The red femi

Tiga tangkai mawar berwarna salem

leave a comment »

p1080092.JPG


Pak, saya dapat bunga mawar! –seru saya pada seorang petugas keamanan
Wah iya, bagus …

Pak … lihat nih, saya dapat bunga! –seru saya pada dua orang pedagang rokok pinggir jalan
Udah … bunganya tinggal disini aja!

Mas … saya dikasih bunga mawar … –kata saya pada lelaki yang tengah melintas di bahu jalan
Owh ya … bagus tuh!

Sementara itu, lelaki yang membungkuskan bunga untuk saya berjalan semakin menjauh, malu.

Dia adalah lelaki dengan huruf L. ya, benar. Lelaki dengan huruf L itu membungkus tiga tangkai bunga mawar berwarna salem (dia menyebutnya ‘peach’) untuk saya usai srengenge di timur pudar.

Kami memiliki janji temu di bilangan Barito, Jakarta Selatan. Sop kambing Ichwan sejatinya mengundang kami, tapi ternyata kambingnya urung dimasak. Jadinya, saya dan lelaki dengan huruf L mencuil malam bersama sepuluh tusuk sate kambing dan semangkok sop kambing tegal, plus dua teh poci. Rasanya? Tak lebih sedap ketimbang buncah bahagia saya atas tiga tangkai bunga mawar berwarna salem.

Biasanya, setiap satu porsi nasi yang disuguhkan oleh si empunya warung, biasa saya kurangi separo. Tapi, tidak kemarin sore. Satu porsi nasi, utuh saya lahap. Hmmh … agaknya bukan karena rasa lapar, tapi karena desiran itu datang kembali. Iya, desiran saat saya menadah bunga mawar berwarna salem itu. Desiran yang memuat kalimat, “Owh … begini ya rasanya bertemu belahan jiwa?” Atau jangan-jangan, makan banyak dan jatuh cinta memang sudah berkawan sejak lama.

Ah, tidak, tidak. Beberapa teman saya mengaku tak bisa makan saat jatuh cinta. Kenapa saya sebaliknya? —mmmmm …  emang gue pikirin!

Mmm … saya merasakannya. Ya, saya kini merasakan bagaimana berjejalin dengan lelaki dengan huruf L itu. Seperti ada bor yang berpindah ke jantung saya saat bunga dengan kain dan pita kuning pucat itu diulurkannya, masih dengan tas kresek berwarna hitam. Rasa ini terus tumbuh seiring dengan teriakan saya pada teman-teman yang mengerubungi saya, “Waaa … aku dapat sms!” atau, ungkapan pamer saya pada teman-teman saya, “Eeeh, ada yang nelepon!” atau, “Denger tuh, hp gue bunyi … ada yang mau ngecek BTS!”

Rasa itu kian menebal seiring dengan perjumpaan kami belakangan ini.

Seperti pulasan awan biru. Bulu biri-biri seperti menghiasi langit. Memudar, menggantinya dengan awan biru nan tipis, menebal … menebal … dan terus menebal. Biru. Indah. Atau, seperti menimang mobil-mobilan polisi berwarna merah saat saya kecil dulu. Saya mendekapnya erat, ingin mendekapnya terus dan saya mendekapnya sepanjang waktu. Saya merasa tak ingin kehilangan, meski saya tahu akan kehilangan dan saya tahu bagaimana rasanya kehilangan itu.

Lelaki dengan huruf L, mengapa datang? Pesan pendeknya mengoreksi kerenyit di dahi saya menjadi seutas senyum dan gelengan kecil kepala. Sapa hangatnya lewat kabel telepon maupun jejaring di dunia maya (nyaris) membuat saya tak bisa tidur dengan nyenyak. Lelaki dengan huruf L memulas guratan baru dalam hidup saya. terekam sempurna. Beberapa ‘peristiwa pertama’ ini –saya yakin—akan lebih lama tinggal di dalam ingatan.

Rasanya seperti sudah mengenal lelaki dengan huruf L ini bertahun-tahun lamanya. Saya bisa bercerita dengan leluasa, apa adanya. Saya bisa bertanya banyak hal dengan gurauan konyol nan tak penting. Ia menyediakan waktu dan telinga untuk hal serius maupun tak serius. Ia mengiriskan sebagian waktunya untuk saya. Tapi … apa mungkin karena ini adalah masa-masa pertama.

Saya masih ingat betul pertanyaanya tempo hari,  “Nggak takut patah hati? Bagaimana kalau aku menghilang?” Owh … direncana atau tidak direncana, barangkali masa itu akan datang. Ya, bisa jadi, suatu hari nanti lelaki dengan huruf L ini tiba-tiba menghilang, seperti yang lainnya. Menguap. Tak berbekas. Tak berjejak. Meninggalkan sejumput kenangan yang senantiasa menggelitik di ingatan: slot pintu, makan-makan, bunga mawar. “Bilang-bilang ya kalau mau menghilang … setidaknya pamitan,” kata saya.

Owh … saya sedang tak ingin membicarakan hilang-kehilangan-menghilang. Saya hanya ingin membagikan buncah bahagia saya atas tiga tangkai bunga mawar berwarna salem dan desiran yang datang.

“Terima kasih. Ya, terima kasih ya untuk tiga tangkai bunga mawar berwarna salem ini. Bunganya indah …” bisik saya. Mawar ini adalah padanan dari senyum, sapa, tawa, ujaran, gelak dan kecupan tengah hari lelaki dengan huruf L. Bisa jadi, ini juga penanda musim merah jambu sudah tiba kembali.

Written by femi adi soempeno

October 30, 2006 at 12:07 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: