The red femi

Saya kehabisan energi

leave a comment »

kalian pernah kehabisan energi?
 
saya selalu merasa menjadi orang yang memiliki sumber energi yang cukup besar. jadi, di prok-prok pun nggak akan merasa patah pinggang. pagi liputan, seharian di jalanan, masuk kantor badan bau matahari, malam menulis. atau, seharian di kantor, wawancara dengan lebih dari lima sumber, transkrip, dan malamnya pulang ke jogja. atau, pagi riset, siang menulis, malam menulis yang lain hingga keesokan pagi. paginya, berangkat ke luar kota untuk liputan yang lain. 
 
saya sangat percaya, semua itu karena saya masih muda, dan karena ada penyulutnya. bekerja sebagai wartawan, penyulutnya adalah karena saya menyukai pekerjaan ini. dus, tak ada alasan “aku bosan …”. sama halnya saat saya harus pulang di ujung minggu. ya, karena ada ayah di rumah. tetapi memang sejak saya kecil, energi ini rasanya tak pernah habis digunakan seharian. barangkali kalian pernah mendengar ujaran seperti ini: “bocah kok ra duwe wudel …” ya, karena nggak pernah merasa capek itu.
 
tapi saat ini aku merasa saya kehabisan energi.
 
belum selesai pekerjaan anu, saya sudah capek. sementara itu, saya juga harus menyelesaikan pekerjaan anu lainnya. yang ini belum menemui penghujung paragraf, saya sudah dihadang oleh pekerjaan anu lain lagi. begitu seterusnya, bergulir dengan sempurna. meski begitu, kadang saya masih merasa saya adalah perempuan yang multi tasker. bisa mengerjakan segala sesuatu bebarengan.
 
contohnya, saya masih menggarap kumpulan cerpen saat saya memulai membikin novel. kumpulan cerpen dan novel belum usai, tawaran kolaborasi menulis dengan teman berdua sudah ada di depan mata. sementara itu, tawaran dari Kanisius untuk membikin buku berseri juga terabaikan. karena kehabisan energi, saya belum berani memlulai mengerjakan yang terakhir ini. dan, aku masih harus menyelesaikan dua tulisan setiap minggu untuk KONTAN, ditambah piket dan edisi khusus.
 
energi itu datang dari mana ya? andai aku bisa mengasupnya setiap saat. 
 
saya kemudian berusaha mengingat-ingat, apa yang membuatku merasa tak pernah kehabisan energi, dulu. demonstrasi ’98, menulis untuk Bernas, sekolah harus ranking satu. energi terasup begitu saja. barangkali, energi itu datang dari rasa bahagia. setidaknya, enjoy dengan beragam pekerjaan yang memang harus dibereskan dalam waktu yang hampir bersamaan. tetapi, apa itu artinya aku sekarang tidak enjoy? hmmmh … nggak juga. kalau begitu, tesis ku itu salah doong! atau, energi itu datang dari uang? hmmmh … dulu atau sekarang, dompetku ya begitu-begitu saja. ada isinya walau nggak berlebih. dengan begitu, uang bukan sumber energi utama. jangan-jangan energi itu datang dari suasana di sekitar kita. hmmh. iya juga sih. dulu ayah dan ibu saya memberi keleluasaan 100% buat saya. menulis, berdemonstrasi sembari bersekolah bukanlah hal yang tabu buat saya. tetapi suasana di sekitarku saat ini well-well saja. pressure dari redaktur nyaris tidak ada. pemred juga tidak otoriter. kantor juga tak pernah melarang saya bekerja overtime di kantor. saya juga bisa menulis dengan nyaman di kos, meski kegerahan.
 
mmmm … atau, energi itu datang dari waktu? iya, waktu yang luang dan longgar tanpa deadline yang menyiksa. waktu yang memberi kita banyak kesempatan untuk bereksplorasi banyak hal. waktu yang tak terbatas. iya. saya sudah menemukan satu jawabannya. artinya, bisa jadi 24 jam adalah waktu yang tak terlalu cukup buat saya. tetapi … bagaimana ya. sedangkan setelan tubuhku  hanya didesain untuk 24 jam saja. bekerja overtime, tetap saja tak bisa melebihi 24 jam sehari. waktu yang terburu-buru ini yang membuat saya merasa energi habis terkuras. 
 
jadi, sesungguhnya saya butuh lebih dari 24 jam sehari untuk menyelesaikan semua pekerjaan saya. sayangnya, saya nggak bisa merevisi cetak biru milik Tuhan yang sudah dihibahkan untuk saya.

(ps: masih ingat klip Super Mum? perempuan muda yang melakukan segala aktivitas –menyopir, mengganti popok, memasak, menulis email dll— dengan kedua kakinya saja. iya, Tuhan tidak memberi sepasang tangan untuknya. jadi, ia hanya bisa mengandalkan kedua kakinya saja. tapi dia tidak pernah menanggalkan rasa syukur atas apa yang dimilikinya. sebaliknya, ia tak pernah kehabisan energi untuk meladeni seisi keluarganya. kunto, teman saya, berujar pendek, “kalau kamu kehabisan energi, coba, melihat klip itu!”)
 

Written by femi adi soempeno

December 12, 2006 at 6:52 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: