The red femi

Sabtu ini milik saya

leave a comment »

bangun pagi, badan saya ada di kasur, bersama dengan dua kerabat dekat, deon dan dodit.

usai liputan semalaman, saya sengaja menumpang merebahkan badan di radio dalam. rencananya, pagi ini saya bertemu janji dengan teman saya yang baru tiba dari kamboja. dua kasur pun di share untuk tiga orang: saya, dodid dan deon. umpek-umpekan. tetapi agaknya saya bangun dengan ‘selamat’ pagi tadi. saya jumpai pesan pendek di ponsel, janji temu denga teman dibatalkan.  

meski kesal, toh pagi ini saya memiliki pagi yang sempurna. martabak manis terhidang di kardus, sengaja disiapkan dodid untuk kami bertiga. usai mandi dan buru-buru merampungkan satu keping film dokumenter palsu, saya dan deon beranjak meninggalkan rumah. semnetara, dodid sudah mendahului kami.

tapi pertengkaran kecil itu terjadi. soal makan. soal menu sarapan. soal tujuan roda dua. eh, bukan pertengkaran, hanya gojegan kecil soal sarapan soto nan lezat di blok m.

kami berpish saat langit biru bersih. saya memilih untuk menumpang transjakarta hingga glodok, dan deon berkendara sendiri ke senayan. dan, saya mengubek-ubek satu demi satu lapak di glodok. menjemput satu-dua keping kepsibo, tiga keping asli film indonesia dan sebelas film asing bajakan. hasilnya? kantong saya agak mengempis.

kaki ini belum letih. saya mengandalkan transjakarta untuk mengantarkan saya hingga ke plaza semanggi. membungkus topi. keranjang rotan untuk wadah pakaian, vitamin, buku-buku politik.

tak lama, mas pringgo menjemput. perbincangan kami tak pernah berbeda: politik-komunisme-bisnis-mimpi masa depan-kubu-pemilihan bupati 2008-keluarga-kuda-isu hangat indonesia-kesibukan saat ini. mas pringgo … hmmh … saya tak cukup bisa menjalin aksara mengenai lelaki yang usianya tak terpaut jauh dengan kakak laki-laki saya. iya, dia adalah sahabat-kerabat-saudara yang senasib sebagai anak yang harus menanggung kekeliruan negeri ini.

senja sudah lewat. bahkan, hampir mendekati jam pulang kos.

tiba-tiba abang menelpon. wah. satu temu janji lagi dibikin. berjejalin. membagi gelak. mengiris lintang malam. second floor, kemang.

“first drink, tequila, for ladies …” ujar lelaki berkaos hijau. “tapi minumnya harus di meja bar!” waks. one shoot. langsung teguk. strike. hmmh … rasanya? saya menggelengkan kepala. “bad!”

meja bundar itu kemudian terisi cis, mbakyu, mas edi, deon, hendra, johny dan saya. kami berbagi banyak hal. tentang rating televisi. tentang koran. tentang Jogja. tentang telepon yang tak pernah diangkat. tentang masa-masa pertama masuk krja. tentang hidup yang kian meningkahi kami. semakin larut, kepala kami tergeleng semakin sempurna saat dua perempuan muda berjingkrak menjejak malam. diatas meja. berjalan sepanjang lorong. menggoyang badan. berteriak kecil. keriaannya seperti tak bisa tanggal.

satu pitcher. dua pitcher. tiga pitcher. empat pitcher. lima pitcher. heineken.

sabtu ini milik saya. iya. sabtu ini milik saya!

Written by femi adi soempeno

December 16, 2006 at 12:49 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: