The red femi

5 … 4 … 3 … 2 … 1 … 2007!

with 3 comments

2007

Menjelang pergantian tahun, perasaan saya selalu seperti ini. Carut-marut.

Seperti yang sudah-sudah, saya selalu merevisi cetak biru hidup saya. dus, saya bisa merencanakan apa yang harus saya lakukan tahun depan. tak muluk-muluk kok. Belakangan, saya mulai merasai hidup yang sangat berharga dan sangat pendek ini. apalagi, tahun ini saya mendapat pukulan telak dari si pemberi hidup: menjadi 26 tahun dan tak punya ayah ibu lagi.

Saya sadari, tahun 2006 ini beberapa kali saya gamang dengan apa yang saya lakoni. Yups. Ini soal pekerjaan. Pertanyaan yang selalu saya lontarkan pada mereka: “kalau tidak menjadi wartawan, lalu menjadi apa?” atau, “kenapa dulu ingin menjadi wartawan?” atau, “apakah wartawan punya masa depan yang baik?”

Tapi saya tahu betul, talenta-anugerah-bakat-kemampuan-kelebihan yang saya miliki ada pada kedua tangan saya dan kesepuluh jari saya, yaitu menulis. Empat belas tahun saya menulis. Yah, empat belas tahun. Bahkan, sejak empat belas tahun sialm, saya sudah memimpikan untuk menjadi wartawan. Saat impian itu sudah ada di tangan, saya sendiri jadi heran, kenapa saya masih melontarkan pertanyaan seperti itu. mmm … atau, mestinya saya punya pertanyaan susulan: “begini rasanya jadi wartawan. So what …?”

Hehe …

Tidak. tidak. tidak. saya tidak akan mengingkari semangat menulis saya yang sepuluh kali lipat lebih besar ketimbang teman-teman saya yang lain. menjadi wartawan, bagi sebagian dari mereka, bisa jadi adalah ‘pekerjaan yang ada di depan mata’. Sementara, saya sebaliknya. menjadi wartawan, adalah ‘pekerjaan yang sudah sejak lama saya idamkan’.

Terimakasih Tuhan, atas melimpahnya berkah ini untuk saya. atas dukungan dari orang-orang di sekitar saya agar saya terus menulis, dan terus menulis. Menjaga untuk menjadi ‘femi yang menulis’ tentu saja saya masih membutuhkan dukungan mereka di tahun 2007.

life-plan.jpg

Saya harus ‘merealisasikan beberapa program yang tertunda’. hallah … maksut saya, saya harus lebih serius lagi mengotak-atik bahasa tulis saya agar luwes menulis novel. Saya juga harus lebih gigih membikin ide-ide baru untuk kumpulan cerita pendek saya. saya akan mencanangkan tahun 2007 sebagai ‘tahun buku femi’.

Ajang coba-coba beasiswa saya di tahun ini agaknya gagal. Saya mulai menebak-nebak. Apa peruntungan saya kurang besar ya? tak seperti kakak saya yang sekali daftar langsung diterima. Hehe … tapi, apapun yang Dia berikan untuk saya saat ini, saya tetap mensyukurinya. Semoga di tahun babi, saya punya kesempatan yang lebih besar untuk melemparkan dadu di meja judi, alias menjajal peruntungan untuk memburu master sekaligus mister di negeri kangoroo.

Dua puluh enam tahun sudah ayah dan ibu berkolaborasi untuk membentuk saya menjadi perempuan muda yang mandiri, tangguh, pantang menyerah, ceria, nerimo, berkualitas, sensitif, … dan masih banyak lagi. Terima kasih ya be, terima kasih ibu. Dan sudah enam bulan terakhir ini saya sungguh-sungguh menjalani kehidupan yang mensyaratkan semua itu. hidup tanpa ayah. tanpa ibu. Tanpa kakak. Thanks gosh. Meski masih tertatih, saya harap di tahun 2007 saya menjadi anak ayah dan ibu yang layak untuk menjalani tes yang bernama h i d u p.

Tahun ini memang tahunnya ayah. enam bulan menderita kesakitan, dan sesudahnya dijemput ibu untuk bersama-sama kembali. aha. Hanya enam tahun ayah berpisah dengan ibu. Ayah, boleh ikut tidak? Ayah, boleh ikut tidak? Ayah, boleh ikut tidak? Ayah, boleh ikut tidak? Ayah, boleh ikut tidak? Ayah, boleh ikut tidak? gabung. Gabung. Gabung. Saya pernah meminta pemilik hidup untuk ikut serta bersama mereka, sesaat setelah kepergian ayah. saya menangis ditengah keinginan yang besar. Rupanya, saya masih harus mengurus kebun ayah. saya juga masih harus menambal rumah ayah yang bocor. Dus, saya belum boleh ikut ayah.

Kepergian ayah memang membuat psikologis saya guncang. Mmm … seperti bumi yang menari, empat hari sebelum ayah meninggal. Tak ada yang tahu. Bahkan, kalian juga tak ada yang tahu kan? Barangkali, hingga saat ini, belum ada senyum yang paling tulus yang saya buncahkan bagi orang-orang di sekeliling saya. maafkan saya. tetapi, memang begitu adanya.

Semoga, ayah semakin bahagia di tahun 2007, bersama dengan ibu, mbahkung, mbahti, bulik rus … semoga kedamaian senantiasa menyertai kalian. Tenang ayah, jangan risau dengan kebun ayah. si bungsu mengurusinya dengan penuh ketulusan.

Tahun depan, saya berharap masih bisa mencoretkan jingga dari pinggir teras starbucks plasa senayan. Mmm, tak disana juga tak apa-apa. Misalnya, di rumah petak milik aan. Aduh, sempitnya! Atau, mewujudkan ngiras tengkleng di fatmawati. Bersama dengan aan, deon, hendra, bimo, mawot, mas adi, shoan, cis, komang, richard … lebih dari sekadar teman bahkan sahabat, kalian adalah keceriaan saya, kalian adalah bola raksasa keemasan di sore hari, kalian adalah seuntai doa, kalian adalah gelak dan isak tangis, kalian ada hari-hari bagi saya. terima kasih untuk jejalin yang terus terangkai hingga saat ini.

Semoga, tahun 2007 senantiasa memberi keberuntungan bagi saya, femi adi soempeno. Ooops … pasti, semoga tahun 2007 juga senantiasa memberi keberuntungan bagi kalian. Selamat tahun baru. selamat tahun 2007.

Written by femi adi soempeno

January 1, 2007 at 11:07 pm

Posted in Uncategorized

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Fe, tahu gak kalau setiap menyalakan komputer kantorku, jemariku tak pernah alpa mengklik “the red femi” di mesin google. Lah, kenapa google? Karna alamat blogmu susah nyanthol di memori atau history komputerku.

    Fe, membaca jejakmu di 2006 dan mimpimu di 2007, aku semakin menyadari hidup itu penuh kelucuan, parodi, di samping luka dan tragedi. Tapi, ada satu hal yang mirip yang juga menjadi ‘targetku’ di 2007, yakni melahirkan buku.

    Fe, lawan hidup bukanlah kematian, melainkan kerentaan jiwa. Duh, kata-kata Simone de Beauvoir yang membuatku terjaga dan mendorongku mengirimkannya ke ponsel para sahabat pada malam Tahun Baru lalu.

    Fe, selamat meneruskan perjalananmu di hari-hari yang baru. Kamu memang belum dibolehkan mengikuti ayah dan ibumu. Dunia sedang menantikan buku-bukumu…

    peziarah muda

    January 2, 2007 at 7:00 am

  2. […] sudah selesai. secuil cita-cita dalam cetak biru 2007 sudah saya beri tanda centang. tapi, cita-cita lain masih […]

    well done. « The red femi

    February 7, 2007 at 2:21 pm

  3. […] sudah selesai. secuil cita-cita dalam cetak biru 2007 sudah saya beri tanda centang. tapi, cita-cita lain masih […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: