The red femi

Menjaring mimpi

leave a comment »

harusnya sore sudah memulaskan jingganya. jam dinding di sudut ruang redaksi sudah menunjukkan pukul 16.30.

tetapi rupanya senja sedang enggan bertugas. malas? tak bergairah? weh … padahal saya menanti senja yang cantik dari pinggir kubikel ini. biasanya, bola api di sore hari itu memendarkan cahayanya yang bisa dinikmati dari pinggir jendela ini. kemudian saya akan tertegun sejenak, sembari menyeruput dilmah tea tanpa gula di cawan kecil. setelahnya, saya menjaring mimpi tentang banyak hal. pekarangan rumah yang bersih. baju yang tergantung sempurna. kaus kaki santa klaus terisi kado mungil. tidur di kasur nan empuk. liburan akhir tahun. menyobek kalender menjelang pergantian tahun. dan … berharap pangeran diatas kuda putih itu datang.

tetapi tidak sore ini.

berhubung senja sedang malas bertugas, jadi dilmah tea teronggok di atas meja, berbaur dengan sekotak kartu nama, dompet berisi kocek yang lumayan tebal, tiket JIFFEST yang kadaluarsa, kresek plastik yang bebentuk bola-bola, jepit rambut berwarna merah jambu, setoples kecil kopi hitam jack daniels, dan masih banyak lagi. tampaknya keruwetan tengah ada di meja saya.

saya juga sedang tak ingin menjaring mimpi. saya tak butuh tidur di kasur nan empuk. saya tak butuh pekarangan rumah yang bersih. saya tak mengharuskan baju tergantung dengan sempurna. saya tak berharap santa klaus mengisi kaus kakinya dengan kado untuk saya. bahkan, saya tak lagi berharap pangeran diatas kuda putih itu datang.

saya hanya ingin pekerjaan ini cepat selesai.

belajar menulis cerpen.

novel perjalanan 512 km jakarta-jogja.

duet menulis dengan teman lama.

usai kehabisan napas karena keletihan menulis, saya masih berusaha mengumpulkan remah-remah energi. remah-remah itu datang dari secangkir dilmah tea —yang dituduhkan sebagai teh yang saya curi dari hotel (oh my god!). dari telepon abang. dari bocoran kado natal untuk saya. dari penugasan yang tak banyak (banyak sih sesungguhnya, tetapi bisa saya kerjakan dengan segera!). dari boneka kodok dan teddy di kamar. dari lelaki dengan huruf L. dari mimpi gajah berkuping satu. dari goda ‘kiu-kiu’. dari …

saya ingin mengatupkan mata sejenak. sejenak saja. saya ingin menjaring mimpi. tanpa senja. tanpa sore dari pinggir kubikel. hanya dari kursi hijau di kubikel saya.  

Written by femi adi soempeno

December 15, 2006 at 9:49 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: