The red femi

Memorial Wall

leave a comment »

p1080105.JPG

 
Dinding di kamar kos saya bisa bercerita banyak hal.

Semuanya memuat kenangan yang mengendap dengan teman-teman, abang dan juga ayah. Sesekali, saya ingin memanggil kenangan itu kembali, memunculkannya dalam benak dan melarutkannya dalam gelak maupun haru. Beberapa peristiwa yang terjadi belakangan adalah deretan kalimat yang tak pernah memiliki ‘titik’ sebagai penanda berakhirnya kalimat tersebut. Iya. Mereka lebih dari sekadar penggurat kenangan, tetapi juga kasih, bulir persahabatan, pengertian, hangat, berbagi, senja di sudut jogja, sapa, pelukan, memahami  …

Biru langit pada pukul 2.33 siang di Sanur, Bali. Lima layang-layang mengingatkan saya pada Hendra, sahabat saya. penggalan frame itu berjejalin dengan mood yang hancur sejak pagi, uring-uringan yang tak usai sepanjang hari, hatten wine, sore di starbucks kuta, hangat persahabatan, pegal pantat perjalanan sepanjang hari …

Senja dari pojok sebuah desa di Klaten. Warnanya oranye, keunguan, menggelap. Potongan senja itu digunting oleh si fotografer yang sebentar membuat saya terperangah karena pertemuan yang tiba-tiba, lima bulan lalu. Rindu. Hangat. Mengenangkan masa lalu. Ranting kering. Pagi di boulevard UGM. Yah. Beberapa ujung minggu saya habiskan bersamanya, dan berakhir saat dia membeberkan secuil harap pada seorang perempuan yang beberapa tahun lebih muda darinya.

Kalau hidup adalah sebuah pilihan, itu pula yang tengah dijajal oleh Tje. Iya. Saat kami semua memilih menyambut fajar dengan beberapa botol bir dan wine, Tje memilih untuk menenggak jus buavita rasa jeruk. Konon, sudah dua tahun belakangan ini lelaki berkulit gelap itu menanggalkan kebiasaannya untuk mencecap alkohol. Nyatanya, berbotol-botol bir dan wine kami habiskan, satu kotak buavita urung ia habiskan. Payah.

Jes jes jes jes … lokomotif tua di ambarawa. (ini yang terakhir saya pasang). Seperti berada di rumah saat saya menyambangi museum itu. bisa jadi, rasa ini bermuara pada kebiasaan menghabiskan ujung minggu di jogja dengan armada kereta. Atau, bisa pula lantaran kakek saya seorang masinis. Atau, bisa juga karena rumah saya persis berada di belakang stasiun kereta api. Jes jes jes jes …

Ayah. Ibu. Ya, dinding itu juga memuat rumah ayah dan ibu. Bersih. Putih dna merahnya mawar menjadi penanda saya menyayanginya. Lebih dari itu, mereka adalah sejarah hidup saya. saya selalu melangkahkan kaki dengan ringan bila menjejak halaman rumah mereka. Ya, saya datang. dan saya terus datang ke rumah mereka pada setiap kepulangan saya setiap minggu.

Ya. Itu adalah dinding yang memuat berbagai cerita yang membekas. Masih banyak yang lain. potongan siomay deon di semawis. bergidik Paimun saat mencecap wine. Java jazz festival bersama dimas di JCC – yang ini, saya akan mencopotnya segera. Persinggahan sejenak di bali. Harap rindu untuk abang. bunker. Kaliadem yang menyimpan ceritanya sendiri. Angkringan dan potongan nikmat tempe tahu bacem.

Potret dengan beragam sosok itu dengan mudahnya mencuri hati saya. dinding itu dengan mudahnya memanggil kembali ingatan yang sudah mengendap. Iya, mereka adalah gelak tawa dan dingin hujan. Terima kasih sudah menghiasi hidup saya.

Written by femi adi soempeno

October 25, 2006 at 12:08 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: