The red femi

Kota Lama, Semarang

leave a comment »

p1070374.JPG

diantar deon, saya menuju ke Kota Lama, Semarang.

sudah sejak lama saya ingin ke kawasan ini. saat memasuki area ini, rasanya saya berada di Malaka. kawasan di Malaysia ini memiliki potret yang serupa dengan Kota Lama. Maret lalu, saya dan Malaka berpisah dengan selaksa kenangan yang membekas. bersama ayah. ya, bersama ayah. disini pula –minus ayah– banyak bangunan tua nan bersejarah yang sayang untuk dilewatkan. Kota Lama ini mengekor bangunan kolonial bergaya pseudo baroch yang sempat ngetrend di Eropa pada abad 17-18. menjejak Kota Lama adalah menapaki sejarah masa silam. saya membayangkan berada di pinggir salah satu jendela. menikmati rinai hujan yang merintik kecil-kecil.

konon, kawasan yang berbangunan indis ini menjadi pusat pemerintahan, perdagangan (bisnis) bagi pemerintah Hinda Belanda pada abad 17-18 . hitung punya hitung, ternyata jaraknya tak jauh dari pelabuhan dan stasiun kereta api. barangkali itu sebabnya kawasan Kota Lama ini menjadi denyut perekonomian di kota ini. area Kota Lama ini ada di dalam ruas jalan yang dibangun oleh Daendels (jalur Anyer-Panarukan).

beberapa bangunan di Kota lama ini ialah Gedung Marba, Gedung Asuransi Jiwa, GPIB Imanuel atau Gereja Blenduk, Gedung PELNI, Gabungan Koperasi Batik, Bank Mandiri, Kantor Pos, dan Gedung IAI Jawa Tengah. mengintip dinding yang sudah koyak, pondasi bangunan lawas ini ialah batu dengan sistem strukturnya dari bata. dindingnya terbuat dari bata setebal satu batu.

ada beberapa kekurangan yang tak bisa ditutupi oleh kawasan Kota Lama ini. misalnya saja, penghuni liar atau gelandangan jamak dijumpai di kawasan ini. selain itu, air rob atau air pasang dari Laut Jawa tak jarang menggenangi sebagian kawasan ini.

tak sabar saya ingin segera pulang ke rumah. bercerita pada ayah: “be, saya menemukan Malaka di Semarang. iya, bangunan tua. arsitektur Indis. rumah lawas … iya be, seperti yang pernah kita kunjungi dulu …”

(ps: sungguh, saya ingin menangis saat melihat kawasan ini. soalnya, saya jadi ingat ayah dan bagaimana kami merasa ‘ajaib’ ada di Malaka. disana, kami menjumpai bangunan lawas yang terawat dengan cantik, aspal konblokan, lenggangan leluasa di sepanjang jalan dan … penjual es cendol!)  

Written by femi adi soempeno

October 22, 2006 at 7:27 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: