The red femi

Gedong Batu, ‘rumah’ pak laks

leave a comment »

 “GOENOENG Simongan, dahoeloe ada kepoenjaannya seorang Jahoedi tidak heran djikalaoe saben tahoen ia (orang Jahoedi) minta persewaannja itoe tanah jang diboeat Klenteng lima ratoes roepiah. Persewaan mana dahaoeloe ada raad Kong Kwan jang saben tahoennja memoengoet oewang oeroenan boeat membajar sedjoemlah jang terseboet. Maski poen dibilang boekan satoe djoemlah jang besar tapi bisa dianggep satoe perkara koerang hormat bagi kesoetjian…” —–1879, Oei Tji Sien.

p1070261.JPG

saya sudah menjejak Klenteng Sam Poo Kong atau klenteng Sam Poo Thay Jin. selain dua nama besar itu, klenteng ini juga dikenal dengan nama Gedong Batu oleh masyarakat Semarang. awalnya, klenteng ini digunakan ini untuk memuja Laksamana Dinasti Ming (1368-1643) dalam masa pemerintahan Kaisar Yung Lo. laksamana ini diutus menjadi duta kaisar ke Nusantara tepatnya ke pulau Jawa, dan mendarat di pantai Semarang pada tahun 1401.

sesuai struktur bangunannya, bangunan inti dari klenteng ini adalah sebuah gua batu dan merupakan tempat utama dari lokasi ini. konon, gua batu ini dipercaya sebagai tempat awal mendarat dan markas Laksamana Cheng Hoo beserta anak buahnya saat berkunjung ke Pulau Jawa. dalam gua ini, saya melihat patung yang dipercaya sabagai patung Sam Poo Tay Djien. 
 
meski ingin ciamshie, tapi saya tidak melakukannya. ciamshie ini dilakukan untuk melihat suatu keberuntungan di masa depan. saya melakukannya di sebuah klenteng di bilangan Kota, Jakarta. caranya, membakar hio atau dupa dalam gua batu dan melemparkan kepingan didepan altar sembahyang yang ditandai dengan “Im” dan “Yang”. nah, kalau lemparan tersebut salah satu keping terbuka dan satunya lagi tertutup, maka dipercaya akan memperoleh keberuntungan.

cara lainnya bisa dengan melemparkan sekumpulan batang bambu secara acak dan apabila terdapat batang bambu yang jatuh di hadapan altar sembahyang, maka batang bambu tersebut tinggal diserahkan kepada petugas. si juru kunci kemudian buka contekan dari selembar kertas yang bernomor 1 sampai dengan 28 disesuaikan dengan batang bambu yang jatuh. tulisan yang tertera di kertas itu ialah syair-syair yang akan diterjemahkan oleh si jurukunci.  
 
Laksamana Cheng Hoo punya orang-orang kepercayaan saat berlayar di Jawa. nah, disini ada beberapa bangunan yang namanya dicuri dari orang-orang tersebut. misalnya, Mbah Kiai Cundrik Bumi merupakan tempat segala jenis persenjataan yang digunakan untuk mempersenjatai awak kapal. Kiai atau Nyai Tumpeng berkaitan dengan urusan makanan di kapal. Kiai Djangkar tempat meletakkan jangkar kapal.  Mbah Djurumudi dipercaya sebagai makam dari jurumudi kapal.

saat foto di klenteng ini, saya berasa ada di cina. hahaha …

Written by femi adi soempeno

October 22, 2006 at 2:03 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: