The red femi

Serabi ngampin, ambarawa

with one comment

p1070532.JPG

waktu berangkat ke semarang lalu, saya ingin mampir mencicipi serabi khas ambarawa.

saya pikir, ah, nanti di sebelah depan aja. eh, nggak tahunya kendaraan saya lajukan terlalu kencang. jadinya ya sudah kebablasan. dus, kesampaiannya lagi pas mau balik ke jogja. meski waktu sudah mepet dan keburu dikejar senja, saya tetap memarkirkan kendaraan saya didepan warung serabi milik mbak sri.

serabi khas ambarawa ini berbeda dengan serabi yang saya dan kalian jumpai di jakarta atau solo. serabi ambawara ini kerap disebut sebagai serabi kucur. konon, disebut demikian karena serabi ini berkubang di dalam kuah santan nan manis. serabi ini hanya ada di ngampin, abarawa. mudah kok menemukan penjaja serabi ini. warung petak kayu yang berukuran kira-kira 1 x 1 meter milik mereka berderet di sepanjang jalan Semarang-Yogya, tepatnya di daerah Ngampin mulai depan Kejaksaan Negeri Ambarawa hingga depan Kantor Kelurahan Ngampin.

waktu saya melirik tangan lincah mbak sri yang membuat serabi ini, sepertinya tak rumit kok. masih tradisional dan sederhana. kalau kalian yang suatu hari mampir ke warung-warung kecil di ngampin, coba deh amati bagaimana mereka membuat serabi kucur ini. konon lagi, serabi ini sudah turun temurun dan puluhan tahun ada di kawasan ngampin, yah, sekitar lebih dari 30 tahun lah.

menurut mbak sri, peralatan dan bahannya juga tak terlalu ribet. hanya beras, tungku dan periuk kecil dari tanah liat, susruk dan arang atau kayu sebagai bahan bakarnya. nah, untuk kuahnya, hanya memerlukan buah kelapa untuk santan, gula jawa untuk pemanis di kuah dan di santan. sehari, mereka juga nggak membutuhkan banyak bahan baku. mbak sri sendiri biasanya membutuhkan satu hingga dua kilogram beras setiap harinya. setiap kilogram bisa menghasilkan sekitar 80-90 bulatan serabi.

lihat bulatan di tengah, itu adalah gula jawa yang dituangkan ke bagian tengah serabi. rasanya menjadi manis. berbeda dengan serabi notosuman solo. mbak sri menuangkan dua bulatan serabi untuk saya, sesuai permintaan saya. kemudian ia mengucurkan kuah santan dan gula jawa. saat mencuilnya dengan sendok di mangkok porselen, mengigit dan menyeruput kuahnya hmmh … manis bangetttt! uppps … tapi enak. kalau rasa manisnya terlalu mencekat di tenggorokan, mbak sri juga membual air mineral, lo.

p1070533.JPG

p1070534.JPG

mbak sri tak sekaligus membikin semua adonan serabinya. kalau sudah mau habis, baru meracik lagi. selain lebih segar, serabi juga masih kenyal. nah, agar tak tertular langsung oleh debu knalpot kendaraan, serabi yang sudah dibikin diletakkan dalam wadah yang ditutupi platik transparan yang ditutupkan memucuk ke atas dengan disangga sebilah bambu atau kayu. dengan desain itu, maka serabi ngampin yang yang jumlah warungnya total jenderal lebih dari 50 warung ini tampak mencolok.

total kerusakan yang saya derita untuk dua bulatan serabi sekitar Rp 3000. mahal? hmm … ga juga ya. ayo ayo, mampir ke serabi ngampin di ambarawa.

Written by femi adi soempeno

October 22, 2006 at 1:52 am

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. hihihi…wingi aku nembe wae nyrabi karo gendukku sing ayu kae fem…

    lilz

    November 7, 2006 at 4:36 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: