The red femi

Natal 2006: s e p i

with 2 comments

masuk rumah, mengunci pintu, megambil remote teve, nonton mrs doubtfire.

jogja masih dingin saat saya menggenjot kendaraan saya ke rumah, usai pulang dari gereja. di rumah sepi. hanya saya sendiri. sendiri. sendiri. sendiri. pohon natal masih berkedip genit, menggoda. sementara, tumpukan kado natal masih tak terjamah. di belakang saya, pigura hitam gelap menemani saya. potongan persegi untuk wadah potret berukuran 4R itu masing-masing ada tulisan MOM dan DAD. “Selamat natal, ibu. merry christmas dad,” bisik saya persis di depan foto mereka. saya buru-buru berkirim pesan pendek untuk kakak saya: selamat natal. i miss u, my beloved sist.

begini ya rasanya natal s e n d i r i.

saya berniat membuka satu botol wine merah. rasanya, momen seperti ini pas untuk berbagi hangat. tapi, saya berbagi dengan siapa ya? saya lagi ogah menggelongong wine sebotol sendirian. apa enaknya gitu lowh! dus, saya hanya minum jus apel saja, ditemani dengan kacang mete dan tontonan televisi yang tak asik. sesungguhnya ada temu janji dengan teman untuk menendang satu-dua pitcher beer di kinoki. tapi, dia urung datang.

begini ya rasanya natal s e n d i r i.

sepertinya fragmen itu satu per satu bergerak kembali.

pas memasuki gereja tadi, rasanya ada yang ‘hilang’. “ayah, tahun lalu kita duduk di sebelah situ!” batin saya sambil melongok ke teras kiri gerja. iya, di sebelah agak luar itu saya dan ayah duduk. kami senaja memilih diluar agar tidak kegerahan. maklum, musim hujan kadang mengundang hawa gerah yang tak menyenangkan. sata berlutut dan berdoa, saya menyelipkan sekarung kata untuk ayah dan ibu, “semoga ayah dan ibu ikut merayakan natal disana …”

begini ya rasanya natal s e n d i r i.

siang tadi saya membungkus dua buket bunga untuk ayah dan ibu. dua buket bunga mawar merah. mawar tanda cinta? pasti. pasti. pasti. kalau saya membungkus mawar merah, itu pasti untuk ayah dan ibu. bukan untuk yang lainnya. saya juga meronce dua bulatan asesoris natal yang biasanya digantung di pohon natal, tulisan merry christmas dan santa claus maupun bintang. saya meletakkan masing-masing satu bundel asesoris itu di atas rumah ayah dan ibu. sesudahnya, saya menangis lama. lama sekali.

begini ya rasanya natal s e n d i r i.

sesungguhnya, saya sudah bisa menebak-nebak apa yang akan terjadi pada natal ini. dan ketakutan saya berujung pada kebenaran. saya k e s e p i a n. natal tanpa ayah, tanpa ibu, tanpa kakak. si bungsu sendiri. kalau kalian ada yang berteriak, “emang enaaaaakkkk ??” jelas, tidak ada yang enak dari sebuah rasa sendiri. tak percaya? coba saja …

Written by femi adi soempeno

December 24, 2006 at 8:12 am

Posted in Uncategorized

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. hangaturaken sugeng natal ugi warso enggal 2007.. mugi-mugi sedoyo tansah pinaringan berkah saking kang gunging dumadi…

    mawot

    December 28, 2006 at 4:15 am

  2. …kadang dalam sepotong kesendirian, aku justru merasakan ternyata banyak orang sesungguhnya mencintaiku & aku sadar bahwa tidak banyak orang yang sungguh saya cintai…

    peziarah muda

    December 28, 2006 at 5:24 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: