The red femi

Hari ini hari arwah

with one comment

“taruh foto ayah dan ibu di gereja, paling lambat besok … misanya besok malam jam 7. itu khusus misa arwah!”

mbak ria, teman kantor saya berujar demikian. owh. iya, 2 november, hari arwah sedunia. bukan, bukan. bukan hanya saat ini saja mendoakan ayah dan ibu. kemarin saya juga mendoakan, meski bukan hari arwah. besok, saat saya pulang ke jogja pun, saya juga tetap berdoa untuk mereka. hari arwah atau bukan, saya mendoakan kalian!

p1070570.JPG

semalam, saya mendekap potret mereka. ya, ayah dan ibu. mereka kini bisa bersama lagi. di makam keluarga di turi, sleman, mereka hanya terbatas oleh candi atau dinding dalam kubangan. :) selebihnya, saya tahu dan saya yakin persis, Dia sudah mempertemukan mereka kembali.

sedang apa mereka ya? sebersit tanya kerap mampir di benak. hmmh. barangkali, mereka kini tengah berncengkerama. membicarakan masa yang hilang yang tak mereka lalui bersama selama 6 tahun. tentang kopi dan cemilan yang biasa ibu bikin dulu untuk ayah, dan tak tergantikan oleh racikan kopi kedua puterinya. tentang kendaraan yamaha 75 nan tua yang tetap setia digunakan ayah hingga ujung usianya. tentang pakaian ibu yang tak pernah disingkirkan dari rumah. tentang nama ‘esti bejo’ yang dilekatkan untuk anak sulungnya. tentang senja yang mengelopak jingga saat puteri bungsunya kembali ke jakarta.  

Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

iya. saya sangat sayang dengan mereka. bulir ini tak bisa tinggal di sudut mata bila mengingat setiap kasih yang mereka tuangkan selama 26 tahun saya hidup. eh, ayah, masih ingat saat esti menjahili saya? iya, waktu itu saya menjerit-jerit lantaran esti mencubiti lengan dan pipi saya. ayah langsung meminta esti untuk berdiri menghadap ranjang, dan ayah memukuli pantatnya dengan sangat keras. jatuh iba pada esti, saya pun menangis. konyolnya, si bengal esti  justru tidak menangis. membikin jera esti? ah, tidak juga. esti tetap saja usil dan bandel.

keluarga ibu adalah keluarga penjahit. nama moelyosoeharto cukup besar di jamannya. dari 12 anak mbahkung, hanya 2 yang tak menjahit. ibu saya sebagai anak tertua, terbilang mahir mewarisi mbahkung. namun, saya dan esti memang tak pernah bisa menjahit. tetapi bila dibandingkan dengan esti, saya lebih bisa menjahit! dulu ibu menuntun saya untuk menjahit celana pendek. satu per satu, ibu mengajari bagaimana mengukur lingkar perut, lingkar paha … kemudian mencocokkan benang dengan warna pakaian, menjahit dari bagian dalam … uwh. “siji siji dik … rasah kesusu … ” ujar ibu waktu itu. dan … tartarattratartata … jadilah satu potong celana pendek yang langsung bisa saya cuci, dan saya kenakan usai kering! selebihnya, saya membikin beberapa lembar serbet dan tas untuk ke gereja.

Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati

bila musim hujan tiba, pesanan mihun godog mengalir di dapur. ya. kami sekeluarga selalu menunggu ‘mihun cemplang-cemplung’ bikinan ibu. disebut mi cemplang-cemplung, lantaran masakan ibu dipuji keenakannya, dan ibu berujar merendah, “iki mung cemplang-cemplung kok …” hahhahaha … cemplang-cemplung atau dimasak dengan serius, tak jadi soal.

ya, saya tahu. saya tahu betul. kehangatan ayah dan ibu tetap saja berbekas. rindu pada kalian tak akan pernah lunas terbayar.  

ayah, ibu. sore nanti putri bungsumu berlutut di depan altar. senada dengan merundukkan kepala, saya akan menaruh sejumput harap, agar kalian bahagia disana. semoga yang terbaik datang untuk kalian. semoga Tuhan menjaga kalian dan selalu menghamparkan rumah yang diliputi penuh dengan kebahagiaan. dua putrimu disini akan merajut malam dengan senandung kecil dan dekapan rindu untuk kalian.  … senandung yang didendangkan setelah episode mei usai.

Written by femi adi soempeno

November 2, 2006 at 9:31 am

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] mengutip catatan di blog lawas Fe. Hanya pada sebuah coretan tentang ayah dan ibu Fe berjudul “Hari Ini Hari Arwah” bertanggal 2 November 2006. Berikut kutipan dua paragraf […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: