The red femi

Archive for October 20th, 2006

Muntilan, Betlehem van Java

with 6 comments

p1070235.JPG

saya punya kedekatan emosional dengan kota kecil ini.

muntilan. ya, muntilan. kota yang dikenal sebagai betlehem-nya jawa. kota kecamatan ini letaknya di jawa tengah, persis sebelum masuk ke kawasan mertoyudan, magelang. bagi sebagian umat katolik, yang lekat dengan muntilan adalah makam pastor sandjaja di kerkof dan sekolah pangudi luhur van lith.

sembilan tahun yang lalu. ya, sembilan tahun yang lalu. sudah lama sekali ya? bahkan, saya tak pernah menghitung mundur untuk segala sesuatu yang pernah saya temui di kota kecil nan dingin ini. saya sudah membungkus ingatan saya tentang sekolah van lith, menguburnya dalam-dalam dan membiarkannya habis dimakan cacing di dalam tanah. sembilan tahun lalu saya berjanji, kelak saya akan membukanya kembali bila ada senja yang menerbangkan nelangsa saya ke awan jingga.

jalan kartini. sekolah pangudi luhur van lith. asrama putri. hentakan lari yang tergesa-gesa. lonceng asrama. refter. opera. gereja pagi. bu rustam indah plaza (BIP). bakso pak no. homestay. live in. pura-pura menjadi orang gila. suster geofani. suster ursula. mencuri pepaya di kebun bruder. membolos saat jam gereja. studi wajib.

hanya itu yang bisa saya ingat. pun, samar-samar. selebihnya, tak ada pelangi yang dirajut oleh romo van lith untuk saya.  

muntilan. ya, muntilan. terima kasih sudah boleh melewatkan dua tahun di kota kecil ini. dengan beragam cinta yang ditaburkan dari teman dan sahabat.  trima kasih juga karena telah berada dekat… sangat dekat, saat saya tak lagi mencicipi sepotong senja dari lapangan sepakbola. terima kasih telah memberi saya kekuatan saat saya lemah karena harus menyingkir dari kota ini. terima kasih telah menghangatkan saya dari cibiran dan tudingan teman-teman.

Written by femi adi soempeno

October 20, 2006 at 5:18 pm

Posted in Uncategorized

Tempe buatan bu sulardjo

leave a comment »

p1070230.JPG

suka tempe?

jika singgah ke muntilan selepas jam 15.30 sore, coba arahkan kendaraan anda ke jalan kartini. persis di depan PMI, ada satu warung kecil yang menjual tempe mendoan yang kemripik. tempe ini bukinan bu sulardjo yang sudah menjual sejak 28 tahun yang lalu. “pertama menjual, harga satu  tempe goreng ini Rp 30,-. sekarang Rp 700,- per buah,” ujarnya. sebenernya yang dijual bukan hanya tempe saja. tapi juga ada tahu dan pisang goreng.

setiap bungkus tempe yang diangkutnya dari pasar berisi 3 atau empat iris tempe yang tipis. setiap hari, ia bisa menjual sekitar 700 iris tempe. tapi, katanya, ini tak seberapa dibanding dulu yang bisa menjual hingga lebih dari 1000 iris tempe setiap hari. konon, penurunan volume tempe ini lantaran daya beli orang tak lagi mampu membeli tempe dengan harga yang ia patok. “semuanya sekarang kan mahal …” katanya. rasa tempenya nikmat, karena digoreng garing dan gurih.

aneka gorengan ini disandingkan dengan wedang jahe nan hangat yang ia taruh dalam ceret berukuran sedang. rasanya hangat, lantaran memang baru saja dijerang. tapi sesungguhnya hangatnya jahe tak begitu terasa.

ayo, mampir!

Written by femi adi soempeno

October 20, 2006 at 5:08 pm

Posted in Uncategorized

Sayangan, Muntilan

with 134 comments

p1070221.JPG

 sayangan, muntilan.

jika kalian berada di muntilan, jangan lupa mampir ke kawasan sayangan. eits, ini bukan tempat buat bersayang-sayangan, lo. namanya memang begitu. di kawasan ini, terdapat lebih dari lima belas pedagang makanan. mereka menjajakan makanan yang beragam dari ujung sana hingga sini di kawasan sayangan. mulai dari menu makanan ramesan ala masakan rumah, sate ayam, seafood, nasi goreng, bakso, kupat tahu, goreng-gorengan.

satu kedai yang saya wajib datangi adalah kupat tahu sayangan. bila dari arah jalan utama atau jalan pemuda, kupat tahu ini jaraknya sekitar 25 meter dari kelokan atau pertigaan jalan. warna gerobaknya hijau, dengan penutup di kanan-kiri yang berwarna hijau juga. konon, kedai kupat tahu ini sudah puluhan tahun lamanya. dus, kupat tahu sayangan ini cukup legendaris.

p1070211.JPG p1070214.JPG

setiap hari, kedai ini bisa menjual sekitar 350 iris tahu yang dipotong besar-besar dan digoreng. umumnya, setiap porsi hanya membutuhkan 1 iris tahu saja. maklum, ukurannya besar. tahu ini nggak beli di pasar lo, tapi bikin sendiri.

coba, datang dan pesanlah. makanan ini disajikan untuk pengunjungnya dalam kondisi yang masih segar alias baru. tahunya baru digoreng. olahan kecap, bawang putih, kacang dan lomboknya pun dibikin on the spot alias langsung di atas piring masing-masing pembeli. jadi, mau beli satu porsi dengan lombok 5 buah dan 12 buah pun akan diracikkan satu per satu karena bumbunya di olah di setiap piring (tidak dibikin massal).

satu porsi itu isinya buanyak dan penuh. diantaranya ada tahu, taoge, kobis, irisan ketupat. rasanya? uhm … tahu yang kenyal dan hangat membuat kupat tahu ini sempurna. saus cokelat dari kecap pun tak terlalu manis dan pekat. kesimpulannya: rasaya bikin nagih deh.

ganti rugi untuk satu porsi kupat tahu ini adalah Rp 2.500. harganya cukup ajaib dengan ramuan kupat tahu yang two thumbs up.

Written by femi adi soempeno

October 20, 2006 at 4:25 pm

Posted in Uncategorized

Ngeteh poci pakualaman

with one comment

p1070197.JPGp1070196.JPG

p1070201.JPG p1070190.JPG

pakualaman?

tempat yang redup nan gelap. kuning temaram lampu kota. debu halus beterbangan. cekikikan ketawa dari sudut lapangan. apitan dua pohon beringin. segelas teh poci nan hangat. tikar sederhana dan kursi panjang yang tak seimbang. satu-dua pasangan menyudut.

pakualaman memang tak pernah berubah. dari dulu, ya begitu. menyambangi teh poci pakualaman berarti kami akan berlama-lama duduk dan membincangkan skema hidup yang sederhana dan bodoh. menyelaraskan langkah kami yang tak pernah berada di jalur yang sama. melarung pilu dan memanggil ingatan tentang masa lalu. dan, jika kami ‘beruntung’, kami meluapkan gelak tawa pada perempuan setengah tua yang terjungkal dari kursi panjang.  

seperti semalam.

yuyun, tunjung, deon, bram, paimun. semalam saya benar-benar tergelak dengan leluasa –bila duduk di kursi, pasti saya sudah terjerembab ke tanah– melihat paimun membayangkan desain tato bergambar sendok dan garpu, cerita tentang aan yang mengulum kapur lantaran sepanjang hari bergumam “nging … nging …”, bimo yang ternyata tak doyan perempuan melainkan lelaki, bujukan untuk membeli skripsi lantaran tak kunjung usai, tudingan tuntutan aborsi pada tunjung … 

lihat, gulita agaknya tengah bersahabat pada kami. gesekan daun yang kering yang berjatuhan membuat kami tetap terjaga. membagi binar mata, menghentakkan gelak, lugas tutur sembari mengecupkan harap pada bahagia di esok hari. iya iya, beberapa diantara kami sudah berteman 10 tahun, dan pertemanan itu tetap terbungkus rapih hingga hari ini. semoga tak ada yang mengoyaknya.

enam teh poci. enam sate usus. dua ceker. tiga jadah. total kerusakan semalam hanya Rp 20.500 untuk berenam. owh, bonusnya: suasana, plus atraksi wanita setengah tua yang terjungkal dari kursi panjang.   

(ps: teman, senang rasanya punya kalian. terima kasih ya mau berbagi canda dengan saya!)

Written by femi adi soempeno

October 20, 2006 at 3:43 pm

Posted in Uncategorized

femi kangen kalian!

with 2 comments

p1070170.JPG

ini adalah lebaran pertama tanpa ayah, ibu dan kakak saya.

lebaran kali ini terasa beda banget. lihat, tak ada aura lebaran di rumah. soalnya, saya sendirian. padahal saya sudah beli mete sekilo, kacang bali, good time cookies. mbak wiek juga sudah membungkuskan kacang dieng dan kripik paru buat saya. selebihnya … besok saya akan bikin sajen buat ayah dan ibu. mereka harus ikut menikmati suasana lebaran dari kejauhan.

memilih menu, menyiapkan opor dan memasak sambal goreng? jelas itu bagian kakak saya. saya hanya bertugas membawakan barang belanjaan di pasar, nuntun sepeda motor dan menyiapkan segala sesuatu sebelum dimasak. kalau ada yang lain, itu hanya nyicipin masakan saja.  ayah kebagian makan. itu adalah ritual enam tahun terakhir semenjak ibu pergi.  

ini adalah lebaran pertama tanpa ayah, ibu dan kakak saya.

uwh. begini ya rasanya. perempuan. lajang. tak berayah-ibu. jauh dari saudara sekandung. saya harus sendirian memilih kue kaleng untuk sedekah pada beberapa tetangga. saya harus sendirian memilih kue kering untung ditaruh ditoples di rumah, siapa tahu ada tamu datang. saya harus sendirian datang di acara keluarga, membincangkan tape ketan bikinan lik bandiyah, menyambangi makam keluarga.

ayah, ibu … coba kalian ada. pasti rasanya tak akan sesunyi ini.

Written by femi adi soempeno

October 20, 2006 at 2:51 pm

Posted in Uncategorized