita tentang dilmah tea.  abang juga meracikkan saya black tea dari dilmah dengan susu dancow. duh, saya jadi berburu dilmah tea di sogo atau bali deli. harganya lumayan nendang, Rp 32-34 ribu per pack. bandingkan harganya dengan satu pack teh celup sariwangi. 🙂

jadinya, saban hari saya rajin minum beberapa cangkir dilmah tea. saya mencoba beberapa teh dilmah tea rasa. misalnya,rasa jeruk, blackcurrant, strawberry dll. tapi pilihan saya jatuh pada green tea. eits … bukan karena saya pengen langsing seperti promosi banyak orang soal teh hijau. tetapi …. mmm, tetapi apa ya? ya, karena saya ingin aja. green tea terasa lebih natural. apalagi, saya meminumnya tanpa gula.

saya mulai suka meyruput teh tanpa gula sejak umar, teman saya, menawari teh pahit di sebuah sore. penat yang menjerat kepala, sumber yang tak kunjung bisa ditangkap, akhirnya terlegakan sejenak dengan teh racikan umar di ruang makan. pahit, panas, dan warna tehnya gelap, segelap kulitnya. hehe … toh, secangkir teh tanpa gula itu cukup membuat kepala yang pening minggir sejenak. –thanks, mar! it inspire me till now!–

“so, you are hunting sri lankan stuff now?” ujar abang menggoda saya, saat dia menuri lihat ada dilmah tea di tas saya. “minus sri lankan guy!” jawab saya, cepat.

di situs dilmah tea tertulis, once you taste dilmah, you will never go back to ordinary tea.  separuh benar, tapi separuh salah. benernya, saya mengganti semua teh di rumah dengan dilmah. salahnya, di warung uda ronaldinho di sebelah kantor, saya masih bisa tuh nyruput es teh tawar yang bukan dilmah tea. tapi kalau di warung uda ada dilmah tea … kira-kira berapa segelasnya?

kamu, masih suka sariwangi?

Written by femi adi soempeno

October 14, 2006 at 12:30 pm

Posted in Uncategorized

Rumah baru

leave a comment »

http://femi.blogdrive.com

p1070059.JPG

 

ini rumah baru saya.

sebelumnya, saya berumah di sini. rumah ini sangat nyaman untuk dihuni. catnya berwarna merah, sesuai warna kesukaan saya. disana, saya memajang beberapa potret diri dengan sejumlah kenangan yang melekat bersamanya. femi kecil bersama ibu dan esti kecil. anjing BW bernama sapii yang kini sudah almarhum. secuil kenangan pohon natal pertama dan terakhir bersama ayah. bersama nisan ibu. makanan hasil perburuan di beberapa kedai. kubikel yang tak pernah bersih. menara menjulang di pulau sentosa. becak di malaka. sleeping bag di kolong yang hangat.

rumah itu selalu terbuka bagi siapa saja. kamu … pernah mengetuk dan masuk ke dalamnya bukan? iya, kamu. kamu yang berbaju putih bergaris tipis. hmm … yak, kamu yang pake baju kotak-kotak di ujung sebelah sana, yah, saya pernah liat kamu lo di rumah saya. eh, kamu juga ya! hehe … iya, jangan marah gitu dong. mas, mas-nya juga pernah kan? hayo, jangan geleng-geleng kepala. ngaku saja, nggak usah malu deh. eniwei, terima kasih sudah menyambangi rumah saya yang sederhana yang dibangun dengan mimpi kecil, sapuan harap dan bulir rindu dari ceceran kisah-kisah selama dua tahun.

ada banyak kisah yang sudah saya untai disana. tabungan rindu untuk ayah dan ibu. mister watermelon yang melintas dengan sangat cepat. kecupan tengah hari. bunga bahagia untuk esti. menggerogoti malam di kaki merapi. mendentingkan gelas wine. kisah-kisah tentang abang. perjumpaan dengan teman lama. isak tangis untuk seorang lelaki. rasa cemburu yang terus menggerus. …

sayangnya, saya baru sadar bahwa pagi ini saya kehilangan beberapa surat yang saya cemplungkan dalam kotak pos di rumah saya. ya, surat yang berisi cerita kemarin, kemarin lusa, kemarin-kemarinnya lagi, kemarin-kemarin-kemarinnya lagi …

saya jadi tak nyaman duduk berlama-lama di sofa hangat nan empuk, mengubek-ubek lemari besar berisi kumpulan buku dongeng dan penggalan cerita kemarin, menulisi notebook kecil yang menggurat kisah, menyruput secangkir black dilmah tea dengan campuran susu dancow, menikmati sepiring awan biru dengan lauk awan putih yang mirip biri-biri, berdiri di jendela yang terbuka lebar yang bisa melihat pelangi dan rintik ritmis di sore hari.

saya sedih. saya berusaha bertanya pada beberapa teman, bagaimana cara menemukan sepucuk surat itu di kotak pos di rumah saya. yah yah yah … saya tak bisa menemukannya! trouble ticket pun sudah saya layangkan ke pak pos. tetapi, belum dapat balasannya! dimana sepucuk surat merah jambu yang saya cemplungkan kemarin pagi? dimana sepucuk surat merah jambu yang saya cemplungkan tiga hari yang lalu?

maka, saya buru-buru mencari rumah baru. sembari menyelipkan harap kecil, rumah ini akan baik-baik saja. rumah ini bakal mampu menyimpan semua goresan rindu. rona merah jambu. isak tangis. buncah bahagia. untaian senja. ya, di rumah baru ini saya akan tinggal. rumah dengan segala kenyamanan yang saya punya.

selamat datang di rumah baru saya. masuk, masuk saja. jangan sungkan-sungkan. ayoh, sepatunya tak usah dilepas. pakai saja. gantungkan jas atau jaket di sebelah ujung ya. tuh, sudah ada gantungannya. saya membikinnya beberapa jam yang lalu. ayo, masuk. tahu kan dimana racikan tequila? atau, mau wine? hmmh … wine cellarnya ada di basement. kalau mau dilmah tea, ada di kotak di belakang meja bar, berurtan dengan gula non-fat dan kopi dari penjuru negeri. beberapa gelas untuk peruntukannya masing-masing, sudah tergantung di atas meja bar ya. sedangkan cangkirnya ada di bagian dalam.

selamat menjelajahi seisi rumah saya ya.

(ps: sejujurnya, saya tak ingin pindah dari rumah yang lama. tapi … sudahlah. ketimbang saya tak bisa menemukan pucuk-pucuk surat yag saya masukkan dalam kotak pos berwarna merah di sudut depan rumah … saya harus mau pindah ke rumah ini. o iya, barang-barang di rumah ini, baru semuanya. saya sengaja meninggalkan semua yang ada di rumah lama, tetap di rumah lama.sesekali, saya masih ingin menengoknya. mungkin, kamu juga masih ingin melihatnya …) 

Written by femi adi soempeno

October 14, 2006 at 11:07 am