The red femi

Kalau tidak jadi wartawan, jadi apa?

leave a comment »

p1080680.JPG

 “tidak ada mantan penulis … sama halnya tidak ada mantan bisa-nyetir …”

itu tadi ujaran mas hasbi, lelaki tambun yang rajin memompa saya untuk menulis, dan terus menulis. dia berujar demikian usai saya bertanya, “kalau tidak menjadi wartawan, saya bekerja apa ya?” dna kemudian terjadi obrolan yang seru antara mas hasbi, mas encis dan saya, jumat (17/11) lalu.

ya, sejak semalam sebelumnya saya memang berusaha mereka-reka, bila saya tidak jadi wartawan, lantas saya menjadi apa. penulis? itu yang paling dekat dengan wartawan, yaitu sama-sama menulis. atau, menjadi PR? ya, karena itu adalah lingkaran paling dekat dengan wartawan. apa lagi ya?

menulis adalah keahlian, sementara wartawan adalah salah satu bidang pekerjaan yang membutuhkan keahlian menulis. saya bisa menulis, ya, sejak saya berumur 12 tahun saya mulai menulis untuk media massa cetak. menjadi wartawan, adalah salah satu keinginan saya. tetapi, apa jadinya kalau saya memutuskan resign dari kantor tempat saya bekerja, dan mencoba pekerjaan lain?

“kamu biasa berhubungan dengan direksi di perusahaan besar. kamu biasa bertanya dengan leluasa pada mereka tentang banyak hal. apa kamu mau tiba-tiba menjadi salah satu karyawan mereka di posisi yang paling bawah yang levelnya sangat bawah? bertemu dengan direksi, bisa jadi itu tidak terjadi lagi …”

“menjadi wartawan itu adalah kamu menjadi tuan bagi dirimu sendiri. kamu bisa menentukan tulisan seperti apa yang hendk kamu tulis. kamu bisa menentukan angle dan memilih sumber. kamu bisa memastikan sendiri topik tulisan. kamu bikin janji sendiri dengan direksi itu. bahkan, kamu bisa menjamu mereka dan ngobrol banyak hal dengan mereka. kalau kamu tidak menjadi wartawan, kamu mau diatur-atur sama orang lain, sementara kamu biasa mengatur diri kamu s endiri … ”

obrolan itu tidak ada habisnya.

“kalau ada pekerjaan yang lebih enak dari wartawan, tentunya aku sudah keluar sejak dulu dan berhenti menjadi wartawan.”

“aku merasakan betul kok bagaimana menjadi orang kantoran. nggak enak … enakan menjadi wartawan. kamu bisa mengatur segala sesuatu menurut kamu sendiri …”

“menjadi wartawan itu nggak mengikat kamu. kamu leluasa … ”

“coba fem, memangnya kalau tidak menjadi wartawan, kamu mau jadi apa? banyak terjadi, wartawan keluar dari kantornya, dan beralih ke kantor lain, tetapi tetap jadi wartawan …”

iya, iya.

saya tidak akan menggadaikan keleluasaan saya. saya juga tidak akan membagi rasa menjadi-tuan-bagi-diri-sendiri pada orang lain. saya tahu di luar sana banyak sekali godaan. tetapi saya lebih tahu, saya menyukai pekerjaan ini dan saya tidak akan menanggalkan kemampuan menulis saya. karena … tidak ada mantan penulis, bukan?

(ps: mas ncis dan mas hasbi, sejak usia 12 tahun saya menanti untuk menjadi wartawan. sejak masih berseragam putih-biru saya juga menunggu-nunggu bagaimana rasanya bertemu dengan banyak orang, pindah darisatu angkutan ke angkutan lain seperti yang biasa saya lihat di ruang redaksi harian di jogja. sejak saya berusia 18 tahun, saya bahkan sudah memesan satu meja dan kursi di sebuah ruang redaksi harian. dan di usia 23 tahun saya sudah bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi wartawan. tahu tidak, bagaimana rasanya? mmm … ah, kalian kan juga merasakannya bukan? coba, bagaimana rasanya?)

Written by femi adi soempeno

November 19, 2006 at 7:55 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: