The red femi

Masih empat tahun lagi

leave a comment »

“hari sabtu-minggu nanti anak-anak mau kopdar rame-rame. dia datang dari pelosok barat indonesia ke jakarta. ayo, datang. lama kamu nggak ketemu dia kan  …”

deg.

jantung saya rasanya seperti berhenti berdetak. dia datang? saya tak langsung meresponnya. saya hanya memiringkan kepala, dan menggelengkannya sedikit.

sejujurnya saya kebingungan memilih kata. saya membiarkan ingatan ini terbang dan melayang menemui langitnya.

hanya hening.

saya tak bertanya banyak soal kedatangannya ke kota ini. mungkin berkaitan dengan pekerjaan jurnalistik, mungkin juga tidak. mungkin ia ingin menjumpai teman-teman lama, sehingga meluangkan waktu di ujung minggu, tetapi mungkin juga tidak. mungkin … ah, sudah. jangan kebanyakan kemungkinan. lagipula, tak penting buat saya untuk tahu detil mengenai dia.

tapi saya tak bisa menahan ingatan yang terus terbang membumbung tinggi, berusaha mengingat berapa jumlah bintang yang pernah kami hitung di alun-alun besar di jogja, tujuh tahun silam. berusaha mengingat apa mimpi yang pernah ia rajut sebelum menapaki tanah kelahirannya di barat indonesia. berusaha mengingat bagaimana kami berjanji untuk bertemu kembali satu dekade usai kami berjabat erat.

satu cangkir dilmah tea hangat di sore hari, suara jemari yang menari dari setiap kubikel, jeritan wartawan yang menuai goda, telepon yang dibanting dengan kesal, langkah kaki yang bergegas, perbincangan serius di sudut ruang redaksi, gordyn yang bergoyang, mesin faks yang menelorkan selembar-dua lembar release. semuanya tak bisa mengusir bayangannya dari benak saya.

hmmpff … dia akan datang. dia akan kopdar dengan teman-teman di ujung minggu ini.

tidak. tidak. saya tak akan menjumpainya. perjumpaan kami masih lama, masih empat tahun lagi. tujuh tahun silam sebuah perjanjian hati diteken. kami, ya, saya dan dia, akan menemukan hari untuk berjumpa dan memamerkan kehebatan kami masing-masing setelah sekitar satu dekade kami menemukan ruang gerak kami masing-masing. satu dekade setelah tujuh tahun silam, saya dan dia menjalani hari sebagai pribadi yang senantiasa bersyukur dengan apa yang masing-masing kami dapati di atas tanah yang kami pijak. dan, bisa jadi, bukan padanya hati ini tertambat, bukan dia teman untuk membelah malam. dan, begitu juga sebaliknya.

‘carut-marut’ … begitu istilah yang ia populerkan di setiap tulisannya, tujuh tahun silam. dan, begitu pula perasaan saya hari ini.

“aku nggak ikutan. agendaku sabtu-minggu ini masih sama: pulang ke jogja …”

Written by femi adi soempeno

November 9, 2006 at 6:38 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: