The red femi

Senyum abang

leave a comment »

senyum abang menutup malam.

coba lihat ke atas. gelap dan tak ada satu terang pun muncul dari kejauhan. mungkin, seperti itu ya hatimu saat ini, bang. pendarannya sedang tanggal. cahayanya bersembunyi. kamu jangan murung ya, bang.

kalau saya bisa mendatangkan bulan, pasti akan kudatangkan untuk mengganti bintang. sore tadi, sebenarnya saya sudah memesan satu bintang buatmu. biar ada garis lengkung yang tercipta dari bibirmu. saya sudah menelpon. saya sudah mengirim faks. saya sudah mengirim email. tujuannya sama: agarsi pemilik gulita tak lalai dengan bintangnya.

saya juga sudah membungkuskan beberapa buah senyum dan satu toples rasa bahagia buat abang. saya juga tak lupa mengusungnya ke bawah, saat abang menjemput tadi. mmm … memangnya abang taruh dimana tadi, kok senyum dan rasa bahagia itu belum tertempel dengan sempurna?

saya ingin abang tersenyum. sedikit saja. biar letih dan capainya terusir sejenak. bukankah abang-abangnya femi dua puluh satu kali lebih tampandi belakang sunggingan bibir?

lain kali saya bertandang lagi. tanpa jemputan dan antaran. eniwei, terima kasih. senyum abang sudah menutup malam.

Written by femi adi soempeno

December 17, 2006 at 7:58 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: