The red femi

Gasing dan masa kecil

with one comment

p1090050.JPG

 namanya nining. usianya terpaut sekitar 3 tahun dengan saya.

ia adalah mahasiswa IKJ yang menggarap pameran gasing nusantara 2006 di menteng huis. saat tahu saya sedang mengamat-amati salah saju jenis permainan rakyat ini, ia kemudian mendekati saya dan berceloteh riang tentang beragam gasing yang ada di tanah air.

saya jadi ingat bagaimana saya bermain gasing dulu, semasa saya kecil. awalnya, saya sering ‘dikudang’ oleh oom-oom, tante-tante dan para pegawai yang ada di rumah nenek saat itu dengan putaran tutup gelas. iya, tutup gelas itu ditengadahkan (terbalik) dan diputar sehingga menciptakan tutup-gelas-pusing. hehe … maklum, perputarannya sangat cepat sekali, saya pernah membayangkan: kalau dia punya simpul2 syaraf, pasti akan merasa pusing sekali.

gasing yang mencirikan jogja saya kenal kemudian. dulu saya bermain di halaman belakang rumah nenek. ia berasal dari potongan bambu yang diberi bilah bambu yang menyerupai pensil di kedua ujungnya. kemudian, bilah gasing itu dililiti dengan tali nilon, dan ditarik dengan kencang. lantaran potongan bambu itu ada lubangnya, maka gasing itu mengeluarkan suara yang nyaring. nnnggguuuunnnggg … setahu saya, tidak ada gasing yang memiliki bunyi yang sama. dus, setiap putaran gasing dari ukuran gasing yang berbeda dengan diameter bambu yang berbeda dan panjang bambu yang berbeda pula maka akan menghasilkan suara yang berbeda.

p1090008.JPG p1090026.JPG p1090044.JPG

 p1090009.JPG p1090015.JPG

saya baru tahu hari ini bahwa ternyata kota-kota lain di Indonesia juga punya gasing yang beragam. Bali, Bangka Belitung, Pontianak, Bandung, Ambon, Padang, Sumatera … adalah kantong-kantong permainan rakyat yang super jadul ini. konon, setiap kota pun memiliki suhu, tetua atau sesepuh yang dikenal lihai memainkan permainan gasing ini. misalnya saja, memainkan di atas tangan yang bisa disetel hingga naik ke wajah.

memainkan gasing, sesungguhnya bukan hanya sekadar menyentakkan atau menarik tali yang dililitkan pada badan gasing hingga menimbulkan putaran yang supercepat. ada filosofi lain yang bisa diambil dari permainan lawas ini, yaitu tentang keseimbangan kehidupan. tengok saja. bila gasing itu kehilangan kekuatan-keseimbangannya, maka ia akan berhenti, bahkan terpelintir dengan sempurna.

ada beragam kisah tentang gasing nusantara ini. sayangnya, gasing kini tak begitu dikenal sebagai permainan rakyat Indonesia yang begitu mendunia. sahibul kisah, para pendeta Budha dari Korea jatuh hati dengan permainan ini, lalu mengusung gasing dari Sumatera sebagai cinderamata. tak mandek di Korea saja, mereka bahkan meneruskannya kepada kaisar Jepang sebagai buah tangan. seiring perkembangan waktu, gasing ini kemudian menginspirasi permainan bey-blade.

(lagi-lagi) Malaysia juga mengklaim bahwa gasing ini adalah permainan tradisional mereka. lebih serius ketimbang pemerintah Indonesia, konon mereka justru mengembangkannya dan menambah gasing yang diangkut dari Indonesia sebagai aset budaya Malaysia. —–ggggrrrrrrhhhh !!!!—– bahkan, saking seriusnya, mereka membikin stadion khusus untuk permainan gasing dan membuat kompetisi gasing se Malaysia. event ini berlangsung setiap tahun. kalau tidak salah ingat, sekumpulan penggemar permainan gasing di Tiongkok sana malah berencana meramaikan pembukaan Olimpiade Beijing tahun 2008 dengan gasing.

p1090040.JPG p1090048.JPG

bagaimana dengan indonesia?

mencermati satu demi satu desain gasing yang dipamerkan di menteng huis, agaknya pemerintah indonesia harus berterima kasih pada endi aras yang mengkoleksi gasing, ditambah dengan bank data dari depdiknas. sayangnya, permainan rakyat ini masih kalah tenar dengan game-game yang serba-cyber dan super-modern. padahal, dulu, masyarakat Bali justru memaikannya saat musim panen padi, bukan sekadar untuk permainan tetapi juga untuk olahraga dan prestise. 

ayo, kita bermain gasing. melihat puluhan gasing yang dipamerkan di menteng huis, saya jadi rindu pada masa kecil saya.     

Written by femi adi soempeno

December 3, 2006 at 11:32 am

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Fe, lama aku juga gak lait gangsing. Rasanya pengen melipat waktu dan masuk ke masa kecil lagi. Btw, sekian lama di Jakarta, aku sadar bahwa sudah lama aku tidak melihat hal-hal yang dulu sering aku jumpai. Misalnya, telek lencung (kotoran ayam), kunang-kunang, cablak, ayam alas, kwawung, kutis, ulet kilan, dsb. hue he he…sekian lama berjalan, ada hal-hal yang lupa keinget…

    peziarah muda

    December 5, 2006 at 10:15 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: