The red femi

F, Fe, Fem, atau Femi?

with 3 comments

ada ungkapan klasik yang kerap disitir oleh banyak orang: apalah arti sebuah nama.

bagi saya, sebuah nama adalah hal penting. setidaknya, itu yang paling dekat untuk melabeli sosok orang. lelaki jangkung bertubuh tinggi besar dan berkulit putih dengan rambut lurus sebahu itu saya panggil hendra. lelaki berjambang rata dengan perawakan yang sedang dan perut yang menyembul sedikit keluar itu saya panggil aan. lelaki tinggi atletis berambut belah tengah lurus dengan senyum yang selalu mengembang dan aksen jawa yang sangat kental itu saya panggil paimun. lelaki bertubuh tambun dengan hidung seperti jambu mete dan murah senyum dengan suara yang empuk didengar itu saya panggil dimas.

dus, perempuan berkacamata tebal dengan tubuh yang kian menambun dan betah berlama-lama didepan komputer itu kerap dipanggil femi.

memang begitu nama saya. banyak yang menebak, saya lahir di bulan februari. padahal, saya muncul pada bulan april. penamaan femi oleh kedua orang tua saya adalah karena saya perempuan dan diharapkan menjadi perempuan nan feminin, sekaligus berada diurutan ke enam, persis huruf F yang ada di urutan keenam setelah huruf A, B, C, D dan E. dari enam bersaudara, saya memang anak keenam. itu sebabnya, ayah saya menamai saya dengan huruf depan F.

sejak kecil saya tak pernah mengubah nama panggilan saya. selalu femi. berbeda dengan kakak saya yang kemudian mengubah nama panggilan yayuk menjadi esti. nama femi sudah cukup pendek dan tak pasaran. itu sebabnya, dari dulu teman-teman memanggil saya femi.

suatu hari, seorang teman di pergerakan menulis email pada saya dengan kalimat pembuka Dear F.  dia juga menyingkat namanya menjadi P saja. ia mencomot huruf depan nama saya. dalam beberapa kali menyebut nama panggilan, si P ini juga memanggil saya dengan sebutan F saja.

tak banyak teman yang menyebut nama saya dari suku kata terakhir, yaitu Mi. hehe … kocak juga kalau dipanggil seperti itu. saya bukan mi godog, mi goreng, atau mi magelangan.  saya femi.

sebagai gantinya, 90% teman saya memanggil saya dengan fem. misalnya mengetik email dengan mengawalinya Fem, … atau, bahkan memanggil dari kejauhan dengan meneriakkan, “Fem … Femi!”

hampir semua lelaki yang sempat berkongsi dalam urusan hati bersama saya, memanggil saya dengan sebutan Fe. mereka tidak berkencan dan membikin kesepakatan untuk memanggil demikian. nama itu lahir begitu saja. Fe. Fe. Fe.

lelaki berbadan chubby dan setiap hari berkoar-koar di radio tempat ia mengisi hidup dan hingga kini masih saya panggil dengan sebutan ‘hunn’ itu memanggil saya dengan sebutan hangat Fe. dalam setiap emailnya, dalam setiap ujaran dan bisikan yang menyesaki kuping saya, dalam setiap pesan pendek di ponselnya, dalam setiap kemarahan dan keseriusannya, penggalan nama femi itu tak pernah hilang. “Eh … kamu Fe, pa kabar?”

lelaki yang pernah mencuri bibir saya dalam kegelapan, juga memanggil saya dengan penggalan pendek itu. “Fe, kapan sekolahnya?” dalam keseharian, dia yang bagai abang saya tak pernah menggenapi penggalan itu menjadi utuh menjadi sebuah Femi.

kamu, iya, kamu yang berbadan superjangkung … kamu juga memanggil saya dengan penggalan suku kata pertam kan? tapi dalam setiap tulisanmu, bukan Fe, tetapi Fay. kamu membikin saya bingung. mestinya kamu bikin nasi kuning untuk mengganti nama saya yang semula Femi atau Fe, menjadi Fay.

kemudian kamu, iya, kamu yang lagi duduk dengan telanjang dada itu. kemudian kamu, iya, nggak usah noleh-noleh begitu deh. kamu juga, yang ada di barisan paling belakang. dan juga kamu, iya, kamu, ya, ya, ya, kamu. kamu juga memanggil saya dengan sebutan Fe. kamu yang kini hanya bisa saya temui di pusara, juga memanggil saya dengan Fe saja.

satu-dua orang yang tak pernah tahu sejarah nama ‘Fe’, tiba-tiba mengejutkan saya dengan panggilan itu. saat saya bertanya padanya tentang panggilan yang sangat personal itu, jawabannya, “Soal panggilan ‘Fe’, ehmmm, lah namamu kan Femi, terus aku panggil Fe…emang kedengaran lebih asyik seh. Tapi, emang asyik dan indah getu loh. Apa aku harus mengubahnya?”

nama Fe menjadi sangat personal. sangat personal. mereka yang memanggil saya dengan sebutan ini memang tak pernah membikin konvensi sebelumnya. mlah, satu dengan yang lainnya tak saling mengenal. tapi jauh dari dasar jiwa saya membenarkan, mereka yang tak pernah berkencan dengan nama panggilan yang sangat personal ini, adalah orang-orang dalam rangkuman kisah yang berjejalin khusus dengan saya.

F, Fe, Fem, Femi, sesungguhnya sama saja. nama itu menunjuk pada perempuan berkacamata tebal dengan tubuh yang kian menambun dan betah berlama-lama didepan komputer.

Written by femi adi soempeno

January 7, 2007 at 6:45 am

Posted in Uncategorized

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Fe, eh Fem… gimana kalo aku panggilnya Pem? kayak embok donuty yang pangil aku Epa, gara2 ngga bis ucap huruf F.hheheh

    Ev

    eva

    January 9, 2007 at 7:44 am

  2. jadi kapan kita wisata kuliner bersama, fem?🙂

    ndoro kakung

    January 12, 2007 at 1:43 am

  3. Ngawuuur!!
    kalo Fe itu menunjuk pada perempuan dulu berkacamata, lahir di april juga, dengan tubuh yang kian menambun dan betah berlama-lama didepan novel setebal 10cm

    ooo..gitu to sejarahnya Fe??
    hue ke ke ke ke lagi ngopo bune?

    Uare

    January 12, 2007 at 2:19 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: