The red femi

Membungkus-bungkus kado

leave a comment »

p1080362.JPG

saya paling uthik kalau akan membikin acara sembayangan atau doa di rumah.

saya merasa merepotkan diri sendiri. tapi … saya suka. acara sembayangan menjadi lebih personal dan sangat ‘keluarga soempeno’ sekali karena saya membikin berbeda dengan acara sembayangan di rumah lainnya. yang membuatnya berbeda adalah makanannya, bukunya dan ada doorprize nya.

makanannya, esti kakak saya selalu tak ingin repot untuk mencuci piring, mengeluarkan gelas dari lemari dan sejenisnya. maunya yang praktis saja. dus, bila ada hajatan keluarga, kami selalu menyeiakan aqua gelas untuk minuman, dan roti untuk makanannya. nasi? hmmh … jelas tidak. meski harganya sama, tapi kalau nasi yang mesti dimakan ditempat … hmmh … nggak lah ya. males nyuci piringnya.🙂

bukunya, saya selalu mengetik ulang masa-masa peringatan kematian dari buku memule. bila menggelar syukuran, saya tentu membuatnya berbeda. biasanya, buku panduan ini saya perbanyak untuk 70 orang dan biasanya ludes dibawa pulang. tidak hanya itu saja, biasanya saya menambahi satu-dua, bahkan lebih, tulisan saya mengenai beberapa hal. misalnya saja saat memperingati 40, 100, 1 tahun, 2 tahun, 1000 hari, hingga 5 tahun meninggalnya ibu, saya membikin tulisan mengenai ibu dengan segala kehebatan yang ia miliki. menulis mengenai ibu adalah mengenangnya. sama halnya ketika tempo hari saya membikin ibadat syukur untuk esti, saya menulis mengenai cara ayah dan ibu mendidik kami. kalau sudah ada tulisan begini, biasanya pro diakon justru ogah memberi kotbah, tetapi saya yang disuruh cerita.

doorprizenya, lihat potret diatas. bagian yang paling saya sukai dari semua rangkaian persiapan sembaangan di rumh adalah memilih kado untuk doorprize dan membungkusnya. seperti yang saya lakukan sore tadi. iya, saya membungkus beberapa barang pecah belah bertema natal, yaitu lilin, hiasan gantung dan piring. gambarnya, santa claus, lingkaran natal, pohon natal, malaikat, padang.🙂 agenda membungkus kado sudah saya siapkan sejak berangkat ke jogja jumat lalu. bungkusnya tak mahal, bahkan harga kadonya juga tak sampai puluhan ribu. tetapi, bagi keluarga soempeno, berbagi keceriaan dan kehebohan ditengah sembayangan adalah hal yang mengesankan.

seperti saat saya membkin ibadat syukur lalu. tiga gelas oleh-oleh dari Bali sudah saya bungkus. “siapa yang bawa madah bakti yang paling lusuh alias sering dipakai?” ada lagi, “siapa yang bawa kitab suci yang sudah kucel?” dan terakhir, “siapa yang bawa rosario yang sudah bertambal-tmbal?”

meski yang sembahyang di rumah itu sudah sepuh atau tua, tetap saja mereka berebut menydorkan kitab suci, madah bakti dan rosario mereka sembari keukeuh berujar, “ini yang paling lusuh … kalau punya pak bambang itu belum seberapa …”

hallah … nanti, desember nanti saya juga akan membikin ibadat adven, 6 tahun meninggalnya ibu, dan 7 bulan meninggalnya ayah. ya, saya sudah menyiapkan kado doorprize untuk mereka yang datang. saya masih ingat betul guyonan pak bambang saat sembahyangan di rumah saya bulan lalu, “… kami ini selalu menebak dan menanti-nanti doorprize apa kali ini … ” hehehe …

saat saya membuat sembahyangan untuk 40 harinya ayah, seorang perempuan tengah baya yang tak kebagian doorprize mengusulkan pancingannya diganti dengan yang lainnya: “siapa yang kancing bajunya mbledheh (terbuka)?” … huaahahahaha … soalnya, saat itu kancing bajunya mbledheh.

Written by femi adi soempeno

November 11, 2006 at 9:23 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: