The red femi

(ngacung) Saya absen!

with one comment

p1070167.JPG

dear ayah dan ibu,

apa kabar be … apa kabar bu? sedang apa kalian disana? apa ayah masih mendalami kitab suci disana, seperti yang dua tahun terakhir ayah tekuni? mm … sejak ayah datang, apa ibu kemudian membiasakan kembali kebiasaan lama, yaitu membuatkan teh hangat di pagi hari, membakarkan roti, kemudian menyiapkan sarapan, menyiapkan makan siang, lalu menyiapkan kopi hangat dan pisang goreng untuk cemilan sore hari, dan memasakkan ‘mi godog cemplang-cemplung’?

ayah, ibu. femi kangen kalian. hari ini mestinya hari femi berkunjung ke rumah kalian. membasuh bagian atas hunian kalian. meletakkan bunga. dan bercengkerama bersama kalian. mmm, mestinya saya hari ini bercerita soal perjalanan saya ke bandung rabu lalu. soal teman esti yang membawakan semua bumbu yang dibutuhkan esti. soal deadline yang kian menunda terbitnya buku saya. disana pasti kalian menanti cerita saya ya.

kalian tidak marah kan kalau anak bungsu ini tidak menyambangi rumah kalian?

semalam saya dengan abang dan mas hasbi membincangkan kalian. bukan, bukan soal bagaimana kalian meninggalkan dua anak perempuan nan tangguh dan mandiri. tetapi soal bunga yang kerap saya bubuhkan di beranda rumah kalian.

“kalau untuk ujub khusus, untuk permintaan, untuk berkeluh kesah, biasanya pakai bunga merah. nah, kalau untuk yang biasa saja, tanpa permintaan khusus, biasanya bunga taburnya putih,” tukas mas hasbi. menurut abang nan tambun itu, itu adalah resep turun temurun yang diperolehnya.

ayah, ibu. saya jadi ingat betapa femi ‘sembarangan’ memilih bunga untuk rumah kalian. tidak selalu bunga tabur, tetapi bunga mawar merah atau salem, atau aster yang saya angkut dari tukang bunga di kotabaru. dan, juga tak mengikuti pakem yang dulu ibu selalu ajarkan bila bertandang ke makam mbah kung: menabur dari sebelah kiri pusara. mmm … tak apa kan? meski tak sesuai aturan yang ada, tetapi si bungsu ini tetap mengguyuri kalian dengan energi kasih yang tak putus-putusnya, sembari menyelipkan doa agar kalian baik-baik saja bersama dengan Dia disana.

dad, mom. tadinya saya pikir hidup saya akan berhenti sepeninggal ibu, yang disusul 6 tahun kemudian oleh ayah. apalagi, mencermati segala sesuatu yang ada di rumah dan penanda yang lekat dengan ayah selalu membuat saya terisak diam-diam. tapi saya harus menyadari, bahwa hidup tidak berhenti sampai disitu saja. saya tahu persis, ujung waktu dan takdir tidak bisa saya tolak. bahkan, kalian pun tak kuasa menolaknya. saya hanya bisa bersyukur dengan kehidupan yang kini saya jalani.

saya akan pulang minggu depan. tak ada yang bisa menahan saya untuk tinggal lebih lama di jakarta. tabungan rindu untuk kalian pasti sudah terisi penuh. iya, sabtu depan saya akan ke rumah kalian. menyapu pelataran rumah. dan meletakkan dua buket bunga untuk kalian.

ayo ayah, ibu. minggu depan kita juga bisa berjalan-jalan lagi saat langit biru bersih. menunggui awan putih seperti biri-biri berarak dan menjemput kembali kalian. saat awan putih itu datang, ia akan membisik teduh, “mari pak, bu. saatnya pulang. biarkan si bungsu meneruskan hidupnya …”

tunggu femi sabtu depan ya. saya tahu, kalian menanti bunga segar dari si bungsu.

–femi, si bungsu

Written by femi adi soempeno

November 18, 2006 at 2:50 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Fe, narasimu ini mengingatkanku pada pengalaman enam tahun silam. Sebuah siang yang panas tapi hangat. Di pekuburan Bukit Sempu dengan serakan bunga kubur yang belum mengering. Aku mematung sendirian di depan makam bulikku. Rasa sesal kuucapkan lewat bibir hatiku bersama angin siang yang menggoyang suluh-suluh rumput coklat keemasan. Sesal di mana aku tidak sempat menjenguk bulikku yang berjibaku dengan hepatitis B di ranjang RS Panti Rapih. Sampai maut menjemput, aku pun tidak bisa melihat jasadnya.

    Satu tahun setelahnya, aku menyempatkan diri menyambangi makamnya saat jeda libur tiba. Dan siang itu, aku hanya ditemani oleh kesendirianku. Saat aku memandangi salib usang di atas kuburannya, aku sadar bahwa hari itu adalah hari ulang tahun bulikku. Girang sontak menggerayangi hatiku. Aku berlari menuruni bukit. Memacu sepeda motorku menuju Kota Baru. Untuk apa? Membeli seikat bunga bakung. Terus aku mengajak semua orang rumah berangkan menaiki bukit. Dan kami berdoa bersama ditemani bunga bakung yang tersender di salib. Tanda kangen. Tanda cinta. Tanda balas sesal. Sebuah siang, sebuah pengalaman rohani tak terlupakan.

    Dan tahu gak, aku saat ini aku merasa dekat dengan bulikku setelah mendapat kabar suami dan ketiga anaknya berangkat ke Jakarta untuk menghadiri hari pernikahanku nanti…

    Bulik pasti mengunjungiku dengan setangkai bunga bakung juga…

    Dan inilah jawaban dari pertanyaan yang aku goreskan dalam narasi pendek beberapa tahun silam: “Bulik, kapan sudi mengunjungiku lagi?”

    peziarah muda

    November 22, 2006 at 8:23 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: